Tutupi Saja Terus Kenyataan Sejarah: History vs His Story
History atau sejarah adalah suatu bidang studi yang meletakkan fokus pengamatan pada kejadian-kejadian yang terjadi di masa lampau dan secara kronologis. Lantas, siapa yang mencatat sejarah? Pertanyaan ini sebenarnya gampang saja dijawab, para pencatat sejarah antara lain adalah:
- Orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Biasanya mereka akan menyampaikan apa yang mereka lihat dan dengar kepada generasi selanjutnya melalui mulut ke mulut atau melalui literatur.
- Oknum-oknum yang memiliki kekuasaan dan memiliki keuntungan dengan dirubahnya sejarah tersebut.
Para artikel kali ini, saya bermaksud untuk memberikan beberapa contoh dimana sejarah “telah dibengkokkan” demi kepentingan suatu kelompok tertentu. Untuk mempersempit pembahasan, contoh saya batasi pada penyimpangan sejarah lewat metode pengajaran dan textbook yang dipergunakan dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah. Objek pengamatan saya kali ini adalah sejarah Jepang, Hongaria, dan negara kita sendiri, Indonesia.
Jepang
Seperti yang kita tahu, sebelum Perang Dunia II, Jepang pernah menjadi suatu bangsa yang dengan biadabnya membantai nyaris seluruh penduduk kota Nanking di China, memperkosa banyak wanita di sana, dan membumihanguskan kota tersebut. Pembantaian dan pemerkosaan juga berlangsung di kota-kota lain di Korea dan China.
Lucunya, textbook sejarah yang dikeluarkan Departemen Pendidikan di dua dekade terakhir sama sekali tidak menyebutkan hal ini. Jepang bahkan diagung-agungkan sebagai pahlawan yang berusaha untuk menyelamatkan dan memodernisasi Asia saat itu.
Pemerintah Korea dan China jelas marah besar, kedutaan besar Jepang di Beijing bahkan pernah diserbu para pemuda China yang merasa geram. Permintaan mereka kepada pemerintah Jepang untuk menarik textbook-textbook tersebut pun ditolak. Semua orang yang pernah menjadi PM Jepang pun dengan tegas menolak meminta maaf atas dan mengakui pembantaian itu, mereka merasa artikel 9 Konstitusi Jepang sudah cukup untuk menghapus dosa-dosa mereka (silahkan baca artikel saya mengenai hal ini, klik di sini). 2 dari 3 PM Jepang yang terakhir, Junichiro Koizumi dan Shinzo Abe yang memang politisi garis keras, bahkan meneruskan tradisi mengunjungi Yasukuni Shrine dengan frekuensi yang lebih tinggi sehingga mengindikasikan kalau tidak apa-apa di sana (Ingin tahu ada apa di sana? Silahkan baca artikel saya mengenai Yasukuni Shrine, klik di sini).
Kenapa textbook sejarah di Jerman malah mempengaruhi generasi muda untuk tidak menjadi seperti Hitler dan dengan gentlenya mengakui sejarah kelam mereka? Budaya yang sangat kental di Jepang adalah budaya jangan-sampai-”kehilangan-muka” (Apa yang mereka lakukan jika “kehilangan muka”? Silahkan klik di sini). Jepang tentu tidak mau generasi di masa datang mengetahui sejarah kelam bangsa mereka, mereka ingin generasi muda mengenal Jepang sebagai pelindung dan modernizer Asia di masa lalu. Perubahan isi textbook sejarah di sekolah-sekolah bisa dibilang sebagai langkah awal yang “cukup berhasil”. Banyak sekali generasi muda Jepang sekarang yang bahkan tidak mengetahui hal tersebut. Hal ini diperparah oleh bangkitnya kaum ekstrim nasionalis muda Korea dan China yang mulai menyebarkan paham anti Jepang. Akbatnya, ketegangan di wilayah Asia Timur mencapai derajat yang cukup tinggi.
Saya terkadang suka heran, untuk apa generasi muda Korea dan China membawa para eks-wanita penghibur tentara Jepang dan beramai-ramai menuntut keadilan dari pemerintah Jepang? Bukankah itu sama saja dengan menggali kembali memori pahit para eks-wanita penghibur tersebut yang setengah mati berusaha untuk dilupakan? Lokasi mereka yang berdekatan secara geografis pun tampaknya berperan besar dalam meningkatkan ketegangan, terlebih lagi, saya melihat ada sikap iri hati dari bangsa China terhadap bangsa Jepang, yang walaupun selama berabad-abad sempat tunduk pada China, sekarang telah menjadi raksasa ekonomi dunia.
Hongaria
Kekalahan Hongaria di Perang Dunia I menyebabkan mereka harus menandatangani Treaty of Trianon yang membagi 2/3 wilayah Hongaria ke negara-negara lain. Negara-negara yang beruntung adalah Rumania, Kroasia, Serbia, Slovakia, Ukraina dan Slovenia. Hongaria harus kehilangan sekitar 3,4 juta penduduknya saat itu, dan jumlah ini cukup besar mengingat jumlah penduduk Hongaria sendiri sekarang hanya 10 juta jiwa. Lebih parahnya, menurut artikel ini, mereka harus kehilangan 61% of arable land, 88% of timber, 62% of railroads, 64% of hard surface roads, 83% of pig iron output, 55% of industrial plants and 67% of credit and banking institutions yang kebetulan terletak di wilayah diluar Hongaria sekarang.
Setelah Perang Dunia II, Hongaria menjadi negara satelit Uni Soviet. Semua muatan pendidikan yang diberikan pun harus disesuaikan dengan keinginan Uni Soviet. Moscow menempatkan guru-guru left wing didikan mereka di sekolah-sekolah Hongaria, dan mereka sama sekali tidak diajarkan mengenai Treaty of Trianon ini. Minimnya akses ke informasi pun menyebabkan kalangan muda saat itu sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di daerah-daerah tersebut. Perlu diketahui, Russia/Uni Soviet bertempur di pihak Rumania dan Serbia di Perang Dunia I, sehingga jelas mereka berkepentingan untuk menutupi semua itu.
Runtuhnya Uni Soviet di akhir 1980an dan melangkahnya Hongaria keluar dari dunia komunisme menyebabkan arus informasi mengalir dengan dahsyat, sehingga generasi muda sekarang dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di akhir Perang Dunia I.
Seperti halnya di Korea dan China, bangkitnya nasionalisme di kalangan muda adalah fenomena tersendiri di Hongaria. Mereka menuntut pemerintah untuk mengembalikan daerah-daerah tersebut, khususnya daerah Transylvania (daerah asal legenda Drakula) di Rumania. Sikap anti-Rumania juga semakin tinggi setelah mereka mengetahui minoritas Hongaria didiskriminasi dalam berbagai hal di Transylvania. Mereka semakin bersimpati kepada kaum minoritas ini, karena kaum minoritas ini dengan tegas dan konsisten menyatakan diri sebagai bangsa Hongaria, bukanlah Rumania, Serbia, ataupun Slovakia.
Indonesia
Seingat saya, tidak satupun textbook sejarah saya yang menyebutkan adanya pembantaian orang-orang yang diduga sebagai anggota PKI (Di link ini tersedia dokumenter mengenai kuburan massal mereka). Yang saya ingat adalah penggambaran anggota-anggota PKI sebagai manusia-manusia brutal yang membunuhi beberapa perwira AD dan penggambaran “satu sosok” (you know who) sebagai seseorang yang mampu bertindak cekatan dalam menumpas gerakan ini. Pendiri Overseas Think Tank for Indonesia, Bapak Beni Bevly, di dalam salah satu artikelnya menulis tentang esensi dari peringatan hari kesaktian Pancasila. Berikut ini adalah kutipan dari post beliau:
“..agaknya peringatan dan upacara ritual ini lebih tepat berupa konfirmasi atas ketekatan sekelompok orang untuk menumpas dan membunuh berapun banyaknya orang demi merebut kekuasaan dan kepentingan sekelompak orang.”
“…Dari segi kemanusiaan, bukankan peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini mestinya menitikberatkan pada penyesalan dan keprihatinan atas jutaan nyawa rakyat Indonesia yang melayang karena ulah seorang yang bernama Soeharto?”
NB: Penulis tidak bermaksud menuduh satu pihak pun sebagai pelaku G30S/PKI
Jelas sudah ada beberapa bagian yang masih “abu-abu” dalam kasus G30S/PKI dan bagian itu semakin menghitam karena pihak-pihak yang terlibat di masa lalu memberikan kesaksian yang saling bertolak belakang. Satu hal yang sudah jelas, pembantaian ratusan ribu orang yang dilakukan secara sengaja sama sekali bukanlah merupakan hal yang harus dihapus sejarah kita begitu saja. Seberapa pun kelamnya kejadian itu, sudah terjadi, dan untuk menghindari pemahaman yang salah tentu kita harus mengetahui yang sebenarnya.
Sejarah memang sesuatu yang dapat dirubah untuk tujuan pribadi maupun kelompok tertentu, dan jelas sudah pihak yang memiliki kekuasaan dan memiliki kepentingan lah pelakunya.
Mari kita simak beberapa quotes dari para cendekiawan:
He who controls the past, controls the future; and he who controls the present, controls the past. (George Orwell, penulis buku 1984)Half of writing history is hiding the truth. (Malcolm Reynolds, tokoh di film Serenity)
Lantas, untuk apa kita belajar sejarah kalau HISTORY SUDAH MENJADI HIS STORY??
Bagaimana cara untuk membedakan mana yang HISTORY dan mana yang HIS STORY?
Apa pendapat para pembaca sekalian?


October 12th, 2007 at 12:07 pm
Untuk apa kita belajar sejarah? semata-mata karena pemerntah mewajibkan adanya plajran tersebut buat para siswa..
YAH..manusia emang punya ego yang tinggi, buat kepentingan pribadi atau golongan, mereka ga segan2 buat memanipulasi semua yang ada., ga peduli dampak yang bakal timbul karenanya.Dulu aku malah sempet denger, di pelosok2 Indonesia, bab yang membahas PKI diilangin, biar generasi muda ga kenal ama PKI.
Jangankan sejarah, agama aja juga udah dimanipulasi, bisa diliat dari banyaknya aliran2 yang, yah bisa dikatakan sesat lah.
Satu lagi, kalo beneran udah Fix UN jadi 6 mata pelajaran, sejarah pun bakal di jadikan bahan ujian (tapi buat anak IPS aja c)
October 12th, 2007 at 3:03 pm
Itu History jaman Soeharto, Jaman SBY sekarang ini juga! Presiden kita tidak 100% Jujur. Kalau mau lebih jeli meneliti==>Tentang pernah mejabat mentri di kabinet Pembangunan Jaman Soeharto, SBY sekarang kayaknya menutupi tuh!
October 13th, 2007 at 1:29 am
’sejarah’ adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi ketika peristiwa tersebut berlangsung. sedangkan yang ada di dalam teks2 buku sejarah yang selama ini kita pelajari tak lebih dari sebuah ‘catatan tentang sejarah’ yang ditulis oleh para penulisnya dengan berbagai maksud dan tujuan. oleh karena itu tak menutup kemungkinan bahwa ‘teks2 sejarah’ itu kadangkala dipenuhi dengan tendensi pribadi tergantung di pihak mana dia berdiri.
‘kebenaran’ sejarah hanya diketahui oleh para pelakunya. tergantung mereka bersedia bicara jujur apa adanya atau diam seakan tak tau apa2.
October 13th, 2007 at 10:39 pm
@aisha:
yah saya setuju. saya mau menambahkan, erkadang saya merasa bahwa muatan seperti agama, PPKn, Sejarah, dan Bahasa Indonesia terlalu banyak di kurikulum pembelajaran di Indonesia. Contoh, setelah berbincang-bincang dengan beberapa kawan yang mengambil kuliah manajemen/finance/ekonomi di luar negeri, dan mereka bener2 harus mulai dari nol, karena dasar2 pelajaran tersebut belum dicover sepenuhnya di SMA.
Pelajaran sejarah Udah diajarin yang gak bener, gak lengkap pula, mending waktunya dipake untuk mengcover materi pelajaran lain..
@sobirin:
maksudnya kawan? saya kurang nangkep, hehe..
@lintang:
saya suka dengan istilah catatan tentang sejarah.. hehe..
trus untuk masalah kejujuran, lucunya, banyak yang malah memutuskan membawa mati cerita di masa lalu itu..
October 15th, 2007 at 8:49 pm
aahhh sejarah lagi sejarah lagi … dulu sejarah ku sempet dapet 5 di raport … aku juga satu2 murid disekolah yg dibenci sama guru sejarah yg galak batak itu
October 15th, 2007 at 11:47 pm
selama demokrasi tidak dikekang akan selalu ada berbagai sisi sejarah yang akan “diberitakan” ke kita.
Jadi tenang aja, balik ke kita lagi mau percaya yg mana. Anggap aja pelajaran sejarah di sekolah itu salah satu versi sejarah. Toh juga pada akhirnya kita tau versi2 lainnya.
October 16th, 2007 at 6:49 am
buseeet sejarah lagi…
dari sma aja gua dah males belajar sejarah, banyak bo’ongnya..
mana udah masuk kelas IPA tetep ada pelajaran sejarahnya lagi… grrrrrrrrrrRRrraw..
ya emang begitulah, sejarah bisa dibuat2 karena punya pengaruh yang besar bagi warganya
October 16th, 2007 at 6:55 am
ah lupa nanya…
Ki jadi gimana nasib loe dengan bule penjaga apartemen yang bermasalah kemaren?
October 16th, 2007 at 10:39 am
Sejarah??? well, we know that history was very2 freak!!!!!!Sejarah bisa hanya bergantung pada seseorang atau sekelompok orang saja, yang kebetulan mereka menjadi pelaku, atau malah lebih parah, mereka bukan pelaku tapi mengarang(membengkokkan lah minimal) sebuah cerita sejarah. Who knows??? dan itu akan turun temurun diwariskan kepada generasi penerus. Saya suka banget ma kalimat Yuki yang : “HISTORY SUDAH MENJADI HIS STORY??”.
Saya sering kasihan sama anak2 kecil jaman sekarang, mereka tidak akan pernah tau sejarah bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Mungkin yang akan mereka tau nanti hanyalah betapa ruwetnya sejarah dari negara yang tiap upacara bendera selalu mereka nyanyikan lagu wajibnya itu.
Apakah Yuki pernah tertarik untuk meluruskan sejarah bangsa ini? semoga berhasil..amin….
October 17th, 2007 at 9:49 am
geregetan yah … sama inda juga lagi gregetan sapa opa james watson yang ngga mau ngaku juga kalo penemuan struktur dna-nya itu sebenernya punya rosalind franklin :p
kalo menurut saya sih yang namanya orang hidup ngga akan bisa nglepasin diri dari sejarah (iya sih, saya juga sebel sama pelajaran sejarah, kebetulan jarang banget ada guru sejarah yang ngajarnya bagus)
cuma, dengan tetap belajar sejarah dari situ bisa kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. kan belajarnya ngga cuma dari satu sumber
makanya kita olah informasinya trus kita ambil kesimpulannya deh.
oh ya, satu lagi pendapat pribadi, belajar sejarah, terutama tentang tokoh2 f**k gitu
menurut saya asik juga. setiap kali nemuin fakta yang agak heboh dikit di suatu bacaan, saya bakalan lagsung teriak (ngga peduli lagi di mana :P). teriaknya macem2, mulai dari sekedar ‘omg’ sampe ngata2in tokoh sejarah yang ngga manusiawi itu, baik dengan nada marah maupun prihatin.
kenapa asik? soalnya yang kayak gituan tu anehnya bisa jadi terapi psikologis juga, semacam penyegaran dari stres yang ngga ada hubungannya sama bacaan itu, huehehe. jadi, kalo lagi bete, capek, baca aja sejarah (penasaran sama biografinya mao ze dong :p).
setuju: terus aja tutupin kenyataan sejarah sono! tar kita juga tetep tahu!
kayaknya ahmadinejad pernah deh kirim surat ke presiden george double u (hehe, you know who laaah :P) bilang gini: god will be with the truth
eh, iya nggak ya, kok jadi agak lupa. pokoknya kalimat itu menurut saya keren
October 18th, 2007 at 4:02 am
I love history !
Kebetulan nilai sejarahku waktu sekolah doeloe selalu bagus. Belajar sejarah tu asik pren…
Ngomong2 soal sejarah, jadi inget film Braveheart-nya Mel Gibson. Katanya, “Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang membunuhi para pahlawan”. Setuju nggak sihh..?
Minal aidin wal faizin, Maaf lahir batin tuk semuanya.
October 18th, 2007 at 2:57 pm
Maap, Aku sampe bingung mau komen apa. Amazed, tulisan kamu bagus banget
October 18th, 2007 at 5:21 pm
wah… yuki kalau nulis referensinya banyak ya,,, keren banget. memang sangat sulit membedakan sejarah yang dicatat karena suatu kepentingan dengan yang murni terjadi dimasa lampau. tapi menurutku, kebohongan sejarah akan terkuak juga akhirnya. apalagi semakin canggihnya tehnologi juga sangat membantu. aku optimis sejarah akan semakin objektif di kemudian harinya. ^_^
October 20th, 2007 at 9:24 pm
@ichaawe:
haha, guru sejarahku juga galak, cuma aku suka pelajarannya, dan gurunya juga sebenernya pinter, jadi enjoy aja..
@spasi:
betul sekali kawan, kebetulan kemaren ini sempet melakukan penelitian kecil2an tentang pengekangan arus informasi di sistem komunisme, jadinya sejarah yang diceritakan ke anak cucu pasti beda ama kenyataan..
ngmg2 kok blognya gak diupdate lagi kawan?
@adite:
iya dite, gw juga aslinya anak IPA kok, bedanya gw malah seneng pas pelajaran sejarah, refreshing drpd angka mlulu, hehe.. udah beres dite yang soaal itu, sudah hidup tenteram skrg di flat baru.. hehe
@joell:
hey joell makasih yah komennya, hehe..
saya tertarik kok meluruskan sejarah, cuma masih belum berani seterbuka mas beni, coba cek aja websitenya dia, linknya ada di post itu.. hehe.. upacara bendera tiap tanggal 1 (masih ada gak sih?) dan pemutaran film G30S/PKI udah gak ada gunanya emang..
@inda:
hai inda.. lama tak mampir, hehe..
itulah masalahnya inda, betul memang kalau kita mencari kebenaran dengan terus menyelidikinya, tapi pertanyaannya berapa orang yang mau kayak begitu? hehe.. lama2 abis deh orang yang tau tentang masa lalu yang sebenernya..
@rahmat:
oya mat, gw juga dapet bagus mlulu, hehe, padahal gurunya rada strict loh, mungkin gara2 gw jadi anak manis kali yah kalo di kelas..
mengenai quote dari loe, gimana kalo loe cekj artikel gw yang dulu di bulan juni tentang wikipedia.. temukan, siapa yang bisa menulis sejarah, hehe..
@jiewa:
hehe, bisa aja si jiewa, makasih yah, biasa aja kok..
@mommo:
hehe, kan biar objektif gitu maksudnya mo makanya pake referensi.. makasih yah mo..
yah mudah2an beneran bisa terkuak semua sejarah yang masih penuh tandatanya..
October 21st, 2007 at 7:33 am
adu-adu-aduuu … anda memberi saya pertanyaan yang sulit, hehehe.
ya sih kan jarang juga ya orang mau meluangkan waktu buat baca-baca sejarah termasuk penemuan fakta-fakta baru mengenainya. nah tapi kan kak yuki dan rekan2nya yang sesama isipol kayaknya udah mulai merintis ke arah situ, yah kita2 yang biomedic ini ikutan juga ngasih dukungan deh
masih inget nggak soal cerita inda yang nerjemahin buku biografi ilmuwan itu? beberapa waktu lalu pas kita ngumpul sama tim penerjemah itu, kita ngakses situs authornya, ternyata authornya itu seorang profesor sastra yang demen nulis sejarah sains!
glek …. saya ngeper deh, asli! untuk di tim ini banyak senior saya, hehehe.
wish us luck ya, deadline mundur lagi tapi moga awal tahun depan bisa masuk penerbit … huhuhu.
) kan di dalemnya banyak pelajaran yang bisa diambil … (kami yang lagi ngerjain pengeditannya sih ngerasa kayak gitu, jadi terinspirasi, hehe)
tar kan kali aja kalo beneran terbit (atas izin Tuhan, gitu
btw makasih buat komennya, biologi saya makin asik lho soalnya dosennya suka riset gitu jadi banyak deh yang bisa saya pelajari. makasih juda udah nengok incidental notes
October 21st, 2007 at 11:16 pm
iya yuk, skripsi nih gila2an bikin stress. hehe.. ntar lah kalo udah dikumpul lanjut lagi.
October 22nd, 2007 at 1:02 am
ooh inda tau! hehe, setelah bersemedi beberapa saat untuk mendapatkan wangsit (wangsit goreng) akhirnya bisa mikir dikit ;p
eh sebelumnya mau makasih dulu soal info sejarah hongarianya. hum … jadi tahu nih, tragis juga hak asasi mereka buat dapetin informasi tentang keadaan negaranya dirampas habis begitu
dan inilah wangsit yang inda dapet, hehehe: inget beberapa tahun lalu pas ribut2 kebenaran supersemar, salah satu dari tiga jendral yang masih hidup, yang menjelang pergantian ke orde baru itu ‘menyampaikan’ lembaran supersemar untuk ditandatangani bung karno itu … kalo nggak salah pak m yusuf ya, tu kan beliau juga ngga mau juga ngasih keterangan yang bisa memuaskan pihak-pihak yang penasaran dengan apa yang terjadi yah …
berapa banyak orang yang mau gituan?
keywordnya: nurani
berani nggak seseorang itu menyuarakan kebenaran?
kemarin habis main ke blognya pak Oleh Solihin yang wordpress (sori inda lupa urlnya, bisa di cek via google … peace!), di situ ada motto yang tertulis di bannernya: katakanlah kebenaran walaupun pahit
see? memang hanya orang2 tertentu yang mau mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya, yang bisa jadi sangat sulit kalau itu menyangkut kepentingan penguasa vs banyak pihak
yah … memang sih kesannya kayak pembodohan publik, cuma inda inget novelnya dan brown yang digital fortless itu … jadi mikir kalo rahasia negara nggak semuanya perlu dibeberkan ke publik (hohoho, i know this statement is a bit too risky, that’s why i actually do not state, this is merely a humble conclusion taken by an outsider like me that anyone could always argue on … peace, dude!)
sejarah memang lain dengan ilmu biologi dan kimia. ambil contoh suatu publikasi (catatan/laporan penelitian) di bidang ini, suatu pernyataan bisa diuji ulang dengan metodologi yang dipaparkan oleh authornya. kalo ternyata hasilnya beda, kemungkinannya bisa dilacak: mungkin yang salah peneliti penerusnya, mungkin ada variabel yang berubah, atau mungkin … nah ini peneliti aslinya yang salah dengan kata lain penelitiannya tidak valid (mungkin ada di sini audiens yang punya pengalaman penelitian yang sebenernya, beda dengan saya yang masih sebatas lihat senior di kanan-kiri
belajar biostatistik juga baru jalan berapa minggu, huhuhu)
saya rasa pihak2 yang menggeluti ilmu sejarah dengan pendalamannya masing2 itu justru merasakan asiknya kerjaan mereka manakala mereka menemukan konflik dalam tumpukan informasi yang mereka dapatkan.
berapa banyak orang yang mau begitu?
well, saya sih bukannya sok mau mengajukan diri, tapi saya juga sekarang ini lagi kepikiran gara2 dapet info tentang ’sesuatu’ yang selama ini dinyatakan sangat ilmiah tetapi di sumber yang saya baca itu kok ternyata … haaah ngeri deh. tapi maaf bro saya blom bisa bilang sekarang. bukan apa-apa, yang ngasih saya info itu adalah bukan orang yang di bidang sains, makanya saya perlu cari info lebih lanjut dulu dooong (dan karena saya masih ‘kecil’ di tengah jadwal kuliah yang ‘mencekik leher’–hiperbolis mode ‘on’–makanya yaah saya butuh waktu lama)
maksudnya, yang beginian (sayangnya) terjadi tidak hanya pada hal2 yang menyangkut politik kenegaraan aja
tapi yang jelas anda tidak sendirian, kak.
October 22nd, 2007 at 1:03 am
btw kok omongan saya panjang yah :p
October 22nd, 2007 at 7:40 pm
@inda:
komen yang sangat mantaapp.. hehe.. saya suka dengan kata kunci nurani itu. emang bener, kalo dari diri sendiri ada kemauan untuk membuka kenyataan, seberapa pahitpun pasti akan dibuka..
dan ya, saya tahu betapa asiknya bagi para historian untuk menemukan kebenaran walaupun data yang tersedia sangat beraga, dan penuh dengan subjektifitas, makasih udah mengingatkan saya tentang bagian ini.. saya sendiri mungkin termasuk dari mereka2 itu, hehe..
@spasi:
hehe, semoga sukses kawan skripsinya, kabar2in yah kalo udah diupdate, pasti saya berkunjung..
October 24th, 2007 at 12:38 am
“..agaknya peringatan dan upacara ritual ini lebih tepat berupa konfirmasi atas ketekatan sekelompok orang untuk menumpas dan membunuh berapun banyaknya orang demi merebut kekuasaan dan kepentingan sekelompak orang.”
“…Dari segi kemanusiaan, bukankan peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini mestinya menitikberatkan pada penyesalan dan keprihatinan atas jutaan nyawa rakyat Indonesia yang melayang karena ulah seorang yang bernama Soeharto?”
–> Di dunia ini ga ada yang gratiss !!! Mau ga mau qt seharusnya terima kasih ke org yg namanya Soeharto(lepas dr semua kebodohan dia)! Kl bicara sejarah itu pasti ada masa & Aktor Utamanya. Aq setuju dengan iklan di TV itu, kurang lebih dialognya begini…”Kenapa Patimura ditangkap Belanda??”, Muridnya menjawab, “TAKDIR..!!!”, Sudah beres kan, ga perlu titik, koma atau tanda tanya…
Sejarah adalah sejarah…yang hanya perlu qt ingat & pelajari bukan U/ qt banding2kan & qt kotak-kotakkan!!!
October 24th, 2007 at 3:36 am
ya ya bener tepatnya his story, hmm ada pendapat dari siapa yah lupa yang bilang kalo sejarah itu tergantung dari penulisnya. hmm jadi kita semua bisa nulis sejarah dong?! tapi sejarah apa dulu ya hehe. nah kalo sejarah bangsa ini yang repot, kepentingan politik dan keeksklusifan informasi berperan besar akan publisitas suatu sejarah….alias sejarah yang akan disebarluaskan harus melalui proses editing dulu….fileeemmm kali hihi.
harus ada tokoh yang berani berkata dan berbuat benar yang punya akses untuk membongkar kebenaran sejarah. masalah selanjutnya dia punya beking gak? kalo beking bebek peking mah banyak noh….lebay nich…
gitu kira-kira daaagg
October 24th, 2007 at 9:33 pm
@ipang:
yang namanya history itu akan selalu jadi history pang, entah kebuka atau enggak, yang kita fokuskan di sini kan history yang sudah menjadi his story, dan jelas kita gak bisa donk terima jadi aja..
@yonna:
agak susah juga, hanya yang berkuasalah yang bisa mencetak sejarah, dan dia mencetaknya sesuai keinginan dan kepentingannya sendiri shingga hasilnya kadang bukan sesuai kebenaran..
WANTED:
penulis sejarah yang jujur, haha..
October 25th, 2007 at 4:08 am
iya betul, hanya yang Maha Berkuasa lah yang menciptakan sejarah sesuai kepentingannya. kayanya di negara lain juga gitu ya…seperti kebenaran sejarah Holocaust yang dikritisi oleh Mahmud Ahmadinejad dan mendapat kritik habis2an. tapi untungnya Ahmadinejad gak gentar untuk melanjutkan kebenaran sejarah Holocaust. Nah gw demen tuh sama keberanian Ahmadinejad, tanpa beking dia bisa jadi walikota Teheran dan sekarang jadi Presiden. Sosok langka di dunia termasuk Indonesia, kita butuh orang kaya beliau. kira-kira siapa ya yang mirip beliau? kalo saya mah gak berani mau review kebenaran sejarah bangsa kita….emang siapa gue? hihihi
October 25th, 2007 at 1:45 pm
@yonna:
yah sayangnya mengenai masalah ini saya gak mau komen banyak ah, hehe.. tau sendiri ntr ada aja yang kesulut emosinya, karena jelas menurut saya sendiri ahmadinejad juga termasuk salah satu pencipta his story dengan mengaburkan kenyataan holocaust..
tapi persepsi orang kan emang beda2, hehe, saya menghargai kok pendapat yonna.. cheers
November 1st, 2007 at 5:22 am
Mo comment, tapi jauh banget dari out of topic kayaknya. Tapi gw greget pengen comment, gimana dong?
Gw tertarik dengan kata HIS STORY. Dolo kelas gender gw pernah memperdebatkan kata itu karena sejarah itu yang diceritakan oleh para HIS (laki2) itu. Jadi, laki2 dari dolo sudah memegang peran penting dalam pembentukan sejarah sesuatu (which is ini jadi issue gender juga, mungkin untuk gw pribadi).
Kata2 woman juga dari WOMB MAN. Kesannya dia manusia (bisa juga laki2) yang punya rahim. Perempuan kayaknya gak pernah berdiri sendiri.
Tapi udah ah, btt. Itu mah self sense gw aja.
History? Doh, gw paling gak suka sama hapalan. Gw suka dalam bentuk artikel atau buku praktis gitu, bukan dalam bentuk buku paket atau buku pelajaran. Kesannya kalo dibaca jadi ada kewajiban untuk dihapal. Hehehehe.
November 4th, 2007 at 8:59 pm
@mynameisnia:
hehe, gapapa kok OOT juga, pasti dihargai, dan lagi menurut gw gak OOT kok nia..
HIS STORY, sejarah diciptrakan oleh para lelaki, hehe, gw gak kepikir malah tentang ini sama sekali, it should be a nice theme for discussion, isu gender..
loh kok perasaan dari tadi pada gak suka sejarah yaa?
thanks nia komennya..
March 13th, 2008 at 7:46 pm
When you become a diplomat, Yuki, remember the truth and tell nothing but the truth. For this, I thank you in advance.
March 13th, 2008 at 8:23 pm
@mbak Jennie:
off course mbak, hehe. untuk saat ini, saya merasa nilai-nilai kejujuran yang diajarkan orang tua saya benar-benar saya terapkan. Mungkin saya terkadang suka melanggar aturan juga, entah sengaja maupun tidak, cuma dengan bangga saya harus bilang kalo soal kejujuran buat saya gak ada kompromi, hehe.