Sebuah Siang di Tempat Terjadinya Sebuah Revolusi

Artikel ini juga bisa dibaca di website Portal Hubungan Internasional.

Pengumuman sedikit, adik perempuan saya telah membuat blog, tolong dikunjungi dan dikomentari artikel-artikelnya di sini yah, terima kasih. Dia tidak galak kok. :lol:

Belakangan, saya lebih suka belajar di luar rumah, entah di perpustakaan sekolah, cafe, hingga taman. Siang itu, 31 Maret 2008, saya pergi ke sebuah taman dekat flat saya untuk belajar. Udara hangat disertai angin yang berhembus perlahan khas awal musim semi terasa begitu menyegarkan. Saya merebahkan diri di sebuah bangku taman dan mulai membaca buku catatan saya. Pandangan saya tertuju ke sebuah monumen yang hanya berjarak 10 meter di depan saya.

Ya, monumen itu adalah pilar-pilar kayu yang bisa dilihat di foto ini. Di tahun 1951, di tempat inilah patung Joseph Stalin, si diktator pembawa malapetaka, setinggi 10 meter berdiri dengan megahnya. Di tempat ini juga, rakyat Hongaria pada tanggal 23 Oktober 1956 mengamuk dan melakukan demonstrasi anti-Uni Soviet besar-besaran. Patung Stalin dihancurkan. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?

Perang dunia 2 telah berakhir, pemilu demokratis pertama diadakan di Hongaria, partai komunis Hongaria kalah secara memalukan. Mereka sukses memaksakan pemilu ulangan di tahun 1947, dan dengan segala kecurangannya dan kecerdikannya (salami tactic dan rigged election) berhasil menang. Sebuah konstitusi yang sangat menggelikan ditulis pada tahun 1949, mencakup nasionalisasi perusahaan asing, penghapusan pluralisme partai politik, hingga intervensi besar-besaran pemerintah dalam aktivitas ekonomi. Situasi memanas pada tahun 1951, blok Timur mempersiapkan diri untuk berperang, kesejahteraan rakyat tidak diperhatikan. Moscow pun tidak memberikan tunjangan finansial kepada mereka.

Dua kubu terbentuk. Matyas Rakosi, pemimpin partai komunis Hongaria sekaligus pengikut setia Stalin, pun bersikap acuh menyikap masalah ketidaksejahteraan rakyat. Ia didukung birokrat partai dan AVH, polisi rahasia Hongaria. Kemudian tampillah Imre Nagy, Perdana Menteri (PM) Hongaria, yang bermaksud mereformasi partai komunis Hongaria dan program-programnya, misalnya memperkenalkan sektor swasta, menutup camp konsentrasi, menciptakan sistem peradilan yang sehat, dan mengembalikan kekuasaan ke negara (bukan lagi ke partai). Ia didukung oleh kalangan intelektual.

Imre Nagy dicabut dari jabatannya, dan diganti oleh Erno Gero. Saat itu, sebagian anggota partai sudah membelot menjadi pendukung Nagy. Sebuah pidato rahasia Nikita Khruschev, pengganti Stalin di Uni Soviet, menambah semangat reformasi masyarakat Hongaria. Ia mengkritik sistem diktator ala Stalin, blok Timur terguncang dan mencoba menyesuaikan diri, Rakosi yang juga bergaya diktator dicopot. Angin reformasi berhembus semakin kencang.

Memasuki tahun 1956, kondisi juga memanas di Polandia. Persahabatan erat kedua negara yang sudah berlangsung lebih dari seratus tahun memicu demonstrasi pada 23 Oktober 1956 yang ditukangi oleh kalangan intelektual. Kebablasan, dengan dukungan kaum pekerja dan para pemuda, mereka bahkan sekalian menuntut kebebasan berpolitik dan berekonomi, kebebasan pers, pemilu yang bersih, reformasi ekonomi, dan Imre Nagy sebagai PM. Mereka mengambil alih radio dan mengumumkan semua ini, partai kalang kabut, Nagy diangkat lagi. AVH dan tentara Soviet (sudah ada di Budapest sejak akhir Perang Dunia 2) menyerang dengan senjatanya.

Erno Gero digantikan oleh anak muda didikan Moscow, Janos Kadar. Pada tanggal 28 Oktober, Kadar akhirnya menghentikan serangan AVH, dan membubarkannya, Soviet malah memanggil pulang tentaranya dari Budapest. Pada tanggal 30 Oktober, Nagy membentuk pemerintahan multipartai sesuai hasil pemilu 1945, menyatakan keluar dari Pakta Warsawa dan menyatakan kemerdekaan pada 1 November, revolusi berhasil. Ia bahkan membubarkan partai komunis Hongaria.

Sayang, blok Barat saat itu disibukkan oleh Krisis Suez dan tidak cepat mengambil tindakan merekrut Hongaria ke pihak mereka. Mengkhawatirkan efek domino dari kejadian ini, Soviet memutuskan mengintervensi sepak terjang Nagy secara militer. Pasukan bersenjata dari Moscow tiba di Budapest pada 4 November, pertempuran terjadi selama 3 hari. Nagy akhirnya ditangkap dan dieksekusi di Romania. Di pihak Hongaria, 3000 orang dieksekusi, 2500 orang mati, 13000 orang terluka, dan 50000 orang dipenjara atau dikirim ke camp konsentrasi karena berjuang demi kebebasan. Kadar berkuasa, dan mengambil posisi tengah, antar Rakosi dan Nagy.

Perjuangan yang sia-sia? JELAS TIDAK. Untuk 13 hari, sebuah negara kecil berhasil mengambil alih kekuasaan dari raksasa Uni Soviet yang kemudian merespons dengan pertempuran yang tidak seimbang. Ini adalah sebuah luka yang tidak pernah sembuh bagi Uni Soviet. Majalah TIME yang setiap tahunnya memilih satu tokoh sebagai Man of the Year langsung memilih freedom fighters Hongaria sebagai tokoh tahun 1956.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa Uni Soviet menarik mundur seluruh pasukannya pada 28 Oktober karena banyak dari mereka yang malah bergabung dengan pejuang Hongaria. Soviet mengganti mereka dengan pasukan yang fresh dari Asia Tengah yang bahkan mengira bahwa mereka sedang menghadapi Mesir di Suez. Sungai Danube mereka kira sebagai kanal Suez.

Beberapa hal penting dari revolusi ini:

  • Itu adalah kali pertama Soviet menyadari bahwa Amerika Serikat dan blok Barat tidak akan mengambil resiko perang nuklir dengan menchallenge status quo.
  • Para pejuang tahu bahwa tentara Soviet pasti akan kembali dengan skala besar, namun mereka tetap nekat menyatakan kemerdekaan. Kenapa? Saya menduga bahwa mereka mencoba untuk membuat intervensi Soviet menjadi ilegal, dan hal ini jelas sangatlah pintar. Aksi mereka juga mengandung unsur keputus-asaan dan siap mati.
  • Kebiadaban rezim komunis seperti ini nampaknya berpengaruh besar ke banyaknya intelektual sayap kiri yang meninggalkan partai komunis. Partai pun tidak lagi bisa mengklaim bahwa komunisme eksis karena dukungan kelas pekerja, benar bahwa revolusi ditukangi kalangan intelektual, namun mayoritas dari mereka yang nekat bertempur dan mati adalah masyarakat kelas pekerja dan para remaja.
  • Banyak orang tidak tahu bahwa Mikhail Gorbachev, pemimpin Soviet di akhir 1980an yang terkenal dengan program reformasinya, Glasnost dan Perestroika, adalah didikan Yuri Andropov, pendahulunya. Yuri Andropov adalah duta besar Uni Soviet untuk Hongaria saat revolusi terjadi dan saya rasa dia menyadari dengan jelas bahwa komunisme sama sekali tidak populer dan hanya akan berujung ke kegagalan, reformasi dalam tubuh dan program partai adalah sebuah keharusan. Dia mengajarkan hal tersebut pada Gorbachev.

Kembali ke monumen, monumen itu didirikan pada 2006 untuk mengenang mereka yang mati demi kebebasan di Hongaria. Anda bisa menyaksikan masyarakat Hongaria menangis dan merenung di sana setiap tanggal 23 Oktober.

Akhirnya saya tidak jadi belajar karena ketiduran di sana. :D

First image is owned by myself, second image was taken from here.

Tags: , , , ,

This entry was posted on Friday, April 4th, 2008 at 5:28 pm and is filed under Catatan Pribadi, Hongaria, Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

21 Responses to “Sebuah Siang di Tempat Terjadinya Sebuah Revolusi”

  1. gerry Says:

    love the post, bro….karna panjang, gw pin dulu deh…besok gw mo baca lg…makin bagus aja tulisannya…

  2. sherwintobing Says:

    @gerry:
    Haha, thanks ger, artikel ini udah gw coba tulis seringan dan sependek mungkin padahal, gak banyak yang tahu kalau revolusi ini berpengaruh sama akhir perang dingin, di Indonesia bahkan gak pernah disebut2. :D

  3. iman brotoseno Says:

    sebagaimana saya menyukai sejarah…ini menambah wawasan…

  4. Ipang Says:

    Keren bozz, cm (maap…) gw ga begitu suka ama sejarah…hihihihii….
    Btw, keren juga tuh modelnya Majalah Time…Mungkin dia termasuk “Makhluk Tuhan yg Paleng Seksi” kalee yah….???
    —–
    “Ya, monumen itu adalah pilar-pilar kayu yang bisa dilihat di foto ini. Di tahun 1951, di tempat inilah patung Joseph Stalin, si diktator pembawa malapetaka, setinggi 10 meter berdiri dengan megahnya.”

    Andai, ada monumen Soeharto yg deket taman & ada bangku taman yah bozz…(pasti elu ketiduran lama disitu bozz…hihihihi….)

    Btw, nyambung ga sih bozz comment gw?????

  5. sherwintobing Says:

    @mas Iman:
    Hehe, sekali-sekali sejarah yang jarang diketahui orang. :D

    @Ipang:
    Haha, itu gambarnya gak real lagi Pang, kayak lukisan gitu kok. Kalo monumen Soeharto mana cocok jadi tempat belajar dan beristirahat, paling banyak yang ribut di sana, dan lagi udara di Jakarta gak cukup segar buat bikin orang betah tidur2an di taman. :D

  6. 4nt0n Says:

    Hello mate,

    adikmu juga mau domain dan hosting ga? kalau mau, you know where to find me ;) hehe

    anyway gw udah baca semua,… keren abis nih!

    maju terus calDipin

    apa ituch?

    calon diplomat indonesia..

    rusak rusak..

  7. ingki Says:

    inilah pemahaman sejarah..bukan hafalan sejarah..empuk dan legit sekali pemaparannya..eniwei, tokoh TIME tahun 1956 yang dimaksud itu, Imre Nagy kan Ki..sekedar teknis aja..soalnya gak disebut di paragraf ke-10..

  8. doedoedoe Says:

    wah..wah..ditemukan cara blajar sejarang yg baru yaitu dengan metode “visit yuki’s blog”..hahhahah..
    bner2 bguna content postingnya..ngingetin gw ama buku DUNIA SOPHIE yang ngajak blajar teori ama sejarah filsafat pake pendekatan yg bebeda..
    cuma klo GORESAN NGAWUR ini ngajarin politik, ideologi, ama sejarah..superb ki..

  9. sherwintobing Says:

    @4nt0n:
    Don’t think so ton, hehe, tapi kalo mau pasti dikabarin kok. :D
    Sukses, calon raja webhosting.

    @ingki:
    Kayaknya bukan Imre Nagy aja sih ingki yang dimaksud, gambarnya juga gak mirip sama dia, mukanya dia gak kayak gitu, hehe. :D Kayaknya mencakup seluruh freedom fighter itu. Thanks kawan, hehe.

    Sori belom gw kirim2 nomer telepon si pembuat pesawat, belom bisa contact2 sama ayah saya di Indonesia, begitu nelpon pasti ditanyain. :D

    @doedoedoe:
    Haha, bisa aja loe, gw dapet inspirasi dari dosen gw sebenernya, beliau mantan Menlu Hongaria tahun 90an, trus jadi dubes Hongaria di Amerika, dia dulu ikutan pas rusuh2an lawan Soviet ini. Jadi ada bayangan lah. Thanks.

  10. yonna Says:

    @Sherwin
    what a lovely brother?! sebelum ngepost artikel, promosiin adeknya dulu, gue jadi inget Super Star, sayang Sherwin gak di Jakarta kalo tau acara Super Star pasti ngerti maksudnya :)

    Wauw, membaca sejarah perjuangan suatu bangsa yang ingin lepas dari cengkeraman penjajah sensenya kaya nonton film horor/action yach…tegang :mrgreen:

    Sherwin pernah nonton film Escape From Sobibor gak? sejarahnya juga katanya, tentang tawanan Yahudi yang berusaha lepas dari kamp. ih asli itu film tegang banget, sampe kebelet pipis :)

    btw, gw demen ma reply2 kocaknya, hehe, lanjut :)

  11. Toshihiko Says:

    hey bro, it just passed my mind: what abt having a link exchange? i’ve added urs.

    thx

  12. sherwintobing Says:

    @yonna:
    Ih, gw tau lagi supermama. :D Pernah nonton 1-2 kali, gak seru tapi.
    Benar itu yonna, ini adalah kisah sebuah bangsa yang seakan2 selalu jadi rebutan kekuasaan asing sepanjang sejarahnya.

    Belom pernah nonton itu film, hehe, thanks for the information.

    @Toshihiko:
    Done that. :D

  13. adite Says:

    aduuh saya bacanya pusing.. hehehe apa karena saya kurang suka sejarah..
    tapi kalo ada yang menarik perhatian saya, saya suka juga sama sejarah haik2x

  14. sherwintobing Says:

    @adite:
    Hehe, padahal udah dibuat seringan mungkin kok dit. :D Kalo yang suka sejarah Perang Dingin sih harusnya suka.

  15. Koko Says:

    enggak ada sejarah tentang cewe Rusia?

    Koko’s last blog post..What To Do with The Final Solution [Zen]

  16. Nyoman Ribeka Says:

    berat ni bacaannya. berlaku ga prinsip “sejarah ditulis oleh jenderal yang menang perang” disana. kalo di indonesia kan memang amat sangat berlaku sekali prinsip ini. karena sejarah indo kan hanya yang memuji - muja orde baru aja yang keliatan sekarang …

    Nyoman Ribeka’s last blog post..Pencemaran Nama Baik

  17. sherwintobing Says:

    @koko:
    Wah, gak ada bos, salah tempat anda.

    @Nyoman Ribeka:
    Soal history is written by the victors kan emang fakta yang mungkin gak bisa terbantahkan di seluruh dunia saya rasa, negara2 maju pun banyak yang masih mengingkari kenyataan sejarah. Anda bisa baca artikel saya yang http://sherwintobing.com/2007/10/11/tutupi-saja-terus-kenyataan-sejarah-history-vs-his-story/

  18. adite Says:

    hualaaah gi onleen toh Ki.. heheh cepet amir bales commentnya…
    hah nyokap PTT ke ambon!? alangkah jaohnya…. heheh ada cerita2 unik ga bagi2 dong.. kalo PTT masih ada ga ya jaman saia ntaar… gak tau juga sih, apa semakin jaoh dan semakin melosok semakin cepet promosinya.. gue jadi pengen ke irian jaya deh, abis disana obat2an aja susyah katanya…

  19. guebukanmonyet Says:

    A very good article. Thanks.

  20. sherwintobing Says:

    @adite:
    Hehe, tadi lagi online dite. Yah, biasanya bukannya kalo mau PTT pada menghindari ke daerah? :D

    @Tasa:
    Sama-sama nyet, haha. :D

  21. House of Terror Says:

    […] Joseph Stalin, Matyas Rakosi, Erno Gero, Janos Kadar yang ceritanya pernah saya publish di sini, dan lain-lain. Lantai tiga berisi berbagai seragam dan video pengambilalihan pemerintahan oleh […]

Leave a Reply

 

Close
E-mail It