Memprivatisasi Garuda Indonesia

minggu lalu, penulis bertandang (bah, bertandang??!!) ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo buat sekedar beramah-tamah dengan Bapak A, seorang diplomat yang kebetulan adalah kolega Bapak saya..beliau bercerita tentang keluhan Bapak Z, seorang diplomat lainnya yang kebetulan hari itu baru kembali ke Tokyo dari tanah air..
Bapak Z kecewa karena walaupun duduk di business class Garuda Indonesia, beliau mendapati sandaran kursinya rusak, jadi kalo kita nyender, senderannya langsung miring ke belakang, padahal beliau mengaku gak mencet tombol buat nurunin sandaran..

saya merasa kekecewaan beliau adalah hal yang sangat wajar, perlu diingat bahwa tiket pulang pergi Jakarta-Tokyo kelas bisnis bisa dibilang lumayan mahal, sekitar US$1100.. dan sudah sewajarnya juga kalo beliau mulai ngecek2 harga penerbangan untuk rute yang sama pake Singapore Airlines atau Malaysian Airlines, yang walaupun sedikit lebih mahal menjanjikan pelayanan sempurna..

beberapa kalangan sudah sejak lama beranggapan kalo sudah saatnya pemerintah menyerahkan perusahaan Garuda Indonesia ke tangan swasta terkait dengan inkompetensi mereka untuk meningkatkan standard pelayanan Garuda.. sayangnya, usul2 seperti itu selalu ditolak mentah2 oleh pemerintah, padahal sudah menjadi trend global di negara2 di dunia untuk mem-privatisasi perusahaan penerbangan..

antonim dari privatisasi adalah nasionalisasi.. harga, kualitas, dan kuantitas produk, baik barang maupun jasa, dari industri2 yang dinasionalisasi sepenuhnya berada dalam kontrol pemerintah.. untuk Indonesia, mungkin contoh gampangnya adalah PLN, Pertamina, dan Garuda..

George Stigler, di Bell Journal of Economics and Management Science, berpendapat bahwa nasionalisasi industri2 tertentu bertujuan untuk correcting market failures, improving resource allocations, then raising national income.. perlu diakui kalo pemerintah sebenernya kompeten buat melakukan tiga peran itu..

sekitar tahun 1980an, negara2 Barat mulai melakukan privatisasi, khusunya terhadap industri2 yang berhubungan dengan telekomunikasi dan transportasi (termasuk penerbangan)..
menurut Takafusa Nakamura, seorang ekonom Jepang tahun 1980an, 3 hal yang dianggap sebagai faktor pendorong pemerintah untuk melakukan privatisasi adalah perkembangan teknologi, efek demonstrasi, dan kompetisi dan kerjasama internasional..

gw ngeliat kalo efek demonstrasi adalah faktor terkuat yang mendorong negara2 memprivatisasi perusahaan penerbangan.. setelah Amerika melakukannya di tahun 1983, dampak positif dari privatisasi perusahaan penerbangan telrihat jelas , munculnya perusahaan2 baru yang melayani rute2 domestik dan harga2 tiket turun secara signifikan..
Jerman dengan Luthfansa-nya dan Australia dengan perusahaan2 rute domestiknya dengan segera menyusul di tahun 1986, diikuti Inggris dengan British Airways dan Jepang dengan JAL di tahun 1987..

pihak yang menolak privatisasi juga punya alasan tersendiri.. di tahun 2000an ini, kita bisa ngeliat banyaaakk banget perusahaan swasta kecil2an yang melayani penerbangan rute2 domestik dengan harga2 yang agak miring.. rakyat yang kebetulan tak berduit seneng2 aja karena jadi bisa nyobain naek pesawat dan nyampe lebih cepet dengan harga yang tak terlalu mahal.. sayangnya, hal ini gak diimbangin ama peningkatan dari segi keamanan yang keliatan banget dari frekuensi kecelakaan pesawat yang makin meningkat..

kembali ke cerita di awal post ini, sebagai mahasiswa Indonesia, saya merasa punya kewajiban moral buat selalu make Garuda Indonesia pas pulang ke tanah air, dan agak miris ngeliat temen2 yang lebih milih make Singapore Airlines dan Cathay Pacific dengan alasan servis yang kurang sempurna dan keamanan..

gw secara pribadi gak ada komplain khusus ama Garuda, tapi mengingat saya bukan satu2nya pengguna pesawat ini dari Tokyo, termasuk banyak pengusaha2 Jepang, tentu pemerintah harus menaruh perhatian lebih dalam meningkatkan kualitas servisnya.. bayangkan betapa malunya kita kalo kejadian yang sama terjadi kepada pengusaha2 Jepang yang hendak melakukan investasi di Indonesia..
jika memang gak mampu, kasih saja ke swasta..

mana yang anda pilih?

(images taken from www.museumofflight.org)

This entry was posted on Wednesday, June 20th, 2007 at 6:20 am and is filed under Ekonomi, Indonesia, Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

18 Responses to “Memprivatisasi Garuda Indonesia”

  1. Icha Says:

    ya…. sekarnag ini kayak gitu deh.. penerbangan di indo…
    sering kecelakaan.. n mengecewakan…

  2. Tukang Ketik Says:

    good post

    saya juga (kadang2) nasionalis. Maunya barang lokal. Skalian membantu negara.

  3. triadi Says:

    privatisasi adalah modul dunia kapitalis, tapi tetep bisa diliat secara proporsional…

    sedangkan untuk hal-hal yang bersifat menguasai hajat hidup orang banyak, saya sih setuju untuk dinasionalisasi (dg catatan)

  4. Yuki Says:

    huhu, @triadi:
    well, itulah yang tertulis di UUD kita kan soal hajat2 hidup org banyak and stuffs..
    saya hanya mencoba memberi alternatif.. heheh..

    @all: thanks for the comments..

  5. Icha Says:

    jadi bikin orang ngeri kalo mau naek pesawat.. pesawat yang notabene aman aja kecelakaan… palagi yang biasa2… heheheheh

  6. adyani Says:

    wow. gak banyak orang yg gw tau yg naik garuda for the sake of nationalism.

    hmm. tiketnya mahal, gak comfortable, service kurang, sering ngaret, dan keamanan juga gak terjamin. nampak susah untuk tidak skeptis terhadap garuda..

  7. Yuki Says:

    @adyani:
    hahah, well Iam proud of being an Indonesian mbak, walopun kita sama2 tau udah ancur2an gak jelas kayak bgni.. toh tugas kita bukan mengkritik saja, tapi mendukung..

    well, garuda memang mahal dan pada akhirnya keamanannya pun diragukan, cuma membayangkan saya naik Singapore ato Malaysian dan duitnya lari ke kas mreka, gak deh mendingan..
    not to mention kalo duit tiket garuda kita mungkin lari ke tangan2 jahat.. haha..

    dan ya, itu masalah kewajiban moral saya saja.. setiap orang punya batasan2 moral yang berbeda kok..

  8. Vie Says:

    Wah harga ticket segitu kalo di canadian dollar-in, udah dapat ticket pp Toronto-Singapore yang ekonominya pake Northwest Airlines.

    Yuki, boleh ku link kan?
    (Boleh… boleh… silahkan mbak!), kujawab aja sendiri. Hehehe :)>-

  9. za Says:

    hmmmff….mang gitu lagi. selama ngerasain naek pesawat merk macem2… kok kl urusan bawa pesawatnya aku ga sreg ma Garuda… soalnya bener2 bikin jetlag :((

    hmm…mungkin menang di playanan makannya itu kali ya…???*ngawur mode on*

  10. heru Says:

    Setuju, kalau untuk penerbangan sekarang udah saatnya diprivatisasi, atau paling nggak jadikan perusahaan publik lewat penjualan di bursa saham besar - besaran.Karena apa yang sudah dimasuki oleh banyak pasar swasta, kembalikanlah kemarket.

  11. Didiet Says:

    harga ke tokyo mahal amiiitt, tak kira cuma 2000 perek(emang angkot), menurutku si manajemen garuda perlu di rombak total aja..mungkin aja dengan gitu masalh dapat teratasi

  12. mpokb Says:

    asal bukan badan usaha yg menangani bumi, air dan tanah, saya sih setuju2 aja dengan privatisasi. gawat kalo negara sudah tergadai..

  13. aroengbinang Says:

    di indonesia, privatisasi sayangnya identik dengan penjualan aset negara dengan harga murah, dan dengan cara yang sering kurang wajar.

    saya selalu berusaha menggunakan Garuda bukan semata karena nasionalis, tetapi hati ini tidak tega untuk menyumbang penerbangan tetangga sementara Garuda sedang membutuhkan dukungan.

    Jika ada hal yang kurang berkenan, saya anggap sebagai kontribusi dan subsidi kecil dari seorang warga, sambil tentunya mendorong perbaikan manajemen Garuda.

    Salam.

  14. A Yustiawan Says:

    privatisasi…? jangan-jangan nanti malah abis semua tuh yg milik negara….apa nggak lebih tepat kalau di adakan perombakan total aja jajaran manajemennya…ganti aja mereka dengan profesional2 atau mantan menteri dari singapore atau jepang yg terkenal jujur dan leadership-nya kuat…

  15. Audrey Cornu Says:

    Kalau menurut gw…
    Mendingan Garuda cari dan mengontrak konsultan penerbangan aja buat ngeberesin manajemennya yang kurang rapi… Kalo konsultan lokal ngga ada yang kompeten, yg asing juga gapapa. Buat introspeksi aja. Toh udah terbukti yang asing lebih oke kan?

    Setelah udah tau mesti ngapain, baru deh jalanin sendiri.

    Ngga harus jadi milik swasta sih sebenernya, tapi ngga bisa dibiarin kayak sekarang terus juga…

  16. Aura Rosena Says:

    Ngomongin soal pesawat, jadiinget berita baru-baru ini. Yaitu tentang Uni Eropa yang berencana melarang pesawat Indonesia beroperasi di wilayah Eropa akibat banyaknya kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia. Saya jadi miris sekali. :(

  17. Yuki Says:

    @aura:
    hooh, saya juga baca di the japan times, huhu, payah juga yah..

  18. woz Says:

    hehe telat komen

    saya gak ngerti ekonomi atau politik, tp stauku SIA mayoritas masih dimiliki oleh negara, entah dgn MAS sepertinya sudah bener2 privat.

Leave a Reply

 

Close
E-mail It