Inside the Jihad: Book Review
Seminggu terakhir ini saya menyempatkan diri membaca buku berjudul Inside the Jihad ini. Buku setebal 556 halaman ini ditulis oleh Omar Nasiri, seorang berkebangsaan Maroko yang berhasil menyusup ke pusat pelatihan Mujahidin di pedalaman Afghanistan pada pertengahan 1990an.
Dibesarkan di Maroko dan Belgia, Omar Nasiri tumbuh menjadi remaja cerdas dan berani. Rumahnya di Belgia kerap kali dikunjungi teman-teman kakaknya yang merupakan aktifis pergerakan Armed Islamic Group (GIA) di Aljazair. Sebagai tambahan, GIA adalah organisasi militan Islam yang menolak diadakannya pemilu di Aljazair dengan melakukan pembunuhan secara brutal ke penduduk sipil. Puncak kekuasaan di Aljazair sendiri saat itu diambil alih oleh kekuatan militer lokal yang diduga didukung oleh pemerintah Perancis. Tidak mempunyai uang, Omar akhirnya menjadi penghubung antara pedagang senjata dengan Hakim (kakak Omar) dan teman-temannya. Senjata-senjata itu sendiri nantinya dikirimkan ke Aljazair.
Omar mulai merasa muak dengan kehadiran para tamu tersebut dan mencuri uang salah satu teman Hakim dengan harapan mereka akan pergi. Yang terjadi sebaliknya, Omar malah hampir dibunuh. Demi melindungi dirinya, Omar melaporkan aktivitas kelompok militan ini ke Gilles, dari dinas rahasia Perancis, DSGE. Gilles meminta Omar melaporkan segala kegiatan kelompok ini ke Gilles sebagai imbalan perlindungan yang diberikannya. Kehidupan Omar berubah, ia sekarang berperan sebagai agen ganda, penyalur senjata ke teman-teman kakaknya yang telah memaafkannya dan juga mata-mata DSGE. Akhirnya, dalam suatu penggerebekan, Hakim dan teman-temannya ditangkap.
Gilles meminta lebih, ia ingin mencoba mengirim Omar ke pusat pelatihan Mujahidin di Afghanistan. Ia berkenan, karena ia juga sejak kecil memiliki keinginan untuk melaksanakan jihadnya sendiri. Ia secara menakjubkan sampai di sebuah pusat pelatihan Mujahidin di Khaldan (klik untuk mengetahui daftar tersangka teroris yang pernah berlatih di sana) di pedalaman Afghanistan setelah melewati Pakistan yang di bawah Benazir Bhutto sedang bersemangat menghancurkan kaum militan. Ia begitu menikmati setiap menitnya di Afghanistan, sekarang ia tahu cara merakit bom dari benda yang ada di sekitar kita, ia mampu meracik racun, ia diajari teknik penculikan, ia pun menguasai berbagai teknik pembunuhan. Walaupun kerap kali dihukum karena sering melucu, Omar menjadi murid kesayangan Ibn al-Shaykh al-Libi, syeikh kharismatis pemimpin pelatihan tersebut. Omar begitu melebur ke dalam komunitas itu, ia merasa diperhatikan dan disayangi, ia belajar semangat kolektivitas, sesuatu yang tidak pernah ia pelajari di dunia individualistik ala Barat. Nantinya, Oman menyatakan bahwa walaupun ia bisa menjalani hidup bebas ala Barat, rokok, anggur, wanita, televisi, dan musik, ia tidak pernah merasa saat lebih bahagia saat berada di pusat pelatihan.
Omar percaya bahwa teokrasi seharusnya dilaksanakan di setiap negara di mana ada umat Islam di dalamnya. Ia percaya bahwa Israel harus pergi dari Palestina, Serbia harus pergi dari Bosnia, dan Chechnya harus merdeka dari Russia. Sempat timbul niatnya untuk berjihad ke Chechnya, namun dicegah oleh Ibn al-Shaykh al-Libi yang berpendapat bahwa Omar harus menggunakan intelektualitas dan kemampuan bahasanya untuk merekrut peserta jihad dari Eropa. Omar, dalam bukunya, mencatat bahwa sesuatu yang menjadi pagar pembatas antara dirinya dengan Mujahidin lainnya adalah ia masih merasa bahwa kaum sipil tidak seharusnya menjadi target, membunuh agen Amerika di tanah Islam ataupun tentara Russia di Afghanistan maupun Chechnya barulah sesuatu yang harus dilakukan.
Saya jadi teringat akan suatu film dokumenter menakjubkan yang dibuat oleh BBC, The Power of Nightmares. Ada seorang bernama Ayman al-Zawahiri, yang nantinya akan menjadi mentor Osama bin Laden, yang memiliki ide bahwa orang-orang yang terlibat dalam politik harus dibunuh, teokrasi adalah sistem yang harus dilaksanakan. Ayman menganggap bahwa pemilu adalah aspek demokrasi yang mengkorup nilai-nilai keislaman. Ayman dan pasukannya melancarkan serangan ke pemerintah terpilih Aljazair dan membunuhi politikusnya dengan harapan mata rakyat akan terbuka bahwa demokrasi adalah sistem yang korup dan akan menerapkan teokrasi. Bayangkan betapa marahnya Ayman saat melihat bahwa rakyat tidak sanggup membuka matanya, Ayman berpendapat bahwa rakyat yang tidak bisa terbuka matanya are justifiably to be killed (istilah yang dipakai Ayman dalam videonya).
Pada saat yang sama, berbagai serangan dengan target penduduk sipil pun semakin marak terjadi, dimulai dari pembajakan pesawat Air France yang hampir ditabrakkan ke menara Eiffel dan berbagai ledakan di stasiun bawah tanah Perancis. Merasa frustasi akan kegagalan revolusinya, Ayman dan Osama bin Laden kembali ke Afghanistan pada tahun 1997, dan di video mereka menyatakan bahwa mereka akan menyerang sumber dari korup itu sendiri, Amerika Serikat. Dimulai dari pemboman besar-besaran di kedutaan Amerika Serikat di Tanzania dan Kenya pada 1998 yang menewaskan ratusan jiwa sampai tragedi 9/11 yang menewaskan ribuan jiwa.
Kembali ke Omar di penghujung 1990an, dia merasa semua itu tidak boleh dilakukan. Omar juga menyalahkan negara Barat yang tidak mau mengerti konsep Jihad yang sebenarnya. Singkat cerita, Omar, sesuai saran Ibn al-Shaykh, kembali ke Belgia dan bertemu Gilles lagi. Gilles akhirnya mengajak Omar menjadi mata-mata di London. Ia memata-matai Abu Qatada dan Abu Hamza yang diduga sedang mengumpulkan massa untuk berjihad. Omar merasa ngeri melihat penjaringan massa oleh kedua orang ini dan meyakini bahwa suatu tragedi internasional besar yang melibatkan militan muslim akan segera terjadi. Sayang, laporan Omar ke atasan barunya dari agen rahasia Inggris, Daniel, kerap dianggap angin lalu. Daniel berpendapat bahwa sepanjang tanah Inggris tidak terancam, dia tidak perlu pusing. Omar menganggap mereka terlalu meremehkan kekuatan para militan. Sebuah kesalahan besar yang berefek fatal di tahun 2005, saat sebuah bom dalam bus meledak di pusat kota London.
Frustrasi dengan pekerjaannya, Omar kembali ke Eropa daratan dan …. Saya tidak mau memberikan spoiler di sini, ada baiknya para pembaca membeli sendiri bukunya.
Saya sengaja menggarisbawahi tokoh Ibn al-Shaykh al-Libi di sini. Dia adalah seorang sheikh dari Libya yang menjadi pemimpin pelatihan di Khaldan. Setelah 9/11, dia ditangkap saat mencoba terbang dari Afghanistan ke Pakistan. Dialah yang bersaksi bahwa Saddam Hussein terlibat dalam kegiatan terorisme internasional dan mengadakan pelatihan untuk anggota Al-Qaeda dan berujung pada invasi ke Irak. Hal ini juga yang mendasari oleh Colin Powell, sekretaris negara Amerika saat itu, dalam pidatonya di sidang DK PBB tahun 2003 yang secara lengkap dimuat di sini. President Bush juga dalam salah satu pidatonya di Cincinnati di akhir 2002 mengutip pernyataan Ibn al-Shaykh ini dalam pidatonya:
“We’ve learned that Iraq has trained al Qaeda members in bomb-making and poisons and gases.”
Di pelatihan, para peserta memang dipersiapkan untuk menghadapi segala kondisi, termasuk memberikan jawaban yang tepat (salah) saat tertangkap dan diinterogasi. Ibn al-Shaykh akhirnya pada tahun 2005 mengakui bahwa dia saat itu sengaja memberikan kesaksian yang salah mengenai Irak. Dia sangat pandai berkelit dalam interogasi, seperti yang dipertunjukkannya di hadapan Omar saat menghadapi polisi Pakistan yang memukulinya. Lantas, kenapa Irak yang jadi tumbal? Ibn al-Shaykh percaya bahwa ladang jihad berikutnya setelah melawan rezim-rezim asing (Amerika, Russia, Israel, Serbia) adalah Irak lalu Iran yang mayoritas beragama Islam Syiah. Berikut saya kutip kalimat dari buku ini:
Pada suatu malam, seorang kawan menanyakan padaku apakah jiha selanjutnya. Ibnu Syeikh menjawab dengan yakin: Irak. Irak kaya dengan minyak, dan pemerintahannya masih lemah. Perang Teluk dan sanksi-sanksi yang dijatuhkannya membuat Saddam Hussein nyaris tidak berdaya. Rakyat bersiap-siap untuk sebuah revolusi karena mereka telah ditindas sekian lama di bawah kekuasaan Saddam. Tentu saja, ada alasan lain untuk berjuang di Irak: jika para mujahidin memenangkan perjuangan di Irak, maka Iran akan dikepung. Ini adalah suatu kesempatan yang menggiurkan.
Menurut saya, buku ini cukup menarik, membuat kita semakin ingin terus melanjutkan ke halaman berikutnya. Saya sendiri tidak berhenti membaca buku ini di bus dan kereta dalam perjalanan ke kampus, di dalam kelas, makan, bahkan saat berbelanja di supermarket. Saya bahkan sempat ditanya-tanyai beberapa orang karena menenteng buku bergambar seperti itu berjudul Inside the Jihad. Ada yang pernah baca? Oh ya, anda bisa melihat wawancara eksklusif 4 menit antara BBC dengan Omar Nasiri di sini dan versi lengkapnya di sini.
Image was taken from here.


March 14th, 2008 at 12:01 pm
Bukunya menarik untuk dibaca. Sayang saya tidak memilikinya.
March 14th, 2008 at 2:45 pm
@WWW:
coba dibeli bung hendro, gak nyesel itu, haha.
March 16th, 2008 at 1:25 pm
-lagi nunggu buku ini nyampe di indonesia-
March 16th, 2008 at 9:20 pm
@ingki:
itu bahasa Indonesia kawan yang punya gw, kebetulan gambarnya ada nya di google cuma yang bahasa inggris.
March 17th, 2008 at 5:54 pm
seru seru..membuat daftar pertanyaan menjadi panjang ttg Islam itu sendiri..Sebegitu menakutkankah agama saya dipandang oleh perspektif luar ?
March 18th, 2008 at 12:20 pm
waduhh…padahal dah muncul sejak 2006 ye..kepengen tau aje tulisan asli di halaman 237 dan 543 dari versi Indonesia nye..
March 18th, 2008 at 6:33 pm
@mas iman:
entahlah, keadaan di eropa waktu pertengahan 1990an emang diwarnai serangan2 bom di paris, misalnya, mungkin hal ini berakibat semakin fatal ke pembentukan image islam sendiri.
@ingki:
emang ada apaan ingki di halaman2 itu? barusan saya cek, nothing special kok.
March 22nd, 2008 at 5:13 am
Buku yang menarik. Islam dan jihad memang sedang menjadi “hot topic” di kalangan masyarakat Barat. Buku-buku mengenai jihad dkk ada di mana-mana. Sayangnya, kebanyakan buku tentang jihad lebih banyak menyudutkan Islam sebagai agama yang anti damai.
Mungkin buku yang satu ini lain yah. I’ll read it kalau nemu deh. Thanks.
March 22nd, 2008 at 12:00 pm
Di Gramedia ada?
March 24th, 2008 at 6:17 am
bahkan mencari nafkah dengan halal untuk menghidupi keluarga (anak-istri-ortu) adalah jihad fisabilillah.
masih banyak orang, baik orang Islam sendiri dan Barat, mengartikan jihad sebagai perang, perang dan perang.
bahkan terdapat hadits Rasulullah SAW yang melarang seorang pemuda ikut berperang karena dia masih mempunyai orang tua dan Rasul menyuruhnya untuk menafkahi mereka dulu dan tidak meninggalkan mereka untuk perang. pahala menafkahi ini sama mulianya dengan berperang di medan perang (CMIIW).
memang sebagai orang Islam, kita harus rajin baca dan konsultasi ke ahlinya supaya pemahaman terhadap Islam benar dan kita pun bisa mengamalkannya ke kehidupan sehari2.
nice, thanks
March 24th, 2008 at 3:23 pm
@guebukanmonyet:
yap, gw udah ngeliat beberapa kok buku-buku seperti yang loe sebutin itu, agak berat sebelah, cuma di buku Omar Nasiri ini dia sama sekali gak berat sebelah kok menurut gw, dia malah bersikap cukup objektif dan dengan pintarnya bisa membedakan mana sikap barat yang benar dan mana sikap jihadist yang benar. bahasanya juga cukup ringan, dan sistem pengenalan tokohnya benar2 tidak membingungkan.
@Rystiono:
ada kawan, belinya juga di sana kok.
@yonna:
jihad fisabilillah kalo gak salah juga pernah disinggung ama si penulis ini, cuma yang dia ceritakan di sini jelas adalah jihad melawan kekuatan asing yang mencoba untuk mendirikan pmerintahan di tanah Islam.
March 25th, 2008 at 5:38 am
ya betul ini cuma nukilan buku kan?
saya pribadi agak bosen dengan pembahasan jihad seperti ini, belum ada buku yang membahas jihad dari sisi non perang. semua jihad yang niatnya bener dan tulus dan untuk tujuan yang benar adalah jihad fisabilillah. bahkan seorang karyawan yang meninggal saat berada di jalan menuju tempat kerjanya atau saat melakukan pekerjaannya, jika dia memang niatnya mencari nafkah untuk keluarganya dan ikhlas, maka dia termasuk syuhada, insya Allah.
sorry, OOT, nice article, saya cuma ingin cari pembahasan jihad yang lain dari biasanya, thanks
March 25th, 2008 at 12:55 pm
@yonna:
sori yonna, salah ngerti gw td, hehe. betul juga yah kata yonna, di toko buku di eropa sini, banyak buku dengen embel-embel jihad di judulnya, cuma isinya selalu tentang analisa bara yang berujung pada kesimpulan bahwa jihad adalah perang. well, can’t say much, gw juga gak ngerti2 amat kok konsepnya. thanks yonna.
March 25th, 2008 at 3:51 pm
penasaran pengen tau yg dituturkan dlm versi aslinye..soal obrolan pisau lipat swiss army&cukur jenggot..gwe blom dapet “emosi” nye di buku yg pernah gwe baca..juga di halaman terakhir soal jihadnye..soal “perbedaan” metode yang omar sebut..aslinye omar ngomong ape ye..
March 26th, 2008 at 2:03 pm
@ingki:
hhm, ntr tak coba cari di toko buku terdekat, siapa tau mereka punya versi Inggrisnya, yang gw baca itu versi Indonesia juga,
March 29th, 2008 at 12:52 pm
I do love books…but I am a denial, win…for some point, I choose to be blindfolded toward several matters that makes me feel like “What exactly the world are we live on?”. That’s my weakness..
But yet, I always bumped to this kinda things also…terakhir nonton Fitna-nya Greet Wilders, baru kemaren..hehe ga tau deh
March 29th, 2008 at 5:04 pm
@Gerry:
Long time did not find you here, haha.
I just went to your blog and read that you just watched Fitna. Kalo gw bilang sih, mengobservasi fenomena kegilaan2 di dunia ini malah menyenangkan loh, jadi menarik aja hidup kita rasanya, haha.
March 31st, 2008 at 8:29 am
interesting book kayanya..
gw sbagai muslim juga aga bingung sama apa yang ada dalam pikiran para kaum muslim yang disebut sebagai teroris ini..gw justru setuju dengan pemikiran Omar bahwa bom bunuh diri, penyerangan, atau apapun itu tidak untuk mengorbankan warga sipil yang tidak tau apa-apa..
perang..perang..perang..apa ga cape ya?
emang ngeri banget klo ngedenger ato baca berita2 ttg perang dsini lah..dsana lah..semoga banyaknya korban yang sudah jatuh menjadi pembelajaran serius buat semuanya ttg dampak perang itu sendiri..
peace…..
March 31st, 2008 at 9:39 am
@doedoedoe:
I know, haha, cuma gw lebih milih gak komen lebih lanjut soal pendapat Omar yang loe maksud itu, toh gw gak punya pengetahuan dan juga hak untuk menilai ajaran agama lain.
Yang gw tangkep dari buku itu sih perasaan kecewa mereka karena mereka gak jadi tuan di tanah sendiri, kecewa karena pemerintahnya mau jadi boneka barat, dan teror jelas cara yang efektif, apalagi mereka jelas tidak takut mati.
May 5th, 2008 at 10:32 am
I finally found a true explanation about “jihad” in a website, so please let me put it here, thanks:
Jihad is out in the war on terrorism
http://www.iviews.com/Articles/articles.asp?ref=AP0804-3564
moga2 belum basi yah
yonna’s last blog post..Hancur Berkeping-Keping
May 5th, 2008 at 9:36 pm
@yonna:
thanks for the link then, hope it would be useful for other readers as well.