Kisah Sedih di Hari Pahlawan
Perlawanan gagah berani yang diberikan rakyat Surabaya terhadap NICA dan allied forces (Inggris) yang ditumpanginya menyebabkan tanggal 10 November akan selalu dikenang dan diperingati sebagai hari pahlawan. Hari ini, kami segenap warga Indonesia yang berada di sini mengikuti kegiatan upacara demi memperingati hari pahlawan ini. Hadir pula di tengah kami, seorang veteran perang kemerdekaan, yang menurut beberapa informasi yang saya terima, adalah salah satu orang yang diduga terlibat dengan “partai merah 1965″ (you know what), sehingga diasingkan kemari. Beliau mengenakan pin berupa burung garuda di jas-nya.Secara tidak sadar, saya mengambil posisi di sebelah beliau sebelum upacara dimulai. Acara pun akhirnya mencapai puncaknya ketika lagu Indonesia Raya menggema di ruangan itu (ket: upacara diadakan di dalam ruangan karena hujan). Sembari menyanyi, saya mengamati beliau, dan entah saya salah lihat atau tidak..
Saya melihat dia melap matanya beberapa kali dan masih tersisa beberapa tetes air mata di pipinya. Semua menjadi jelas ketika beliau menceritakan cerita hidupnya di depan khayalak ramai, dahulu, beliau sempat tidak memiliki kewarganegaraan dan diblacklist sehingga tidak bisa kembali ke tanah air.
Beliau (mulai sekarang kita sebut dia sebagai Bapak A) akhirnya mendapatkan kewarganegaraan Hongaria, namun saya terkejut ketika mendengar bahwa beliau justru merasa sedih ketika itu, karena itu berarti ia tak lagi tercatat sebagai warga negara Indonesia. Namun, dengan gagahnya, beliau masih mengatakan bahwa dia masih merasa diri sebagai orang Indonesia dan mendidik anak-cucunya dengan cara Indonesia.
Saya sangat kagum dengan beliau, beliau lah yang dahulu berjuang selama 4,5 tahun melawan penjajah dan meraih kemerdekaan, dan walaupun harus mengalami nasib seperti ini hanya karena suatu peristiwa yang masih penuh dengan teka-teki, beliau masih bangga berkewarganegaraan Indonesia dan tetap menawarkan beberapa pemikiran-pemikiran beliau mengenai Indonesia.
Ya, beliau jelas adalah salah seorang pahlawan yang terlupakan. Dari dulu, saya selalu beranggapan bahwa pahlawan adalah orang yang hebat. Bukan karena saya dijejali berbagai film anak-anak mengenai superhero yang bisa terbang atau menghilang, namun karena pahlawan melakukan apa yang “di luar tugasnya” demi membela bangsa dan negara. Konsep inilah yang ditanamkan oleh orangtua saya sejak saya kecil. Pahlawan bukanlah orang yang melakukan tugasnya demi bangsa dan negara. Banyak dari mereka yang mati terhormat di Surabaya (maupun di medan perang lainnya) saat itu, mungkin hanyalah penduduk sipil yang tidak mempunyai pengetahuan mengenai strategi perang, pekerjaan mereka pun bukanlah tentara. Bayangkan, betapa terkejutnya saya ketika menemukan bahwa kepala perwakilan masyrakat Indonesia di sini juga menyampaikan konsep yang sama mengenai definisi pahlawan di dalam amanat upacaranya.
Lantas, kenapa mereka mau melakukan apa yang “di luar tugasnya” itu? Karena mereka tahu bahwa kemerdekaan itu adalah hak kita, bukanlah sesuatu yang harus kita tunggu-tunggu sebagai hadiah dari bangsa penjajah yang sekali lagi mencoba menrusak integritas bangsa kita.
Yang ingin saya sampaikan adalah, wahai rekan-rekan sekalian, tidakkah kalian malu kepada bapak A ini? Beliau mungkin telah banyak dikecewakan di dalam hidupnya, dan belum memperoleh penghargaan yang pantas atas jasa-jasanya. Banyak dari kita, yang sudah hidup enak, mana sempat lagi menyempatkan diri untuk berupacara. “Alaah, ngapain sih upacara? Males banget gue!”, kalimat inilah yang disampaikan oleh seorang rekan yang menolak diajaik ikut upacara oleh saya.
Generasi apa ini? Harusnya kita sadar, bahwa para pahlawan itu telah mati demi membela Indonesia, negara kita. Kalau mereka tidak ada juga mungkin kita tidak bisa bersantai-santai menikmati “kemerdekaan” (NB: kemerdekaan dari penjajahan militer, bukan kemerdekaan dari pengaruh bangsa asing) ini. MENGHARGAI PRIBADI PAHLAWAN YANG TELAH GUGUR SAJA KITA TIDAK BISA, APALAGI MAU MENGHARGAI JERIH PAYAH MEREKA MERAIH KEMERDEKAAN ITU DENGAN MENGISI KEMERDEKAAN ITU SENDIRI?
Teruntuk oknum-oknum yang masih melakukan tindakan-tindakan biadab yang merusak dan bikin malu bangsa sendiri, ayolah, apa tindakan-tindakan seperti itu yang para pahlawan dulu inginkan untuk kalian lakukan? Sudah bagus kalian tidak usah mati di medan perang dan tinggal memulai era baru sebagai bangsa merdeka dengan mengisi pembangunan, kok malah sibuk merusak dan bikin malu bangsa?
Teruntuk oknum-oknum yang telah saya sebutkan di atas, malulah kalian, ya, MALU.. Yah, itu juga kalau kalian masih punya..
images was taken from here.


November 11th, 2007 at 2:24 am
Rasa senasib sepenanggungan zaman kemerdekaan dulu yang buat kita sebagai warga negara Indonesia bisa dikatakan berjuang sama-sama demi kepentingan NKRI, orang-orang yang dibilang gak peduli itu cuma memenuhi kepentingan dirinya atau pun golongan nya, sehingga gak sadar apa yang telah mereka perbuat tapi apa harus menunggu perang baru kita berubah, apa harus menunggu di jajah kita harus berubah? Hidup Pahlawan….
Exam ki? wah kayak nya gw gak seberuntung lo hehehe… thx
November 11th, 2007 at 7:03 am
Yuki, gak usah si Bapak A yang udah mempertaruhkan nyawa untuk membela negara.
Aku yang cuma mengorbankan waktu 2×45 menit untuk mendukung negara (timnas Indonesia) waktu Piala Asia aja nangis pas nyanyi Indonesia Raya.
Sekarang yang hilang dari bangsa ini adalah semangat nasionalisme. Aku pernah ngumpulin anak2 satu kos2an buat nyanyi Indonesia Raya waktu 17 agustus. Yang nyanyinya kenceng dengan sikap badan sempurna malah yang anak2 keturunan. Yang pribumi malah cengengesan malu2..
Apa kata dunia??
November 11th, 2007 at 7:31 am
entahlah, apakah kita msh bisa berharap sebuah ‘malu’ kepada mereka.
semoga saja mereka masih bisa.
November 12th, 2007 at 4:16 am
bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pahlawannya…. kita ini bangsa yang besar atau tidak?
November 12th, 2007 at 4:42 am
kebangetan sampe ada anak sekolah gak tau wajah Bung Hatta saat ditanya oleh wartawan beberapa waktu lalu. bahkan ada joke begini “anak umur 4 tahun menyangka patung pangeran Diponegoro sebagai Zorro” ya ampun…
emang kata orang, rasa bangga dan rindu kepada Indonesia baru muncul setelah tinggal di luar negeri. sampe ada kata bijak dari tokoh asal Belanda kurang lebih isinya bahwa kita baru sadar pentingnya negara di saat kita mulai kehilangan.
pengaruh His Story turut menambah kisah sedih di hari pahlawan. bahkan pemuda yang dulunya di sekolahkan ke Rusia untuk misi penyebaran paham komunis di Indonesia sampai sekarang tidak mau pulang lagi ke Indonesia. Kata mereka ada rasa kangen tapi karena dianggap pengkhianat jadi takut mau pulang, padahal mereka menerima beasiswa itu bukan mau mengkhianati tapi bisa saja dipaksa atau memang ingin go international. Kasian deh waktu nanya bandar udara masih di Kemayoran apa gak….udah pindah ke Cengkareng dari tahun 80-an. Bahkan Sobron Aidit yang baru meninggal beberapa waktu lalu termasuk orang yang tidak mau pulang ke Indonesia lagi.
November 13th, 2007 at 11:58 am
Walah, saya juga nggunem masalah yang sama di blog saya, hahaha…jadi saya gak bisa berkomen panjang2, takutnya apa yang saya tulis di blog saya muncul disini semua… buat oknum2 yang Yuki sebutin disitu, tu dengerin…!!!!
November 13th, 2007 at 11:28 pm
hah upacara juga ya
November 14th, 2007 at 2:19 am
Simpatiku untuk beliau!
November 14th, 2007 at 5:52 am
hebat .. semangat nasionalismu tinggi Yuk.
sudah seharusnya kita semua sebagai warga negara Indonesia turut menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawan di masa lalu ..
untuk sementara saya offline blogging Yuk, coz hosting saya sudah kadaluarsa dan blum diperpanjang lagi .. ^^ tapi saya akan tetep sering2 main ke sini deh .. ^^
November 15th, 2007 at 12:08 am
tetep semangat di hari pahlawana..
November 17th, 2007 at 9:01 am
Yuki, Sebut saja nama Bapak A itu.
Biar kita juga tau.
Ato kl gk via email aja ya.
jgnkan bapak A itu. Bung Tomo aja blm di akui kok sama negara.
November 19th, 2007 at 7:52 pm
Endonesia,,,, Tanah air ku,, Tanah tumpah darahku….
negara kita Indonesia atau Endonesia ya…
*sesal mode on
pas nonton nagabonar jadi 2, malah merasa diri gue gak nasioalis sama sekali
November 20th, 2007 at 11:00 pm
@gilang:
haha, betul emang, kadang gw juga mikir gitu kok, apa eprlu dijajah lagi kita yaa..
cck, anak2 sekarang juga kayaknya kurang ngerti kisah2 perjuangan para pahlawan itu dulu, dan sedihnya, gak mau nyari tahu, gimana mau ngargain nantinya..
@pushandaka:
sama man, gw kadang sekarang kalo upacara atau denger lagu2 macem indonesia raya suka gemetar, haaha.. padahal dulu gak gini loh..
gw juga pernah denger tuh yang kayak loe bilang, anak2 keturunan kadang malah lebih serius nyanyiinnya, walaupun di beberapa kasus juga suka gak peduli..
@ale:
ya, saya jelas gak pernah melepas harapan.. hehe..
@anang:
buat saya, ya, kita adalah bangsa yang besar tapi juga kecil, I believe you got my point here..
@yonna:
that’s indeed one sad story, huhu, tapi perlu diingta juga administrasi Gus Dur telah mengadakan pencarian “para buangan” tersebut..
rasa bangga dan rindu saya mungkin perlu diakui baru timbul di saat saya di luar, namun saya rasa itu hanya kebetulan, sebelumnya saya memang tidak terlalu peduli saja..
@tukang nggunem:
I’ll check it out bro, sorry lama banget blom mampir..
@awi:
iya donk, masa gak upacara.. me: tendang jauh2 kepala orang yang gak upcara..
@goestaf:
saya juga bersimpati kepada beliau
@shige:
wah pantesan saya dari kmren ngeklik2 link ke blog loe gak bisa2, malah keredirect ke blog gw, hehe.. semoga cepet beres hostingnya..
makasih yah shige, saya emang sangat menghargai jasa2 para pahlawan itu kok, kamu gimana?
@andi bagus:
yup
@setiyoko:
saya rasa gak usahlah, toh saya tidak minta izin beliau untuk publikasi namanya, hehe.. apa pula untungnya bagi kita semua jika saya tulis namanya di sini?
@lilypoet:
haha, nagabonar 2 emang pesan nasionalisnya kerasa bener, seneng bner gw nonton itu..
@all:
makasih komennya guys, ayo2 yang belom..
November 25th, 2007 at 8:29 am
wow..
saya salut sama orang2 indonesia yang tinggal di luar negeri dan masih tetap meng-’indonesia’..
jangan kayak orang2 indo yang merasa lebih bule dari orang bule sendiri yah, ki..
hahaha.
December 4th, 2007 at 7:49 am
bapak A itu siapa yah. Rahasia ?, kenapa toh.
December 4th, 2007 at 9:02 pm
@vienz:
haha, makasih vienz.. ya gw tau, banyak orang2 menyebalkan kayak gitu, ada juga yang di sini malah..
@lisa:
kenapa mesti dikasih tau lisa? kan bukan itu esensi postnya, hehe..
thanks guys, keep on commenting..