Saya + Negara = Saya + Pacar
Pertama-tama saya ingin mohon maaf karena sudah beberapa ini tidak menulis artikel baru, tidak membalas kunjungan para pembaca dan tidak menanggapi komen para pembaca di artikel saya, karena saya disibukkan oleh Ujian Tengah Semester dan kegiatan travelling.Melalui artikel ini, saya bermaksud untuk membahas mengenai nasionalisme dan kaitannya dengan Indonesia. Saya teringat kepada perbincangan antara kedua rekan saya beberapa waktu lalu yang menjadi awal inspirasi saya untuk menulis artikel ini.
A: Loe besok ikutan upacara bendera gak?
B: Ah, nggak ah, loe tau sendiri kalo gw tuh paling males ikut yang kayak gitu-gitu.
A: Payah loe, nggak nasionalis banget sih!
Perhatikan penggunaan kata nasionalis oleh si A. Terminologi nasionalisme sendiri memiliki makna yang sangat ambigu, dan saya rasa sebelumnya kita harus menyamakan persepsi kita mengenai definisi nasionalisme ini.
Silahkan disimak hingga akhir artikel dimana saya meminta saudara sekalian untuk menyebarkan suatu pesan yang sangat berharga ke seluruh dunia, pesan apakah itu?
Berikut ini adalah kutipan yang menarik dari beberapa ahli mengenai definisi kata nasionalisme:
Pride in one?s country or culture, often excessive in nature
Jika kita lihat definisi-definisi nasionalisme yang saya kutip di atas, kita bisa menangkap adanya unsur negatif di dalam makna kata nasionalisme. Definisi pertama menunjukkan adanya rasa bangga bangsa yang berlebihan sedangkan definisi ketiga menunjukkan adanya usaha menempatkan kepentingan negara sendiri di atas kepentingan bangsa. Para politisi pun cenderung mengaitkan nasionalisme ke berbagai events yang menyebabkan terjadinya Perang Dunia I dan II seperti yang diberikan di definisi kedua di atas, misalnya bangkitnya Nazi di Jerman dan fasis Italia yang menyebabkan Perang Dunia II.
Menurut ilmu politik saya rasa ada 5 definisi nasionalisme yang bisa kita pikirkan:
- State Nationalism: Keinginan untuk membentuk satu negara berdasarkan homogenitas ethnik, bahasa, agama, atau lebih luasnya, BUDAYA. Ini merupakan aplikasi kasus pembentukan negara Kroasia, Makedonia, Bosnia-Herzegovina, dan Slovenia yang sebelumnya merupakan bagian negara heterogen, Yugoslavia.
- Separatist Nationalism: Keinginan untuk memisahkan diri dari negara yang sudah ada demi membentuk negara sendiri, seperti kita saksikan pada kasus Chechnya, Quebec, Kosovo, dan kaum Kurdi di Turki dan Iraq utara.
- Unification Nationalism: Keinginan beberapa daerah untuk bersatu dan membentuk suatu negara independen, seperti yang kita saksikan pada kasus pembentukan negara Italia dan Jerman.
- Renewing Nationalism: Keinginan untuk kembali bentuk asli bangsa karena dianggap sebagai tradisi yang harus dipertahankan, seperti pada kasus Jepang (Restorasi Meiji).
- Liberal Nationalism: Keinginan untuk melepaskan diri dari koloni dan membentuk negara merdeka yang bebas dari pengaruh penjajah, seperti pada kasus pembentukan negara Amerika Serikat dari koloni Inggris.
Bisa kita saksikan bahwa asal muasal pengertian kata nasionalisme berasal dari pembentukan negara yang culturally homogenous, namun seiring perkembangan jaman saya merasakan adanya pergeseran makna nasionalisme, seperti yang kita saksikan pada kasus si A di atas. Saya sendiri cenderung mendefinisikan nasionalisme sebagai perasaan cinta dan bangga terhadap bangsa sendiri. Makna definisi menurut saya ini adalah penyempitan dari definisi kutipan pertama di atas.
Lantas, apa sih makna dari cinta dan bangga terhadap bangsa sendiri itu? Mari kita analogikan negara sebagai pacar kita. Mencintai seseorang adalah perasaan yang timbul ketika kita merasa nyaman berada bersamanya. Jika kita masukkan logika ini ke dalam cinta bangsa, saya bisa mengatakan bahwa walaupun sekarang saya tinggal di negara lain yang jauh lebih maju dari Indonesia, yang lebih bersih, lebih nyaman, dan lain sebagainya, cinta saya akan terus saya dedikasikan ke Indonesia.
Jika kita berbicara mengenai perasaan bangga, tentu ada yang kita banggakan. Saya teringat pada pertanyaan rekan saya yang sudah tidak bangga sama sekali dengan Indonesia, “Apa sih sebenernya yang loe banggain dari Indonesia?”. Kita kembalikan lagi masalah ini ke analogi bangga terhadap pacar/istri/suami. Pernah dengar cerita tentang seorang nenek yang kehilangan suaminya yang berusia 90 tahun, dan melaporkannya ke satpam untuk mencarinya sembari memberikan definisi bahwa suaminya adalah orang yang sangat tampan, keren, dan sebagainya, dan jelas saja si satpam merasa kaget ketika menemukan bahwa orang yang dimaksud memiliki jumlah keriput yang lebih banyak dari pakaian adik perempuan saya yang tidak pernah diseterika. Seberapa pun jeleknya, seberapa pun bobroknya, itulah negara kita. Bangga buta donk? Jelas bukan, karena Indonesia masih memiliki banyak sekali hal mengagumkan yang bisa dibanggakan oleh kita sebagai warga negaranya.
Pesan saya melalui artikel ini sangat jelas, sebarkanlah seluas-luasnya kehebatan negara kita, kedahsyatan negara kita, gaungkan nama Indonesia ke seluruh penjuru dunia, biarkan mereka semua tahu segala hal yang bisa Indonesia tawarkan ke dunia internasional. Alasan yang menyebabkan saya membuat artikel ini adalah semata-mata karena semakin banyaknya generasi muda yang kehilangan kebanggaan terhadap Indonesia, baik karena alasan bodoh seperti karena adanya larangan berciuman di depan umum (this is true) hingga alasan seperti tidak tahu apa yang ia banggakan, dan tidak terpenuhinya hak-haknya sebagai individu Indonesia.
Apa pendapat anda?



November 4th, 2007 at 7:58 am
walah panjang banget yah….gak nasionalis banget sih…hahaha….just kidding….
November 4th, 2007 at 10:13 am
kalo menurut saya… tingkat nasionalisme seseorang itu diukur dari seberapa besar kontribusi kita kepada negara !! persis seperti yang dibilang ama Bang Kennedy itu loh
btw, Mohon Maaf Lahir Batin dulu nih..
November 4th, 2007 at 7:18 pm
gaktau ini benar atau gak,tp menurut pendapat saya,skrg udah gakbegitu byk orang yg punya rasa nasionalisme lagi.dan saya merasa sangat kecewa saat mengetahui kenyataan yg ada,anak2 muda skrg terlalu terbuai oleh globalisasi.pada akhirnya mereka berlomba,bukan untuk hal positif,malahan berlomba buat bodoh2in diri sendiri.kalo soal tingkat nasionalisme kita diukur dr apa,hmm….yg jelas bukan org2 yg ngakuny nasionalis,sering nampang d tv atau koran trus ngomong seolah2 mereka nasionalis,tapi dblakang kerjaany korupsi(malu-maluin!!!!)prinsip saya,mungkin lebih gampangny saya berpikir,saya nasionalis,ketika saya mencintai negara saya,memperjuangkan segala sesuatu untuk kebaikan negara saya,dan mengumpamakan negara saya kaya pacar(seperti yg yuki bilang)hehe.
November 4th, 2007 at 9:14 pm
@rezki:
ya ndak papa, yang penting udah mampir, laen kali dibaca kawan, hehe..
@fatah:
saya setuju fatah, lebih tepatnya kennedy bilang:”jangan tanyakan apa yang negara sudah berikan untukmu, tanya apa yang sudah kamu berikan untuk negaramu”
saya bener2 suka dengan prinsip ini, dan saya sudah memegang teguh (ceilah..) prinsip ini sejak lama.. bagi saya adalah hal yang memalukan melihat orang2 yang seenaknya protes ini dan itu padahal mereka tidak pernah berkontribusi apa-apa untuk Indonesia..
@sacrasavin:
adekku, kok ganti2 nama terus dek..
hehe..
makasih kemaren ide2nya soal artikel ini.. gw juga sedih ngeliat anak2 Indo overseas ya, kerjaannya ngejelek2in Indonesia aja, gak pernah baca prinsip saya+negara=saya+pacar sih.. hahaha..
thanks komen2nya, sering2 datang yaa.. ayo2 yang lain..
November 5th, 2007 at 8:25 am
wah bener bgt yuk. banyak bgt anak muda indonesia yang di luar negeri yang tidak lagi bangga dg indonesia.
but you gotta be honest tho, kebanggaan yang kita miliki saat ini adalah kebanggaan terhadap indonesia yang dipaksakan.
yaa.. mirip konsep saya+pacar itu lah. Mo gmn juga ya namanya pacar sendiri ya pasti dibelain lah. Masalahnya disini pacar yang bernama indonesia ini ga mungkin diputusin biarpun sering bikin makan ati.
November 5th, 2007 at 9:22 am
walau hujan emas di negeri orang
lebih baik hujan batu di negeri sendiri.
saya sih blum pernah goin abroad, jadi titip salam dan sebarkan kebaikan indonesia aja lewat pelajar indo yg lagi belajar di luar, kek yuki lah..^_^
November 6th, 2007 at 6:33 am
Nasionalisme…mmm jangan dianalogikan dengan pacaran ah..kenapa saya nggak setuju? karena kalo pacar kita bisa milih, saya pacaran ma si A, eh kok nyebelin, trus saya putus dan ganti pacaran dengan si B yang lebih cocok menurut saya…nah, kalo begitu bagaimana? apakah bisa berlaku juga untuk urusan nasionalisme pada suatu negara?
nasionalisme pada Indonesia yang saya miliki sekarang ini lebih karena saya nggak bisa milih untuk menumpahkan nasionalisme saya pada negara lain, lha bagaimana, wong saya lahir, hidup, dan besar di Indonesia kok. Jadi secara nggak sadar rasa nasionalisme itu muncul dalam diri saya. Mungkin juga rasa nasionalisme saya gak bisa lepas dari campur tangan orde baru yang membuat saya harus upacara dan hormat bendera tiap senin, ikut penataran P4, menghapalkan lagu wajib, dan tetek bengek lainnya. Tapi saya nggak nyesel juga kok…
Seberapapun jeleknya Indonesia menurut orang, saya tetap bangga sama merah putih, saya tetep cinta dengan garuda pancasila, karena sebenernya banyak banget yang bisa dibanggakan dari Indonesia. Dan saya yakin banyak banget negara yang ngiri sama kekayaan alam dan budaya Indonesia, liat aja yang terjadi belakangan ini, begitu banyaknya produk2 kebudayaan kita yang diklaim jadi milik negara lain, sudah dipatenkan segala malah, apa gak hebat itu Indonesia… Jadi menurut saya, sekali lagi menurut saya, nasionalisme itu bukan untuk diperdebatkan dan digembar-gemborkan…mari kita langsung tunjukkan pada ibu pertiwi ini. Dan orang-orang yang nggak cinta sama Indonesia itu, what’s wrong with u???
Buat yuki saya salut banget, biar hidup dinegara yang lebih segala2nya dari Indonesia tapi masih tetep cinta sama merah putih. Indonesia membutuhkan generasi muda macem sampeyan. Indonesia gak butuh orang yang cuma numpang hidup dan menggerogoti Indonesia tanpa menyumbangkan apapun buat kemajuan negeri ini, dan malah lebih bangga sama kebudayaan bangsa laen. Lha wong hidup, makan minum, dan beol di Indonesia kok malah ngerayain thanksgiving atau hallowen, malah lebih apal menu2 di Mc D atau KFC dibanding kelima sila Pancasila.
November 6th, 2007 at 1:34 pm
Wah, mas Yuki ini..
saya jadi penasaran di seberang negara sana apa aja yg udah mas Yuki lakukan buat menebar wanginya nama bangsa kita ini..?
ah, gak usah sebut2 ya, mas?
November 7th, 2007 at 4:42 pm
Bukan bermaksud menyalahkan sejarah, tapi mungkin pembinaan rasa nasionalisme di negara kita kesan nya masih setengah-setengah dan agak dipaksakan (jadi inget jaman orde baru), rasa sayang terhadap masing-masing daerah atau golongan pun jadi lebih besar ketimbang terhadap negara sendiri (jadi inget Jong Java, Jong Sumatera, dll), tapi kalau di analogikan Saya + Negara = Saya + Pacar, jadi nya negara bisa poligami dan selingkuh dimana-mana dong ki???
November 8th, 2007 at 3:30 am
cinta pun harus pada tempatnya dan jangan berlebihan ya?!
nasionalisme, sukuisme, chauvinisme, rasisme, ekstrimisme sama-sama punya masalah yaitu menjadikan pengikutnya berpikiran SEMPIT, TERTUTUP pada perubahan dan kebenaran….wew kok betah ya punya pikiran sempit, gue aja gak betah pakek sepatu sempit ini lagi pikirannya sempit, meski gue berjilbab (tertutup) tapi insya Allah pikiran gue gak tertutup heheheh
Kira-kira gini, punya pendirian, keyakinan, prinsip, iman, dll harus! Tapi pada pelaksanaannya jangan katrok dong?! Kalo ingin menyampaikan pemahaman kita pada orang lain sampaikanlah dengan cara cerdas sehingga omongan kita didengar dan diterima sebagai suatu kebenaran tanpa menyakiti hati orang tersebut. Duuuhh soktoy yak hahaha….tapi semuanya juga udah tau lah soal beginian
Cinta Indonesia…oke deh…menjadi katrok…enggak deh
November 8th, 2007 at 2:37 pm
bagaimana kita menjadi nasionalis, kalau memang mental bangsa masih begitu ‘ bule ‘ minded…hal hal kecil yang sering terlupakan,..bagaimana mencintai produk buatan dalam negeri,…
November 8th, 2007 at 2:49 pm
menurut saya, nasionalisme memang tidak sekedar bisa dinilai dari upacara. saya juga pernah belajar ttg nasionalme dulu, tapi dah lupa. memang unsur yang dimuatnya bisa bernilai positif atau bahkan sebaliknya. yang penting tidak terlalu berlebihan atau pula sebaliknya.
Hehhee,,,, Tulisan mas yuki membuka kemballi sedikit bayang-bayang ingatan.
November 11th, 2007 at 12:07 am
@spasi:
ya, teman saya menamakannya bangga buta.. hehe..
dipikir2 kan banyak man yang bisa dibanggain, sekarang masalahnya kita mau gak menonjolkan “sesuatu” itu untuk menajdi sesuatu yang dibanggakan.. pertanyaannya bukan lagi sekedar apa kita punya kapasitas untuk itu..
saya juga kesel ngeliat anak2 Indo overseas yang dengan noraknya gak berpartisipasi dalam upacara nasional dan jelek2in bangsa, cckk.. we are concerned with the same matters spasi, loe di aussie kan?
@tatz:
makasih tatz, saya selalu berjuang keras di sini memberitakan indahnya Indonesia ke mereka, hehe.. bukan mau sombong, sekedar cerita, kita sempet dibagi ke grup sesuai negara dan kasih deskripsi singkat 10-15 menit tentang negara sendiri dan kenapa orang lain harus ngeliat negara loe, dan walaupun bahasa inggris gw gak sebagus bule2 lain, my teacher tole me that it was an impressive and persuasive presentation.. huhu, mudah2an banyak yang tertarik..
@joell:
ah saya suka ama komennya mas gunemanku, hehe..
setipe ama saya nampaknya orangnya.. bener mas, itulah yang saya maksud, banyak banget kan yang bisa dibanggain dari kita, cuma orang2 Indo kalo ditanya apa yang bisa dibanggain suka pada cengo dengan begonya.. cckk..
makasih joell, indonesia does need you as well.. oh ya, rasa nasionalisme saya juga mungkin muncul dengan cara yang sama kayak joell, mungkin saya hidup belum selama mas joell, jadi gak terlalu merasakan tekanan rezim soeharto dalam hal2 kayak gitu..
orangtua saya lah yang berperan besar menumbuhkan rasa cinta Indonesia dan bangga Indonesia dari saya kecil, dan saya berterima kasih sama mereka.. man, we’re Indonesian, we’re challenged to overcome problems that we are facing now.. hehe..
@keritik kentang:
hhm, not much mbak mbak.. hehe.. yang saya bisa lakukan karena masih pelajar baru semacam introduksi budaya dan musik dan pariwiasata Indonesia secara dasar ke temen2 sekolah, dan menarik mereka untuk mempelajari dan berkunjung lebih lanjut ke Indonesia.. hehe..
@gilang:
hehe, gilang punya point yang sama ama si joell..
emang terkesan dipaksakan, naum kalo ditelaah lebih lanjut emang ada kan yang bisa dipaksakan? setuju gak gilang? hehe..
hehe, gak bisa selingkuh donk, pan persamaannya harusnya perasaan saya ke negara = perasaan saya ke pacar, itu biar singkat ajah.. hehe..
how’s your final exam?
yonna:
saya tau yonna, apapun yang berlebihan emang gak bagus, dan nasionalisme sendiri secara politik pengertiannya emang begitu.. hehe..
tapi yang saya maksud di sini lebih ke mengajak kita untuk lebih bangga loh mbak, bukan untuk mengajak orang berpikiran sempit, hehe..
@mas iman:
well, that’s hard question indeed, perubahannya yah emang harus diri sendiri, tinggal masalah willingness kan?
@mommo:
hehe, emang gak bisa donk mommo dari upcara doank.. mommo sendiri cinta gak ama Indo?
November 14th, 2007 at 3:38 am
iya saya setuju ki
akan ada selalu 2 sisi pastinya, kenapa ga selalu melihat dari sisi yang baiknya yah 
November 14th, 2007 at 5:38 pm
walau kadang agak sebal sama pemerintahanny .. tapi saya tetep nasionalis kok .. ^^
November 20th, 2007 at 10:41 pm
@putlie:
yap, always look at the bright side, hehe..
@shige:
bagus itu shige, it has nothing to do with our government, itu kan perasaan kita sendiri, semacam self of belonging gitu lah..
March 17th, 2008 at 3:22 pm
Ayo Yuki kita sebarkan kebanggan akan Indonesia di seluruh penjuru dunia!
Ayo kita ajarkan Bahasa Indonesia pada teman-teman kita mulai dari Afrika sampai Amerika. Yang aku ajarin ke mereka kmrn sih baru “saya, kamu, dia, makan, nasi, gila, dan kacau” hehe…
Artikel senada dari pengalaman, http://randomworld.wordpress.com/2008/03/11/fenomena-theres-something-about-us-indonesian/
Btw, watashi mo Nihon namae wa iru yo: aoikage hahaha…waktu kecil kebanyakan nonton film ninja-ninjaan
March 18th, 2008 at 7:38 pm
@ian:
habis ini langsung menuju ke artikel bersangkutan di blog loe gw, hehe.
gw juga kok suka ngajarin bahasa Indo ke temen2 orang asing, cuma mereka sukanya nanya yang aneh2 doank, bah.
aoikage, bayangan biru, hehe. thanks ian