Pesta Demokrasi di Indonesia
Sejak era reformasi, pemilu benar-benar menjadi pesta demokrasi bagi rakyat Indonesia. Rakyat bisa memilih partai politik (parpol) mana saja sesuai keinginannya, terlepas dari jenis pekerjaan yang ia geluti. Tidak ada lagi peleburan parpol-parpol secara paksa. Tidak ada lagi anjuran berbau paksaan untuk mencoblos parpol tertentu. Tidak ada lagi hambatan berarti dalam pembentukan parpol baru.
Hal terakhir inilah yang hendak saya bahas. Saya menemukan sebuah link di RepublikBabi yang memuat daftar 87 parpol baru yang INGIN bertarung di ajang pemilu 2009 nanti. Mengerikan. Komisi Pemilihan Umum menyebutkan bahwa ada 53 parpol baru yang lolos verifikasi faktual. Jika jumlah ini ditambahkan dengan 16 parpol yang memiliki kursi di parlemen, berarti ada 69 parpol yang AKAN bertarung tahun depan. Wow!!
Sebenarnya apa itu parpol? Saya mendefinisikannya sebagai sebuah organisasi politik yang menominasikan kandidat untuk duduk di parlemen dan merepresentasikan sejumlah prinsip dan ideologi khusus yang diusung oleh mayoritas anggotanya. Perhatikan bagian yang saya tebalkan. Wah, berarti banyak sekali ya prinsip dan ideologi yang ada di Indonesia ini sampai-sampai banyak sekali parpol-parpol baru bermunculan.
Jika anda berpikir demikian, anda salah. Saya memang belum berhasil menemukan data lengkap mengenai prinsip dan ideologi yang diusung parpol-parpol baru tersebut. Namun, jika melihat parpol peserta pemilu 1999 dan 2004, saya hanya menemukan beberapa prinsip dan ideologi saja, seperti Pancasila, Islam, dan Marhaenisme.
Saya berpendapat bahwa pembentukan parpol haruslah merupakan respon dari celah politik yang ada dalam masyarakat. Nah, dengan memanfaatkan celah politik tersebut, parpol dapat menggunakan perbedaan prinsip dan ideologi antar parpol untuk memecahkan masalah tersebut. Beberapa contoh celah politik yang dapat saya pikirkan adalah:
- Agama. Di beberapa negara Eropa ada Christian Party. Hal ini juga kita temukan di Indonesia, dimana ada partai Islam dan Kristen. Celah ini bukan hanya ada di antara dua agama, melainkan antara kalangan religius vs. non-religius. Misal, Alliance of Young Democrats (FIDESZ) vs. Hungarian Socialist Party (MSZP).
- Etnis/Bahasa. Celah ini mungkin tidak ditemukan di Indonesia, walaupun pada skala regional ditemukan partai GAM. Partai yang dibentuk merespon pada ketegangan antara etnis mayoritas vs. minoritas di suatu negara, misalnya Basque Party di Spanyol, Bavarian Party di Jerman, Hungarian Minorities Party di Romania dan Slovakia, dan Swedish Minorities Party di Finlandia. Beberapa parpol anti-imigran saya rasa bisa dimasukkan ke sini, seperti Swiss People Party, Front National di Perancis, dan Lijst Pim Fortuyn di Belanda.
- Kelas sosial. Mungkinkan partai buruh masuk ke kategori ini? Entahlah. Di Indonesia sendiri ada partai buruh pada pemilu 2004. Biasanya partai di kategori ini berafiliasi dengan serikat pekerja.
- Single Issue. Dari Eropa, Amerika, Afrika, sampai beberapa negara di Asia kita bisa menemukan Green Party yang jelas mengusung kampanye cinta lingkungan. Di Hongaria sempat ada partai historis Independent Small Holders yang berusaha melindungi kegiatan pertanian. Di Polandia ada National Party of Retirees and Pensioners yang melindungi para pensiunan. Yang lebih konyol lagi, di Polandia ada Polish Beer Lovers’ Party yang berusaha mempromosikan minum bir dan menghindari vodka demi mencegah alcoholism.
Di Indonesia tidak ditemukan parpol yang mengusung single issue. - Lain-lain.
Lantas, kalau ideologi dan prinsipnya sama saja, kenapa harus bikin banyak parpol? Bukankah lebih gampang menyatukan parpol-parpol yang serupa sehingga kesempatan meraih kursi dan merepresentasikan ideologi dan prinsipnya di parlemen?
Salah satu tahap perkembangan parpol di Eropa adalah mass party. Sifat dari mass party adalah jumlah keanggotaan yang besar dan mewakili kelompok sosial yang sejenis. Cocok bukan? Dana yang bisa diperoleh gabungan parpol akan lebih banyak lagi, dan lebih besar kemungkinan untuk duduk di parlemen.
Atau, parpol dibentuk semata-mata demi memperkaya kantong sendiri? Kita tahu bahwa jumlah sumbangan dari badan usaha dan perseorangan yang boleh diberikan ke satu parpol meningkat 20 kali lipat dari pemilu sebelumnya. Selain itu, rencana pemberian subsidi dari APBN setiap tahunnya Rp.1.000 bagi satu suara yang diperoleh satu parpol juga sangat menggiurkan. Bayangkan, apabila satu parpol memperoleh 10 juta suara, sepanjang parpol itu memperoleh kursi di parlemen, 10 milyar rupiah bisa diraup. Gaji per bulan dan segala fasilitas yang diberikan bagi para anggota parlemen pun sangat menggiurkan dan menjadi semacam insentif negatif bagi pembentukan parpol baru. Konklusinya, pembentukan parpol di Indonesia sama sekali tidak mencerminkan celah politik domestik. Apa pendapat anda?
Efek negatif dari kondisi yang dalam tipologi Sartori ini dinamakan extreme pluralism ini jelas ketidakstabilan dalam jalannya pemerintahan. Contoh nyata, Italia yang sudah lebih dari 40 kali membentuk kabinet baru sejak Perang Dunia 2.
Tags: Indonesia, Parpol, Partai Politik, Pemilu 2009



April 22nd, 2008 at 5:54 pm
ngg, saya agak awam kalau mau ngebahas konsep partai politik, tapi dari yang saya baca, terlalu banyak partai politik adalah tanda2 suatu negara lemah, karena terjadi perebutan kepentingan yang sangat parah. Akhirnya ini membuat kita bertanya2, perlukah kita parpol yang sebegitu banyaknya yang kayaknya cuma buat meramaikan pemilu kita tahun depan? menurut saya tidak perlu. Menurut saya, selama parpol2 itu tidak signifikan, lebih baik parpol2 tersebut dianggap saja tidak ada dan akan lebih bijak kalau kita memilih parpol yang besar… walau mungkin ujung2nya kucing dalam karung.
Hmm, saya tidak tahu akan mencoblos atau tidak, masalahnya dengan partai yang sebegitu banyak, siapa yang bisa menyalahkan kalau orang-orang bingung dan tidak bisa membedakan parpol satu yang lainnya? yang beda cuma kemasan iklan. Saya ampe geli sendiri melihat stiker2 iklan pemilu jabar kemarin. Semuanya memasang slogan penebar janji (kalau ga salah misalnya “pilih sih xxx, jujur bermartabat”). Parpol2 disini apa berpikir bahwa semua orang bodoh yah dan mereka bisa menang dengan menebar janji dan iklan2 doank?
andaikan ada parpol yang memiliki visi menjadikan indonesia negara sekuler, saya pasti coblos parpol itu. tanya kenapa
Calvin Michel Sidjaja’s last blog post..Pengumuman Finalis Lomba Karya Tulis Mahasiswa KSMPMI
April 23rd, 2008 at 5:09 am
what?? Polish Beer Lovers’ Party? Hahahaha..
wah, pengetahuan ilmu politik gua gak sedalam lo.. hehe.. tapi ada satu hal yang pgn gua garisbawahi.. menurut gua, agama itu gak layak masuk politik.. tapi entah mengapa memang begitulah keadaan dunia.. partai kristen, partai islam, dan lain sebagainya.. menurut gua, agama sebagai dasar organisasi sih fine.. tapi gimana kalo organisasi itu dipakai buat meraih tampuk kekuasaan suatu negara? bukankah esensi keagamaannya jadi hilang? jadi kaya orang yang berjuang untuk kekuasaan (bagi dirinya atau kelompoknya) namun dibungkus dengan judul mulia yaitu atas nama agama.
weird.
michaeljubel’s last blog post..Crock Pots - Learning the Ropes
April 23rd, 2008 at 8:42 am
Beginilah negara yang masyarakatnya ssebenarnya baru mengenal demokrasi ya, atau malah sudah yang kebablasan. Kalau menurut saya banyaknya partai bukan lah perwujudan ari banyaknya aspirasi rakyat, melainkan banyaknya kepentinga yang mengatasnamakan rakyat. Memang gak perlu menurut saya, bahwa parpol banyak itu yang daftar di KPU di loloskan, wong banyak ndak mutunya. Perihal partai agama, menurut saya itu perlu(kalau ada yang benar benar punya idealisme). Negara ini bukan negara Sekuler, seandainya negara ini tidak ada campr tangan agama, mau jadi apa ?ada agama saja dah ndak jelas gini apa lagi ndak ada. Menurut saya,negara ini belum siap untuk ndak lepas dari epminmpin yang semi otoriter yang punya nasionalisme. saya baca artikel unik coba di baca disini :http://blitar.org/index.php/Lain-lain/416-Zaman-Emas-Indonesia.html#416
cak Dh1k4’s last blog post..Awas Jebakan
April 24th, 2008 at 6:07 am
“Atau, parpol dibentuk semata-mata demi memperkaya kantong sendiri?”
Nah tu udah tau jawabannya!
Di Indonesia, secara praktek, perbedaan golongan, kelas, latar belakang pendidikan, sosial, agama, ideologi, dll belum mendewasakan para pembuat partai. Oke lah buat partai harus dilandasi keseragaman ideologi, visi, misi, dll tapi kalo ada sedikit perbedaan yang gak gitu masalah, mis: cuma beda suku atau tempat bergaul…..masa’ harus sampe segitunya sih?! harus sama banget maksudnya, gak boleh ada beda dikit pun kayanya. makanya jadi banyak parpol baru. sekalian mengadu nasib baik di dunia politik kali ya?! hmmm
yonna’s last blog post..Man Manual : Approaching Method
April 26th, 2008 at 9:41 am
I refer to the third comment.
Kalau masyarakatnya belum “dewasa” secara politik, yang terjadi seperti sekarang.
Parpol jumlahnya banyak tapi nggak punya kualitas dan SDM yang bagus.
Anehnya, masyarakat justru senang makin banyak parpol denga kualitas rendah (sejauh pengamatan saya)
Tapi saya yakin makin lama makin banyak orang yang mengerti bahwa kuantitas tidak selamanya mencerminkan kualitas. Ingat pesan KB: Dua parpol saja cukup.
Verdinand R.’s last blog post..Silakan duduk, Bu!
April 27th, 2008 at 6:06 am
seriously?? had they really got a beer lover’s party? kill me
saya langsung googling pake keyword itu dan … ya Allah, beneran ada, hahaha. masa mereka jadinya dipilih karena lucu, aaaah gimana sih (geleng2) ada mottonya “it wouldn’t be better but for sure it would be funnier.” ni yang salah partainya apa kpu-nya sono ya
ehm, tentang konklusi itu … mungkinkah itu sebabnya diversifikasi partai tidak bisa memberikan sumbangsih yang berarti bagi begitu majemuknya persoalan bangsa ini? mungkin ini perlu direnungkan juga, betapa bangsa kita seringkali mengedepanklan ego pribadi ketika tampil di muka publik, inginnya dirinya yang dilihat dengan citra yang diprogramkannya. yah, selain alasan insentif itu mungkin … kalo disambung ke isu golput akibat ketidakpercayaan rakyat jadinya kira2 gimana, kak? hehe, kali aja ada nyambungnya
inda’s last blog post..Environment Talks: Important or Useless?
April 27th, 2008 at 10:28 am
Waw. Seru, seru.
Makin banyak partai, makin banyak dapet kaos gretongan.
Kebeneran gue gi make kaos Fauzi Bowo. Dulu jadi bagian tim suksesinya doski soale.
Kapan ni JBRB bikin partai? Ditunggu ya..
Marisa’s last blog post..As sweet as sarsaparilla ice popsicles.
April 27th, 2008 at 11:56 am
Humm…rasa2nya untuk partai di Indonesia belum bisa dikategorikan loyalis terhadap ideologi yang mereka usung. Ketiadaan konsistensi terhadap ideologi tersebut menjadi satu alasan kuat mengapa parpol2 di Indonesia memilih untuk menjadi catch-all party. Itu pula sebabnya simpatisan partai di Indonesia memiliki loyalitas yang relatif rendah.
Hasil pemilihan kepala daerah Jawa Barat baru2 ini jelas mencerminkan hal tersebut. Masyarakat sama sekali tidak loyal terhadap partai, bahkan terkesan apatis terhadap peran parpol. Calon yang diusung partai2 besar (Demokrat-Glokar; PDIP, PPP, PBR, PKPB, PKB, PDS, dan PBB) justru dikalahkan dengan mudah oleh calon yang diusung partai kecil (PKS dan PAN…+ Dede Yusuf mungkin?
)
Personal appeal justru jadi satu poin yang sangat menjual dalam politik di Indonesia. Bukan sesuatu yang mengejutkan bila nanti Tangerang akan memiliki wakil bupati seorang Syaiful Djamil…*knock…knock…knock*…
Sayangnya, kedewasaan berpolitik belum menjadi satu budaya di Indonesia. Mudah2an saja budaya berpolitik saat ini tidak mengkristal, melainkan hanya sebuah proses yang mau tidak mau harus kita lewati untuk menuju kedewasaan berpolitik…
Andika’s last blog post..Krisis Ekonomi AS: Akankah Berbuntut Resesi Global?
April 27th, 2008 at 2:20 pm
bener kata komentar2 diatas ..
makin banyak parpol berarti makin banyak kepentingan pribadi yang cuma mengatasnamakan rakyat, saya pikir masih sangat jarang para pemimpin yang benar-benar berjiwa nasionalis, sebaliknya .. malah bersikap individualis ..
apalagi kerusakan dalam parlemen makin terungkap dengan tertangkapnya anggota DPR atas tuduhan korupsi. juga berita tentang pelanggaran hukum oleh mereka yang membuat hukum, kalo dipikir lebih jauh, sistem di negara ini sudah semakin rusak dan tidak terkendali .. entah bagaimana mengatasi masalah seperti ini .. ^^
April 27th, 2008 at 5:27 pm
Menurut saya, dengan jumlah partai yang tidak terbatas itu sangat tidak relevan dengan pengetahuan politik masyarakat Indonesia sendiri. Tahu apa sih kita, tentang demokrasi? Ngerti apa sih, tentang pemilu jurdil dan tertib? Hasil pilkada tidak sesuai keinginan saja langsung rusuh, ini mau sok-sok ngerti tentang prinsip dan ideologi. Malah saya curiga, jangan-jangan komitenya sendiri tidak mengerti apa yang ingin dicapai dari demokrasi.
Saya prihatin melihat reformasi berjalan ke arah yang tidak jelas seperti sekarang ini. Walaupun di masa Orde Baru banyak terjadi penyimpangan dan pelanggaran HAM, paling tidak pembedaan ideologi dari ketiga partai yang berpartisipasi di pemilu ‘agak-lebih’ jelas (walaupun pada pelaksanaannya, tidak ada juga pencerdasan berpolitik kepada masyarakat, bahkan terjadi pemaksaan dalam memilih). Sejak era reformasi, pemilu yang diadakan dengan sistem multi-partai di negara kita memang belum pernah jelas arahnya.
Sebagai pembanding, kita lihat sistem bi-partai di Amerika (maaf ya, contohnya Amerika lagi. cuma negara ini yang saya tau sedikit2). Paling tidak, orang paling bodoh berpolitik pun bisa membedakan, bahwa Partai Republik arah kebijakannya lebih konservatif, yang biasanya didukung oleh penduduk usia lanjut dan mereka yang religius; sementara Demokrat lebih ke arah perubahan dan lebih populer di kalangan generasi muda. Paling tidak, pembedaan yang jelas ini bisa dijadikan dasar bagi pemilih untuk mengambil sikap. Misalnya, jika saya pro-aborsi, maka saya akan mendukung Partai Demokrat; sementara jika saya mendukung hak kepemilikan senjata bagi individu, maka saya akan mencoblos Partai Republik. Itu contoh dangkalnya saja. Tentu banyak lagi pertimbangan yang diambil pemilih untuk memilih suatu partai.
Sementara di Indonesia, masing-masing partai tidak memiliki pijakan yang jelas ke arah mana mereka akan mampu membawa perubahan di negeri ini. Kalau saya mencari pemimpin yang bersih, bebas korupsi, menegakkan hukum, bla bla bla, sama saja seperti mencari jerami di tumpukan jarum; toh semua partai akan menjanjikan hal yang serupa. Tidak ada gunanya. Tapi kalau saya seorang pemilih yang lebih spesifik; mencari pemimpin yang, misalnya, akan melakukan hal yang nyata menentang pembalakan hutan, mendukung pembangunan ruang-ruang publik yang positif di perkotaan, menyediakan transportasi publik yang manusiawi di kota-kota besar, dan lain-lain, saya rasa hingga detik ini saya belum menemukan partai yang cukup ‘punya sikap’ dan punya prinsip untuk mampu membuat saya memilih partai tersebut.
Hehe, maaf ya yuki. Udah lama ga bikin blog di dalam blog lo! Hehehe…
vienz’s last blog post..Why Don’t We All Speak The Same Language?
April 28th, 2008 at 2:14 pm
@Calvin:
Ya saya setuju, terlalu banyak partai politik memang akan membuat negara lemah. Bayangkan betapa susahnya pengambilan keputusan apabila banyak yang lolos electoral threshold. Seharusnya electoral threshold kita juga dinaikkan sedikit persentasenya. Parpol kecil pun saya kira tidak memiliki kandidat yang cemerlang yang nantinya apabila duduk di parlemen bisa memberikan kontribusi berharga dengan pemikirannya.
Menyikap banyaknya logo seperti yang Calvin sebutkan, teman saya pernah bilang hal ini setidaknya membawa efek positif, di ekonomi dinamakan multiplier effect, penyablon, tukang poster dan sejenisnya akan meraup banyak keuntungan dari sini.
Thanks ide postingannya.
@michaeljubel:
Sepanjang pengetahuan gw sih walaupun berbasis Kristen ideologi mereka masih Pancasila. beberapa partai Islam juga menyatakan bahwa terlepas dari ideologi Islam mereka, mereka juga menerima anggota parpol dari agama lain. Mengusung ide agama seperti ini memang dengan sendirinya membuat parpol tertentu bisa menarik suara yang banyak.
@cak Dh1k4:
Setuju kawan, ada masalah dengan demokrasi yang kebablasan di sini. Kasusnya sama saja dengan negara yang baru memasuki era demokratisasi, kasus paling ekstrim bisa dilihat di Polandia, dimana setelah rezim komunis runtuh banyak sekali parpol bermunculan. Soal sekuler, bukannya negara kita negara sekuler? Oh ya, terima kasih juga atas linknya.
@yonna:
Hehe, udah rahasia umum yak Yonna.
Kalau saya bilang ada unsur sekedar coba-coba juga, emang ada motivasi tersembunyi seperti itu, siapa sih yang gak tergiur melihat banyaknya uang yang bisa diraup dengan duduk di parlemen.
@Verdinand R.:
Orang mungkin mengira banyaknya parpol adalah sesuatu yang wajar, setelah puluhan tahun parpol-parpol dibredel dan dimerger secara paksa, yah semacam euforialah. Sistem dua partai seperti Amerika atau Inggris memang menarik, walaupun kandidat tidak terlalu memiliki banyak pilihan. Yah, mungkin gak sih sistem seperti ini bakal populer di Indonesia mengingat kita memiliki sejarah 3 partai saja namun yang menang itu-itu saja?
@inda:
Saya kira diversifikasi partainya juga belum terlalu kelihatan, apa yang mereka representasikan juga jadi tidak jelas. Rakyat nanti malah milih parpol yang sering kampanye lewat depan rumah mereka lagi, haha. Soal golput, saya pribadi kurang setuju sama golput, seberapa kecilnya pun pengaruh satu suara individu, saya percaya kita harus berkontribusi. Asal udah golput jangan pada komplain saja nantinya kalau pemerintah mulai membuat keputusan yang aneh-aneh.
Ada kan? hehe.
Kemarin ini, sebuah bandara bersejarah di Berlin direncanakan akan ditutup. Diadakan sebuah referendum untuk menentang penutupan bandara itu, masyarakat Berlin tidak ingin bandaranya ditutup, tapi mereka tidak pergi untuk memilih. Dibutuhkan tingkat partisipasi 25% penduduk untuk mengambil keputusan berdasarkan hasil referendum, sayang hanya 21% yang memilih dan 60% di antaranya menolak penutupan. Sekarang warga kecewa karena bandara akan benar-benar ditutup, lah siapa suruh gak milih?
@Marisa:
Loh kok sama, saya juga dulu dukung beliau, walaupun gak nyoblos karena tinggal di luar electoral area. Koleksi kaos partai nih ceritanya? Hehe.
Si GBM sama Yonna aja ntar yang bikin, hehe, saya jadi aide-nya saja.
@Andika:
Tepat sekali, catch all parties. Itulah sebabnya saya menyebutkan mass parties di atas yang jika ditilik dari sejarah perkembangan parpol di Eropa merupakan tahap sebelumnya dari catch all parties. Sebagai contoh juga bisa kita lihat PKS yang seakan mencoba menarik pemilih dari non-Islam dengan beranjak menjauh sedikit demi sedikit dari ideologi mereka. CMIIW.
Pemilihan Gubernur Jabar kan seperti pengulangan pemilihan Gubernur DKI, dimana parpol yang relatif gurem hampir mengalahkan koalisi parpol-parpol bermassa banyak.
Kira-kira kapan ya masyarakat kita bisa dewasa dalam berpolitik?
@shige:
Yap, mengatasnamakan kepentingan rakyat demi kepentingan sendiri. Lihat saja banyak dari mereka yang duduk di parlemen dan tidak berkualitas sama sekali, apa mereka tidak malu (atau tidak takut azab, meminjam istilah film Hidayah :lol:) dengan menkhianati rakyat lugu yang telah mempercayai mereka.
@vienz:
Gue namain keadaan itu dengan democracy deficit, kondisi yang juga terjadi negara-negara eks satelit Soviet yang baru memasuki demokratisasi. Kesamaan sejarah sebenanya ada antara Indonesia dengan negara-negara tersebut, dalam arti kita sama-sama memiliki masa yang sangat panjang berada di bahwa sebuah sistem diktator dimana pemilih dipaksa untuk memilih satu parpol tertentu. Tiba-tiba diktator itu lengser, rakyat yang sama sekali buta mengenai pemilu dan demokrasi yang luber dan jurdil kaget saat mengetahui banyak sekali parpol yang bisa dipilih. Wow, kata mereka.
Contoh yang sangat tepat Vienz, terlihat bukan betapa gampangnya membedakan satu partai dengan lainnya di negara yang telah mencapai sebuah level demokrasi yang sangat tinggi.
Soal rencana-rencana yang loe sebutkan itu memang sangat menarik, dan seperti yang saya bilang, belum ada parpol yang berani mengusung single issue seperti itu, semuanya hanya berani menjelma jadi ctach all party seperti yang andika sebutkan di atas.
Gakpapa Vienz, haha, gw juga seneng banget kok kalo pada kasih komen.
Thanks all. Ayo-ayo yang belum komen.
April 29th, 2008 at 4:40 am
@Sherwin
tunggu-tunggu! *paling peka kalo namanya disebut neh
yang bener tuh GBM dan Rusdi, mereka jadi biang parpol, gue bagian grecokinnya aja
dukung Foke ya, gue dulu dukung Adang, lmyn dikasih oleh-oleh juga meski cuma stikernya doang
yonna’s last blog post..Barang Mewah Bernama Pendidikan Bermutu
April 29th, 2008 at 8:34 am
Gue gak setuju kalau jumlah parpol di Indonesia kebanyakan seperti saat ini. Sederhana aja, bikin bingung yang milih! Hehe.
Ide yang bagus dari Marisa, JBRB bikin partai politik! Hahaha. Kalau emang dibikin gue mau Sherwin dan Marisa ikutan yah.
guebukanmonyet’s last blog post..Should We Ban Dewi Persik?
April 29th, 2008 at 1:26 pm
hehehe, kasian juga orang2 berlin pada gigit jari. hmmm tapi apa keputusan itu sah ya, kan nggak memenuhi kuota, mustinya otoritas di sono juga bisa diprotes tu (nggak bermaksud ngomporin :p)
right, kalo golput ntar kalo ada apa-apa jadinya ngga berhak protes. masalahnya susah juga “memenuhi selera” banyak orang. selama saya ikut pemilu (baru 2 kali sih, pemilu partai ma presiden kemaren) saya sendiri blom pernah tu ngerasain milih yang bener2 sreg di hati, yah paling nggak ada satu dua program mereka yang saya setuju, tapi tetep aja saya memilih tidak dengan keyakinan 100%. oya soal golput itu, kmaren saya baca pilkada yang di jabar tu yang menang sebenernya malah yang golput, blom baca lebih lanjut kenapa begitu
repot juga nurutin maunya semua orang indonesia. cuma kalo kembali ke soal parpol yang banyak banget itu, saya juga setuju kalo yang gituan sebenernya pemborosan aja
* jadi inget lomba debat waktu sma, kalah gara2 ngga bisa mempertahankan argumen kenapa kita sebaiknya nggak golput :p *
inda’s last blog post..Practicing Injection: the anxiety and excitement
May 2nd, 2008 at 9:25 pm
saya tidak bisa berkata banyak untuk kunjungan saya yang kesekian kali di blog ini. Saya cuma ingin mengatakann bahwa tidak rugi juga ternyata kita blogwalking dan menemukan info bagus di republikbabi
antown’s last blog post..Bahaya Rokok
May 5th, 2008 at 9:51 pm
@yonna:
Hehe, yonna sensornya kuat juga nih.
@guebukanmonyet:
Ayo, ayo, gw ikutan, ntar kita bagi2 kaos di pedalaman Jakarta. Emang Jakarta ada pedalamannya gitu?
Soal banyaknya parpol, ngeri juga yak, segede apa tuh ntar kertas suaranya, pemilu 2004 yang cuma 24 parpol aja udah gede gitu ukurannya.
@inda:
Kalau gak salah sih keputusan dihancurin pasti akan diambil kalau referendum gagal, jadi sah-sah saja penghancurannya.
Sebenarnya saya juga sama inda, kayaknya program per parpol kurang disosialisasikan dengan jelas, cuma teriak-teriak bakal bawa perubahan, gampang bener ngejual kata perubahan.
Kok kalah inda? Hehe.
Apa demokrasi kita kurang kuat ya budaya demokrasinya, kalau mau diamati sih biasanya negara-negara yang budaya demokrasinya masih lemah lah yang memiliki fenomena voters turnout.
@antown:
Betul kawan, republikbabi dan banyak blog lainnya memiliki banyak sekali info menarik, selamat blogwalking.
May 8th, 2008 at 12:58 pm
Lebih masuk akal, kemungkinan yang terakhir itu…
doc_wong’s last blog post..Ring in Red
May 9th, 2008 at 4:12 am
Kl menurut gw bozz, smakin banyak Partai brati Masyarakat Indo semakin PINTAR(atau sok Pintar????)!!!
Tapi anehnya…PINTAR nya itu lho koq gak klihatan sampai sekarang!!!!
Mungkin Parpol itu sekarang menjadi salah satu “Lapangan Pekerjaan” di Indonesia
1. Dari pada nganggur…mo buka counter HP jg dah banyak, mo jual Bensin eceran udah banyak pula…so mending bikin Parpol(itung2 bs jd Public Figure dadakan…tetangga sbelah pasti ngrumpiin)
2. Kmaren aja temen gw ikut kampanye..eh dpt Uang jajan(lumayan kan U/ yg masih nganggur…yah, itung2 aja kerja part time di PT. Parpol).
-> Intinya, *Masyarakat Indo itu sebenernya Pintar2(bukti PARPOL banyak…Di LN aja cm ada 2 or 3)
*Semakin banyak Parpol, smakin beruntung Temen2 qt yg buka usaha Sablon Kaos
*Semakin banyak Parpol, Nenek gw semakin bingung mo nyoblos mana(dr rumah dah yakin, eh
sampai TPS bingung cuz tempat Logo Partai di kertas Pemilu yg mo dipilih ga tau…)
*Orang yg terlanjur masuk Dunia Politik, pasti tidak punya cermin di kamar tidurnya…!!!
Thx bozz…Salam Sampah U/ Politikus Busuk Indonesia….
Ipang’s last blog post..Blok Situs Porno …?!?!?!??!
May 9th, 2008 at 2:02 pm
nah ya itu, mungkin kami kalahnya karena shock ngeliat mereka dateng ke forum resmi pake seragam kusut yang kemejanya 100% dikeluarin dari bawahannya trus … pake sandal, gubrak! hehehe, nggak juga sih ya itu karena kita kurang kuat aja argumennya. baru nyesel di kemudian hari setelah baca2 lagi. untung kita tetep dapet hadiah soalnya kan jadi juara harapan, hehehe
voters turnout … ya mungkin juga, sebetulnya saya sedih justru ketika sedang musim kampanye gitu, buat apa sih banyak2 spanduk dan foto2 dan gambar2 gede2 gitu, ngabisin uang aja. kalo mau publikasi ya ajaklah masyarakatnya diskusi tapi jangan cuci otak juga lah. kebanyakan masyarakat yang jadi pemilih juga nggak bener2 mempertimbangkan pilihannya, repot memang
inda’s last blog post..Measuring NAMRU for its Optimum Concentration (of Ethics)
May 9th, 2008 at 2:26 pm
o ya lupa bilang, soal interior itu, saya jawab di blog saya ya kalo di sini takutnya malah lebih bikin oot
inda’s last blog post..Measuring NAMRU for its Optimum Concentration (of Ethics)
May 9th, 2008 at 4:23 pm
Kalau di dunia bisnis, hal ini mungkin seperti kapitalisme kali ya. Tapi sediit kurang jelas
Kalau di bisnis aja pemain2 kecil akhirnya membentuk aliansi strategis utk memperkuat posisi mereka bersama. Karena kalau pemain2 kecil hanya mengandalkan kekuatannya utk cari profit, mereka tahu mereka gak akan sustainable. Brand mereka tidak cukup solid, juga kemampuan finansial mereka lemah utk mendukung usaha mereka bersaing dengan existing players. Dalam usaha menembus pasar, mgkn mereka bisa menjual sejumlah produk dan dapet revenue, tapi mgkn jg akan cepat bangkrut.
Nah, mestinya parpol2 kecil juga bikin aliansi agar bisa dapet market lebih banyak, organisasinya sustainable, lalu bisa mencapai tujuan umum kan? Kalau gak mau bergabung utk menggalang kekuatan bersama dan lebih rela mati cepet meski tujuan umum belum tercapai asal bisa dapet kursi…logika ini mengarah ke satu tujuan parpol yg ky loe juga bilang: cari duit utk kantong sendiri. Dan bukan kantong parpol dan pendukungnya, tapi cm bbrp gelintir pengurusnya
May 9th, 2008 at 4:26 pm
Kok komen gw g ada ian’s last blog post-nya ya hehehe….
May 9th, 2008 at 11:36 pm
@doc wong:
Haha, kayaknya semua setuju soal ini.
@Ipang:
Halo Pang, hehe. Lama bener gak update lo? Setuju juga sih gw, seperti yang gw sebutin di atas temen gw bilang itu namanya multiplier effect, pasti ada aja pihak yang diuntungkan.
Politisi sebagai profesi tunggal? Kayaknya belum ada di Indonesia bukan?
@Inda:
Hooh, pusing lihat bendera dan poster dimana-mana. Kadang ngotorin malah, mana kalau pemilunya sudah lewat suka gak dicabut lagi posternya.
@Ian:
Gw juga bingung Ian, kenapa yak commentluv plugin gw gak bekerja?
Bedanya, kalau di bisnis mereka punya insentif positif untuk membentuk aliansi, di dunia politik Indonesia ini, mereka justru punya juga insentif untuk tidak membentuk aliansi nampaknya.