Jangan Pindah ke Jakarta

Sudah seharusnya bila Jakarta sebagai suatu settlement memiliki residential function, labor function, dan services function. Settlement yang saya maksud di sini adalah gabungan dari beberapa area yang memiliki kesamaan sejarah, budaya dan tradisi, serta memiliki homogenitas geografis dan demografis. Sayangnya, kita semua menyaksikan bahwa perlahan-lahan Jakarta mulai kehilangan ketiga fungsi tersebut. Sebenarnya ada banyak sekali faktor yang turut berkontribusi terhadap masalah ini, namun saya ingin memberikan fokus lebih kepada besarnya skala arus urbanisasi ke Jakarta.

Deskripsi urbanisasi bukanlah semata-mata perpindahan penduduk dari desa ke kota seperti yang telah kita pelajari di bangku sekolah, saya lebih suka mendeskripsikan urbanisasi sebagai perpindahan menuju pusat dari suatu gravity zone. Gravity zone sendiri merupakan lingkup settlement yang masih berada dalam pengaruh suatu settlement besar. Seperti yang kita saksikan sendiri, Jakarta (dan beberapa kota lain di pulau Jawa) memiliki gaya tarik yang sangat besar, alokasi dana pembangunan yang tidak seimbang menyebabkan terjadinya kesenjangan pembangunan antara kota-kota besar di pulau Jawa, khususnya Jakarta, dengan kota-kota di luar pulau Jawa. Saya jadi bingung, untuk apa dulu sewaktu SD saya capek-capek menghafalkan isi delapan jalur pemerataan, yang mana salah satu isinya adalah pemerataan pembangunan di dan hasil-hasilnya di seluruh Indonesia.

Pada mulanya, Jakarta memang tampak menjanjikan kehidupan yang lebih baik, khususnya dalam hal income, sehingga masyrakat luar Jakarta pun berbondong-bondong mengadu nasib dengan pindah ke Jakarta. Pada akhirnya, urbanisasi skala besar inilah yang menyebabkan ledakan populasi di kota Jakarta. Orang sering kali salah kaprah dengan mengartikan ledakan populasi sebagai jumlah penduduk yang sangat besar, yang lebih tepat adalah mendefinisikan ledakan populasi sebagai population over resources. Resources yang dimaksud di sini adalah lapangan pekerjaan dan tempat tinggal. Beberapa hal yang dapat dipakai sebagai indikator dari population over resources adalah kemiskinan, kriminalitas, dan kerusakan lingkungan hidup.

Para kaum muda Indonesia yang masih bisa ke kampus dengan kendaraan pribadi, ke mall untuk shopping setiap akhir pekan, dan ke diskotik untuk menikmati musik mungkin masih banyak yang belum menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu isu utama di kota Jakarta. Lapangan kerja yang tersedia tidak mampu mengimbangi jumlah penduduk usia kerja, padahal arus perpindahan penduduk ke ibukota semakin meningkat setiap tahunnya. Di jalan-jalan ibukota pun kita dapat melihat dengan jelas para pengemis dan pemulung yang kebanyakan berasal dari luar Jakarta, mereka menggantungkan hidupnya pada belas kasihan orang lain.

Kebanyakan dari kaum miskin ini yang membangun pemukiman di kolong jembatan, di bawah jalan tol, maupun di pinggir sungai dan tinggal berdesak-desakan di sana. Menyediakan tempat tinggal (residential function) dan lapangan pekerjaan (labor function) jelas bukan lagi merupakan fungsi kota Jakarta, dan jelas bahwa kita tak bisa memperoleh akses ke services yang ditawarkan oleh kota Jakarta, apabila kita bahkan tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan.

Kerusakan lingkungan pun merupakan salah satu isu utama di kota Jakarta. Siapa sih yang tahan berjalan lama-lama dan menghirup asap kendaraan bermotor di jalan-jalan besar kota Jakarta. Bandingkan, misalnya, dengan kota-kota seperti Tokyo atau Vienna di mana berjalan berjam-jam tanpa menghirup asap adalah sesuatu yang sangat mungkin untuk dilakukan. Saya terkadang suka bingung, Indonesia tuh sebenarnya kaya atau miskin ya? Masak bapak ke kantor naik mobil pribadi, ibu ke mall naik mobil pribadi, dan anak ke kampus naik mobil sendiri?

Jumlah kendaraan bermotor yang dimiliki penduduk Jakarta sudah terlalu banyak, dan jumlah ini masih akan terus bertambah dengan drastis di tahun-tahun mendatang. Belum lagi ditambah kenyataan banyaknya penduduk Jakarta yang masih memakai mobilnya yang sudah berusia 20 atau 30 tahun dan sudah mengeluarkan asap yang sangat hitam. Kerusakan lingkungan semakin diperparah dengan kurangnya pepohonan di jalanan kota Jakarta dan sikap cuek masyarakat Jakarta yang suka seenaknya melempar sampahnya sembarangan.

Menyelesaikan masalah kemiskinan memang secara teori tidak terlalu susah, namun penerapannya secara praktek jelas sangat susah walaupun bukan tidak mungkin. Pemerintah Indonesia, misalnya, dapat mencontoh metode yang dipakai oleh negara-negara Uni Eropa untuk mencegah arus migrasi dari daerah negara-negara Mediterrania lewat Barcelona Process. Negara-negara Uni Eropa mengharapkan bahwa dengan membantu negara-negara Mediterrania secara finansial dan meningkatkan taraf kehidupan mereka, masyarakat Mediterrania tidak akan memutuskan untuk pindah ke Eropa. Sejalan dengan ini, pemerintah Indonesia seharusnya meletakkan titik-titik pembangunan di daerah-daerah di luar Jakarta (atau Pulau Jawa) dan mengoptimalisasi implementasi otonomi daerah.

Kerusakan lingkungan karena asap kendaraan bermotor mungkin dapat ditanggulangi dengan penerapan beberapa peraturan baru dalam dunia transportasi kota Jakarta. Perbaikan kualitas transportasi umum yang ramah lingkungan jelas harus diprioritaskan sehingga secara tidak langsung rakyat memilih untuk memakainya. Selain untuk mengisi kas pemerintah setempat, pengurangan jumlah kendaraan pribadi diharapkn dapat mengurangi polusi udara. Penduduk Jakarta seharusnya mencontoh penduduk kota Tokyo, kita terlalu manja untuk naik kendaraan umum, sementara di Tokyo direktur bank pun memilih untuk naik kereta. Pemerintah juga dapat memberikan pajak yang tinggi kepada pemilik kendaraan pribadi yang telah berusia lebih dari 5 tahun. Lebih lanjut lagi, apabila memungkinkan pemerintah dapat menerapkan Odd-Even System, yaitu menentukan hari-hari tertentu dimana kendaraan dengan nomor registrasi ganjil atau genap saja yang boleh digunakan di wilayah ibukota.

Sejauh ini, salah satu bentuk usaha nyata pemerintah dalam menanggulangi masalah ledakan populasi di Jakarta adalah melalui Peraturan Daerah No.4 Tahun 2004, yaitu dengan memberikan opsi kurungan 3 bulan atau denda sebesar Rp.5 juta bagi mereka yang bertempat tinggal tidak di daerah asalnya sesuai di KTP.

Jakarta sudah terlalu padat, mari kita kembalikan fungsi utama kota Jakarta sebagai suatu settlement.

Artikel tulisan saya ini juga bisa dibaca di sini. Gambar diambil dari sini.

This entry was posted on Saturday, October 20th, 2007 at 8:45 pm and is filed under Indonesia. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

30 Responses to “Jangan Pindah ke Jakarta”

  1. Sandy Eggi Says:

    wah orang jepang bicara tentang jakarta :D btw pernah tinggal di jakarta? daerah mana?

    kalo masalah polusi aku setuju banget, jakarta memang bikin pusing. aku yang tinggal di bandung selama beberapa jam langsung merasa pusing.

    beberapa tempat di jakarta sangat layak huni. daerah-daerah kumuh itu daerah pinggiran jakarta bukan?

  2. Rezki Says:

    yupsss…jakarta memang banyak banget kendraannya..siapa yang tahan tinggal disana..kalo aku pasti gak tahan deh…(eheheh jadi sok tahu padahal belum pernah kesana..hehehe)

  3. bleu Says:

    Arus perpindahan, urbanisasi, tidak mungkin berkurang sampai ada equilibrium secara ekonomi.

    Kalau setiap orang bisa meng-quantify every single aspect of her life,misalnya how much she values living in a clean environment versus living in a polluted city, mungkin equation-nya bisa jadi simple dan jelas.

    Barcelona Process seperti yang Yuki jelaskan should work. Pertanyaannya sekarang niat kita sebesar apa? Mungkin banyak orang yang melihat gampangnya, atau secara short-term saja - kemudian memutuskan untuk keep developing Jakarta…

  4. ichaAwe Says:

    di cairo juga suasana ketidakseimbangan sosial juga sama kayak di jakarta … menyedihkan emang …

  5. andy gultom Says:

    sekedar tambahan :

    tata kota indonesia dr awal, blue printnya sudah salah krn kita bangun rumah dulu, baru kemudian jalan (infrastruktur)…

    dimana-mana yg bener itu, bangun dulu jalannya, nanti rumah / gedung2 dibangun belakangan

  6. LifeByYourHand Says:

    jakarta dah sumpek..mending di desa ajah, masih segar udaranya…bener gak ?

  7. Ipang Says:

    1. Penduduk Jakarta seharusnya mencontoh penduduk kota Tokyo, kita terlalu manja untuk naik kendaraan umum, sementara di Tokyo direktur bank pun memilih untuk naik kereta.
    2. Pemerintah juga dapat memberikan pajak yang tinggi kepada pemilik kendaraan pribadi yang telah berusia lebih dari 5 tahun.

    ————————————-
    1. Bozz, bukannya manja or gimana??? Setau gw, kebanyakan di Negara2 laen, Direktur apa pun itulah namanya, mereka tuh kl kerja pasti pakai Kendaraan. Mau ga mau perbedaan U/ membedakan itu pasti ada. Pantaslah Direktur Pakai mobil mewah! Atau gini aja…Pantas ga Seorang Direktur/Pejabat Penting atau Presiden berangkat kerja naek kendaraan Umum??? Sekarang bukan msalah manja or tidak…tp ini masalah lebih komplit. Yah ttg keamanan, kenyamanan dan martabat jg bs.
    2. Kl Peraturan itu di terapkan di Indo ky’nya kacau bozz…Di Indo bnyak mobil tua coz mereka ga mampu U/ tukar yg lebih muda tahun pembuatannya. So, kl diterapkan itu, kynya blm sekarang deh…belum siap Indo pakai peraturan ky gitu, apalagi yg pakai sistem no ganjil or genap(wah kl pakai sistem itu secara ga langsung menggambarkan Hobby Masyarakat Indo…TOGEL)
    Oce bozz….

  8. khim Says:

    untung sudah sejak lama memutuskan untuk tidak akan tingal di jakarta.

    orang indonesia memang manja, liat yang gampang sajalah, anak2 sma n mahasiswa kendaraan standarnya sepeda motor (atau sudah mulai mobil?), bawa sepeda malah dianggap aneh. Di Jepang , Sensei aja kadang2 masih naik sepeda ke kampus.

  9. Yuki Tobing Says:

    @sandy:
    kan sebelom ke tokyo kmren juga di jakarta besarnya, hehe.. hayo tebak dimana tinggalnya?

    yah polusi memang mengerikan, bener2 gak bisa napas rasanya kalo udah keluar mobil di tengah kota..
    tempat2 yang layak huni dari segi kbersihan udara buat saya adalah daerah sekitar jakarta, di bekasi misalnya ada beberapa real estate dimana kita bisa bener2 ngerasain yang namanya fresh air..

    @rezki:
    hehe, rezki tinggal dimana emangnya?

    @mas bleu:
    susah juga emang mas bleu kalau ngomong masalah niat..
    tanpa bermaksud menuduh, kita tahu sendiri kan orang2 dari suku mana yang masuk di administrasi pemerintahan kita, tampaknya agenda mereka bakal trus memprioritaskan pembangunan di daerah tertentu..

    keep developing jakarta bukan ide yang sebenernya saya sukai, terkadang terlintas di kepala ide pemindahan ibukota negara ke luar jawa, jakarta sebagai pusat perekonomian dan medan misalnya (kenapa medan? karena ya pasti tahulah kenapa) sebagai pusat pemerintahan, tapi ya itu, kendala biaya..

    @ichaawe:
    apapun yang gak seimbang memang menyedihkan bu, bayangin kita duduk di mobil berAC dan ngeliat ibu2 gendong bayi jalan tertaih2 sambil mengemis di luar.. di jakarta, ibukota negara pula..

    @andy gultom:
    thanks kawan, hehe, info baru buat saya itu, don’t know much about tata kota soalnya..

    @lifebyyourhand:
    haha, saya sih prefer di kota Pak, bukan apa2 sih, cuma seneng aja liat keramean..

    @ipang:
    pang, balik juga loe, hehe..
    gw kan gak nyruh para direktur di Indo buat naek kereta pang, yang gw maksud di sana direktur aja bisa naek kereta, masa kita di Indo anak2 muda gak bisa naek kereta.. yah kalo di Indo direktur naek kereta repot..

    soal mahalnya beli mobil baru, makanya pake donk angkutan umu, udah disediaiin busway misalnya, rakat erjanya protes bikin macet katanya, lah sapa suruh gak dipake buswaynya, hehe..

    @khim:
    nah betul itu, cuma di Indo sepeda emang udah gak mungkin sih, tempat buat pemakai sepedanya aja gak ada, dan lagi parkirnya repot, tau sendiri yang niat nyolong banyak.. belum lagi polusi udara bkin orang males naek sepeda..

  10. Dony Alfan Says:

    Posting ttg urbanisasi yang saya tunggu2.
    Lha katanya setiap warga negara dilindungi haknya untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Sementara orang2 kampung yang datang ke Jakarta itu niatnya khan cari kerja, kok dilarang, malah kesannya diusir. Emang Jakarta punya siapa? Kalo tidak ingin utbanisasi terjadi terus2an, ya jangan jakarta doang yang dibangun. Duit negara jangan cuman “diputer” di jakarta doang dong. Inilah wajah Indonesia yang terlalu sentralistik!
    Sudah saatnya ada pemerataan pembangunan di daerah!

  11. Yuki Tobing Says:

    @dony alfan:
    judul di atas tidak dimaksudkan untuk mengusir loh mas dony, kalo mengusir kan “pergi loe dari jakarta” atau semacamnya, itu semacam himbauan agar gak memenuhi Jakarta yang udah sumpek lagi..

    apa anda yakin kalo dengan urbanisasi mereka dapat kehidupan yang lebih baik daripada bertani di kampung? saya gak yakin..

    dan ya, seperti yang telah saya tulis di artikel saya ini, memang pemerataan pembangunan adalah kuncinya..

    @all: makasih komen2nya yah, ayo2 yang belum komen di komen juga..

  12. khim Says:

    emang masalah keamanan juga parah, 2 kali aku make sepeda pas kuliah 2 kali juga dicolong padahal dah dikunci di tiang. ????????

  13. Yuki Tobing Says:

    @khim:
    ?????????????????

  14. Joell de Franco Says:

    Mmm…Jakarta ya..blom pernah ngerasain hidup di sana sih, jadinya gak tau banyak…yang saya tau bahwa 70% perputaran uang Indonesia terjadi di Jakarta, bisa dibayangkan betapa ngilernya orang-orang desa membayangkan bakal dapet cipratan uang yang berputar tadi di ibu kota, gak heran tiap tahun ada aja orang desa yang berbondong-bondong ke Jakarta buat mengadu nasib,dan kalopun hal itu tadi menimbulkan efek negatif bagi Jakarta, harus benar-benar dipikirkan pemecahannya, gak asal maen usir trus masa bodo dengan nasib yang diusir…Bakal ruwet juga sebenarnya kalo harus dirunut semua ini salah siapa, Knapa Jakarta jadi sumpek, macet,gak nyaman, dll.
    Menurut saya bukanlah solusi yang nyata kalo hanya menggunjingkan masalah-masalah itu, apalagi membanding-bandingkannya dengan kota atau bahkan negara lain. Semua kota/negara punya karakteristik masing-masing. Ibaratnya kayak saya misalnya dipaksa harus bikin postingan sehebat punya Yuki, jelas aja saya gak bisa karena kemampuan dan karakteristik saya dan Yuki beda jauh.
    Biarlah Jakarta tetap seperti itu. Kalo memang ingin diubah, marilah kita awali dari diri kita sendiri dulu. Yah siapa tau tahun dua ribu sekian nanti si Yuki jadi presiden, pasti bakal bisa menemukan solusi yang baik buat membenahi Ibukota negara kita tercinta itu.

  15. Yuki Tobing Says:

    @joell:
    haha, si joell suka merendah ah.. saya setuju sama bagian perubahan harus mulai dari diri sendiri, bagaimana kita bisa mengharapkan seluruh lapisan masyarakat untuk berubah kalau kita sendiri gak memulainya..
    saya juga mengerti dan memahami segala godaan yang dirasakan penduduk desa untuk pindah ke Jakarta, dan untuk masalah ini ada baiknya mereka belajar dari pengalaman para pendahulu yang gagal dan mengetahui dengan pasti bahwa eksodus labor force dalam jumlah besar tentu pada nantinya akan mengurangi jumlah pemuda usia kerja di desa itu sendiri.. apabila masih bisa berguna dan lebih berguna berada di desa, untuk apa ke Jakarta? hehe..

    thanks temen2 komennya, masih ditunggu loh..

  16. Ronn Says:

    wah… tau aja klo gw lagi berusaha keras spy keluar dari Jakarta, hehehe…..

  17. Nona Nieke,, Says:

    waduh, gak nyangka yg buat postingan ini mahasiswa yg skarang udah terdampar di negara seberang.. *nyeberangnya jauh mksdnya.. hehe :D*

    iya juga sih.. saya juga kalo bukan karena kepepet, males banged hidup di jkt.. tadinya sempet emoh kuliah di sini.. tp mau bagaimana lagi? Allah berkehendak lain.. padahal saya udah ngelamar kuliah di mana2 lho selaen di sini *sudah..! sudah! ini bukan kolom curhat! :P*

    btw mas Yuki,
    I’m back! :)

  18. Yuki Tobing Says:

    @ronn:
    kemane bro? ke Bali lagi? hahaha..

    @nona nieke:
    emang mbak nieke darimana asalnya? wah itu udah takdir mungkin mbak kelempar ke jakarta.. yah, kembali juga akhirnya, ntr tak cek yah blognya.. hehe..

  19. gerry Says:

    ayooo…pindahkan ato paling tidak sebarkan gravitasi tsb..bukan begitu? hehe stuju…

  20. Pangawuna Says:

    Duh,,,,instal firefox hang cpu saya,,hehe,,tapi dpat juga mengikuti goresan ngawurmu sobatku..selamat dan sukses dinegri orang sobat…

  21. Yully Sebayang Says:

    Huh, siapa sekarang yang mau tinggal di jakarta, mending beli rumah di Medan Hahahah
    Yuki, kamu berada dimana sih? Jakarta atau Hungary?

  22. shige Says:

    masalah polusi memang masalah yang mendasar bagi penduduk jakarta. bayangkan, udara adalah unsur utama dalam perkembangan setiap orang. jika kita terus menerus hidup dalam lingkup yang seperti ini, sama artinya kita membodohi diri sendiri dengan membiarkan hal semacam itu terus terjadi ..

    tentang peraturan, mungkin mereka (pemerintah) telah membuatnya dengan sebaik mungkin, tapi masalahnya adalah niat untuk mematuhi dan melaksanakan peraturan2 tersebut yang masih susah bagi kebanyakan warga, bahkan pemerintah sendiri ..

    sudah menjadi rahasia umum kalau pemerintahan di indonesia bersifat individualis dan materialis, yang lebih mendahulukan kepentingan-kepentingan pribadi daripada kepentingan rakyatnya .. parahnya sama sekali tidak memikirkan kepentingan rakyat .. ^^
    mungkin ini merupakan pengaruh lingkungan nusantara yang diberkahi dengan warisan yang melimpah, sehingga penghuninya jadi malas untuk bertindak dan berfikir .. ^^

  23. PuTLie Says:

    jangan pindah ke jakarta? yah mau bagaimana lagi, ga ada pilihan lain bung :)

  24. Yuki Tobing Says:

    @gerry:
    yak betul, kita harus menambahkan pusat gravitasi yang baru di luar jakarta, sehingga ada magnet lain yang bisa menarik orang untuk pindah ke kota2 tersebut..

    @pangawuna:
    hehe, thanks kawan, coba diinstall biar bisa baca lagi..

    @yully:
    eh eh, saya mau loh tinggal di jakarta, hehe.. skrg di Hongaria mbak, ke jakartanya masih tahun depan, mau mampir? kan travel freaks katanya..

    @shige:
    yah kan emang udah mental orang Indo, hehe, kalo gak ngelanggar tuh gak keren..

    @putlie:
    kata siapaputlie? hehe, banya loh opsi lainnya..

  25. Didiet Says:

    byk orang pindah ke jalkarta karena disana pekerjaan byk jadi mereka berbondong2 kesana..kalo berbekal ilmu yg bagus gpp, eh ini mlah byk yg punya kemampuan pas2an kesana untuk ngadu nasib..ya jadi tambah poarah deh jakarta

  26. monsterikan Says:

    jakarta emang kota mampus. gue juga nggak menyarankan orang buat datang ke jakarta. lagunya juga udah dibikin lama. tapi entah kenapa dengan segala kebusukannya gue cinta banget ama kota ini. asik aja buat gue, i dunno why. ada chemistry yang aneh.

  27. mynameisnia Says:

    Ehm (clearing my throat).

    Kalo ngomongin kejelekan tuh gampang banget yak? I mean.. pada saat negara udah terpuruk, masyarakatnya malah ngejelek2in. Dan itu termasuk gw.

    Gw emang tidak tinggal di Jakarta, tapi gw tinggal di negara yang sistemnya bisa menyebabkan ibu kotanya sendiri kayak gitu. Jakarta kayak gitu karena urbanisasi, urbanisasi karena pembangunan gak merata, pembangunan ancur karena korupsi, korupsi karena jadi budaya, budayanya miskin, manja, ngga disiplin, dan tidak menganggap kerja itu sebagai kewajiban. Udah gak kerja jadi miskin, gak bisa sekolah dan gak dapet pendidikan. Har har harrr.. pusing gak lo? Gw aja pusing. Hihih.

    Gak Jakarta juga sih, tapi emang Jakarta doang kayaknya :D :D heheh.

    Gw cinta Banddddduuunnngg..

  28. Tatz Says:

    arggh…jangan ngomongin jakarta. Kota berantakan nan tidak efisien akibat kemacetan dimana-mana.
    Kota pusat segala bidang. Ekonomi, pemerintahan, politik, dll…
    sayangnya sayapun harus menjadi kaum urban didalamnya. ironis..hehehe

  29. Yuki Tobing Says:

    @didit:
    itulah dit, di blog sebelah, jakartabutuhrevolusibudaya.com tempat artikel ini juga dimuat, gw juga udah nulis hal yang sama, bekali dulu diri baru datang..

    @monsterikan:
    I know, gw ngerasa hati gw udah di Jakarta aja, I’ve been living in several other cities, cuma tetep yang paling ngena di hati ya masih Jakarta..

    @mynameisnia:
    haha, gak ada yang ngejelekin nia, kayak gak tau gw aja loe, paling anti ama yang suka jelek2in bangsa tanpa memebri solusi konkrit..

    dan artikel ini ditulis bukan untuk jelek2in loh, saya dengan jelas menyampaikan solusi yang bisa dipikirkan untuk diimplementasikan, hehe..

    @tatz:
    masa sih tatz? if you were given a chance to move to other cities, what would be your choice?

    thanks all, ayo2 yang lain.. hehe

  30. On Car Rules in Jakarta Says:

    […] in my previous article, I have offered the same solutions like Beijing Municipal Committee of Transportation did. I even […]

Leave a Reply

 

Close
E-mail It