Cakalele dan Republik Maluku Selatan: Ketika Kesenian Disalahgunakan
CAKALELE.. itulah nama tarian perang ala maluku yang pada tanggal 29 Juni 2007 kemarin dipergunakan oleh 28 pemuda Maluku di depan Presiden kita yang terhormat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai manifestasi dari eksistensi Republik Maluku Selatan (RMS)..pada tanggal 29 Juni tersebut, Presiden SBY menghadiri acara Hari Keluarga Nasional yang diselenggarakan di Lapangan Merdeka, Ambon dalam rangka rekonsiliasi sosial..
tidak ada yang menyadari bahwa tarian cakalele ini bukanlah bagian dari rangkaian acara sampai Jeremias Saija, salah satu dari ke-28 penari, seperti yang dituturkan oleh harian KOMPAS, menyerukan “Keluarkan itu! Sebarkan ke tamu asing!“.. secara serentak, rekan2nya mengeluarkan selebaran2 berupa seruan makar kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), permintaan agar TNI dan Polri meninggalkan Maluku.. salah satu dari mereka bahkan mengeluarkan bendera RMS yang kontan memicu kemarahan Presiden kita..
tindakan semacam ini tentu merupakan tindakan perlawanan secara langsung terhadap NKRI, dan yang kena getahnya sudah pasti aparat keamanan yang bersiaga di sana untuk mengamankan jalannya acara.. satu pertanyaan patut dilontarkan di sini, bagaimana mungkin aparat keamanan bisa lalai mencegah masuknya segerombolan pemuda separatis masuk ke dalam acara yang dihadiri kepala negara dan melakukan tindakan semacam itu?
saling tuduh menuduh antara siapa yang harus bertanggung jawab pun terjadi.. Badan Intelijen Nasional (BIN) menangkis tuduhan bahwa mereka tidak bekerja dengan baik, dan lewat staff-nya, Janzi Sofian, menyatakan kalo mereka udah memprediksi bahwa tindakan semacam itu akan terjadi.. sebaliknya, mereka menyalahkan kaum polisi yang tidak dengan teliti melakukan sweeping bendera RMS seminggu sebelumnya, ditambah dengan fakta bahwa beberapa penari adalah mantan tahanan politik juga.. sementara itu ANTARA NEWS menyebutkan bahwa TNI akan memberikan sanksi bagi anggota2nya yang bertugas di lapangan saat itu.
sepanjang pengetahuan saya, cakalele adalah tarian perang ala Maluku yang menyertakan tifa dan pedang sebagai aksesori tarian tersebut; videonya bisa di lihat DI SINI.. jadi, penulis merasa kemarahan rakyat Indonesia lainnya adalah hal yang wajar..
namun, perlu diketahui, pendekatan keamanan bukan lagi solusi yang tepat, mengingat dapat mengakibatkan perasaan dendam di kalangan penduduk, seperti telah terbukti di konflik Aceh.. dendam itu sendiri berperan sebagai bom waktu, yang akan meledak dengan pemicu sekecil apapun..
lantas, apa sih sebenernya latar belakang aktivitas RMS ini?
pada masa2 revolusi pasca kemerdekaan, ada sekelompok orang ditambah oknum2 militer dan sedikit intervensi kolonial Belanda dipimpin oleh Dr. Soumoukil yang memutuskan untuk ngebentuk Republik Maluku Selatan.. usaha mereka digagalkan oleh pemerintah pusat di pulau Jawa.. ketidakpuasan mulai muncul di kalangan mereka, dikarenakan orientasi pembangunan hanya dipusatkan di wilayah Indonesia Barat, padahal Maluku sempat menjadi salah satu pusat pemerintahan Belanda di Indonesia..
waktu terus berjalan, hingga konlik agama meletus di Maluku.. kepanjangan RMS yang sebagian besar anggotanya emang orang Kristen dipelesetkan kaum Islam Ambon menjadi Republik Maluku Sarani, dan mereka, menganggap diri sebagai loyalis, percaya ada keinginan khayalak Kristen Ambon untuk memerdekakan diri dengan beraliansi dengan RMS, sehingga isu separatisme mulai dibawa2 ke dalam konflik agama di Maluku.. (NB: kebetulan oom dari penulis berdomisili di Ambon sejak lahir hingga saat ini, sehingga banyak hal yang telah beliau ceritakan mengenai alur konflik)
namun perlu disadari kita gak bisa menggeneralisasi satu agama mendukung separatisme, mengingat pemimpin agama Islam, Kristen, dan Katholik Ambon telah mengunjungi Wapres Jusuf Kalla hari ini buat ngebicarain soal UU anti separatisme..
bukan hanya kita saja, tokoh Maluku pun sudah mulai capek ama masalah2 kayak gini, sementara kaum separatis pun membawa isu kekecewaan sebagai motif perlawanan mereka,
mari kita tunggu usaha2 penyelesaian konflik oleh pemerintah kita..
untuk masalah pemerataan, pemerintah udha mendirikan Kementerian Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal RI, tinggal penyelesaian konfliknya secara langsung..
apa pendapat anda?




July 9th, 2007 at 12:34 pm
huff…jangan sampai deh ada daerah yang lepas lagi. Kalau Maluku lepas juga,, bisa-bisa pas aku punya cucu Indonesia tinggal pulau jawa aja lagi
(saling tuduh menuduh antara siapa yang harus bertanggung jawab pun terjadi.. Badan Intelijen Nasional (BIN) menangkis tuduhan bahwa mereka tidak bekerja dengan baik, dan lewat staff-nya, Janzi Sofian, menyatakan kalo mereka udah memprediksi bahwa tindakan semacam itu akan terjadi.. sebaliknya, mereka menyalahkan kaum polisi yang tidak dengan teliti melakukan sweeping bendera RMS seminggu sebelumnya, ditambah dengan fakta bahwa beberapa penari adalah mantan tahanan politik juga.. sementara itu ANTARA NEWS menyebutkan bahwa TNI akan memberikan sanksi bagi anggota2nya yang bertugas di lapangan saat itu.)
—-> untuk mengakui kesalahan ternyata amat sangat susah ya, sampai-sampai jadi lempar tanggung jawab gitu…
July 9th, 2007 at 12:38 pm
Berarti penjaga keamanannya makan gaji buta yah? ckkkk…. pegimane sih.
July 9th, 2007 at 1:18 pm
iya tuh bener. ancur yg jagain acara itu.. staff keamanan bs dblng ga guna tuh. ckck.
oh ya, coba bayangin klo yg nari di sana tuh cewe seksi..
laen deh ceritanya.
July 10th, 2007 at 12:59 am
“Inilah bukti kelemahan sistem Pemerintahan Pusat.Mang sih, inginnya pmbangunan merata dgn pantauan pusat…tp kl knyataannya ga jalan, bs2 tiap daerah berontak & mo merdeka!!”
gw bkan salahin sistemnya or aparatnya(coz gw sndiri blm tntu becus, hihihi). Tp gw nilai dr hasilnya, tuh liat sndiri kan…bnyak daerah yg mrsa di anak tirikan…
Btw, ga’ tau lah…gw cm bs mong gini…coz gw ga’ pnya basi, ntr kl gw salah comment, gw di kira kompor, hihihih…
Tetap Semangat…!!!
July 10th, 2007 at 2:30 am
Sebenernya mayoritas orang Maluku juga kurang simpati dengan RMS ini, buktinya setelah kejadian itu demo anti RMS merebak di seantero Maluku.
Apalagi imej RMS kan kurang baik, khususnya pasca era 70-80an ketika mereka kerap melancarkan aksi peledakan (terorisme) di Belanda yang banyak memakan korban jiwa. Jadi, dunia internasional juga sebetulnya kurang simpati dengan kaum separatis ini, berbeda dengan GAM.
Tapi kejadian kemaren seru juga… payah tuh BIN dan POLRI, kebayang klo terjadi apa-apa terhadap simbol negara (baca: presiden).
July 10th, 2007 at 5:07 am
artikel yg bagus; sebenarnya romantisme kemerdekaan ada di mana2, namun ada lebih banyak yang berpikir rasional dan pragmatis ketimbang romantis dan utopis.
setuju bahwa pendekatan keamanan tidak atau jarang sekali menyelesaikan masalah, bahkan sebaliknya.
keadilan dan perhatian yg tulus dari para aparat, serta pendekatan sosial budaya ekonomi akan lebih bermanfaat
July 10th, 2007 at 1:28 pm
katanya sih ada sogok-sogokan gitu…kan masuk ke tempat acara musti pake ID card,pasti ada prosedurnya dunk..kalo sampe mereka bisa masuk pasti ada pihak2 yang membantu mereka…ni si opini aku aja ya…gak brani komen banyak..tar salah lagi..kan makin panjang jadinya…
July 10th, 2007 at 2:19 pm
@aisha:
yup, jangan ampe ada kekuatan yang memecah2 Indonesia lagi, peran pemerintah bisa jadi sangat vital dis ini dalam mengambil langkah2 penyelesaian yang tepat dan gak berbau militer..
@putlie & yurii &kucil:
kalo baca di kompas sih katanya karena keujanan jadi pada beteduh, ah entahlah, gak enk komen kalo gak pasti.. huhu..
@ipang:
betul pang, agak menyedihkan emang.. jadi inget pas SD bu guru bilang: “ayo anak2 sebutkan isi 8 jalur pemerataan”, yang mana salah satunya adalah pemerataan pembangunan..
otonomi daerah juga kayakya belum seefektif yang diinginkan..
@ronn:
betul, makanya para pemimpin agama pada pegi ke wapres JK buat bkin UU anti separatisme..
kalo soal image RMS gw juga agak bingung, toh masih beredar isu adanya intervensi belanda di sini..
dan itulah yg gw juga mikir, kalo ampe Presiden kenapa2 cemana lah?
@pak aroeng:
thanks Pak, wonder kapan pemerintah bisa belajar bahwa pendekatan keamanan cuma menstop ekskalasi sesaat dan malah menanamkan bibit dendam..
@all:
thanks for comments.. hehe..
July 11th, 2007 at 1:56 am
ketika sikap “menjadi bagian” tidak ada, maka melepaskan diri merupakan jawaban paling praktis…bagaimana merubah sikap ini dengan pendekatan yang baik, saya kira merupakan solusi…
July 11th, 2007 at 4:45 am
Yah…. sekarang Pemerintah dah mulai tegas dan serius menangani masalah separatisme walau dah basi…

Mungkin orang kita kayak gitu ya….dipermalukan dulu mpe merah mukanya baru…..bales dendam
he….3x
July 11th, 2007 at 4:52 am
Yaaaahh akhirnya bom waktu meletus…setelah pelanggaran HAM di Aceh selama bertahun2, pengerukan sumber daya alam di daerah2 yg nyata2 cuman menyejahterakan segelintir orang ttp lihatlah keadaan masyarakat & lingkungan??? Perlakuan istimewa Aceh dengan perjanjian yg smp skrg msh diperdebatkan, sedangkan Jogja yg dr dl adem ayem lg bingung nentuin keistimewaannya….Yah… jadinya jiwa2 yg tidur & tertindas mencoba bangkit lalu berjalan ke arah yg mereka anggap benar. terserah kita melihat dari sudut pandang mana???? Yang jelas sekarang dibutuhkan keseriusan & pengertian
July 11th, 2007 at 6:09 am
aye sebagai orang maluku memang resah dengan kejadian ini, bukan hanya dapak sparatisme saja yg muncul, tetapi bisa memicu lagi kerusuhan silam, tapi untuknya itu gak terjadi, jadi benar apa yg di katakan om roon mayoritas masyarakat maluku sudah jenuh dengan ulah RMS.
Tapi kalau di lihat lagi semua terjadi lanataran kesejahtraan yg tidak merata sehingga menimbulkan gerakan separatis! jadi pemerintah pusat harus pandai” melihat kalu tidak ingin kehilangan ‘oragan tubuh’ nya yg lain! jgn cuma di pusat muluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu! akhirnya ‘ketampar’ kan! aheuaheuaheuaheu…
July 11th, 2007 at 2:20 pm
@pitik:
betul, cuma saya rasa pemerintah pusat juga harus berbuat sesuatu donk biar mereka bisa ngerasa sebagai suatu bagian juga..
@ivsa:
haha, tau banyak juga si ivsa soal cerita di balik status keistimewaan itu.. mantap..
gw pengen ke blog loe kok gak bisa yah, bisa kasih linknya?
@malona:
turut sedih juga kawan, gw gak ada darah ambon sih, cuma nyokap kelahiran sana dan besar dsna, jadi suka bolak balik ksna juga..
sedih euy, terakhir balik pas natal taun lalu, masih banyak bekas2 kebakar.. cckk..
July 11th, 2007 at 3:36 pm
Gila ya, bisa terjadi kayak gitu. Sebenernya sih gw pengen tau daru mereka sendiri, apa yang jadi alasan mereka mau misahin diri.
Kalo tebak2an sih ya soal keadaan daerah2 yang ngga seimbang ya. Liat Jalan Sudirman Jakarta, abis itu liat propinsi lain di Sulawesi. Ngga akan nyangka dua tempat itu ada di negara yang sama…
Huah, capek juga ya jadi pemerintah. Apalagi yang jujur2, diboongin mulu sama yang ngga jujur. Jadi kasian..
July 12th, 2007 at 7:16 am
Klo GAM saja bisa diatasi, maka seharusnya RMS juga bisa dihajar. NKRI adalah sebuah harga mati, tak bisa ditawar!
July 12th, 2007 at 2:12 pm
@audrey:
makanya gw kadang suka kesel ama pusat, mana coba realisasi otonomi daerah dan jalur pemerataan.. bah.. boong semua.. liat noh tanah batak aja yang ada karet dll tetep kalo dibandingin ama pulau jawa jauh bner..
@dony:
stuju sih kawan, separatisme emang harus diberantas, tapi ya itu penanganannya harus tepat..
July 14th, 2007 at 10:22 am
cape deeehhh…
gw jg aneh knp bisa kecolongan
secara ini kan acaranya RI 1 geto loh
July 22nd, 2007 at 4:50 am
Bagus banget artikelnya mbak……
Aku salut ama anda…..
July 22nd, 2007 at 8:24 am
Ki loe dipanggil mbak tuh
dulu lebih parah, hasil daerah di bawa ke pusat semua.. makannya ada otonomi daerah sekarang.. kayaknya sama aja deh
July 23rd, 2007 at 1:53 am
@all: thanks temen2..
tapi gw cowo woi.. haha.. buset, pake poto gw dengan topeng monster juga masih dikira cewe.. oh Tuhan, ampuni hamba2mu ini..