Era Vladimir Putin Belum Berakhir

Sudah sejak lama saya mengagumi sosok Presiden Russia, Vladimir Putin. Semenjak mengambil kekuasaan dari Boris Yeltsin di tahun 2000, ia menjadi faktor utama dibalik bangkitnya kembali Russia. Terlepas dari gaya “kediktatoran”nya yang bahkan disebut-sebut melebihi Tsar Nicholas II ini, ia merupakan pemimpin pertama Russia yang mengundurkan diri sesuai konstitusi. Ya, artikel 81 pasal 3 konstitusi Russia melarang seseorang untuk memegang kekuasaan sebagai Presiden selama lebih dari dua masa jabatan.

Deputi Perdana Menteri sekaligus kepala perusahaan minyak raksasa Russia, Gazprom, Dmitry Medvedev telah dilantik sebagai penggantinya pada tanggal 7 Mei kemarin. Putinlah yang menganjurkan rakyat Russia untuk memilih muridnya ini pada pemilihan Presiden awal Maret 2008 lalu. Putin belum pergi, Medvedev langsung memberikan posisi Perdana Menteri Russia baginya.

Di sebuah siaran radio pada tahun 1939, Winston Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris, pernah berkata:

“I cannot forecast to you the action of Russia. It is a riddle, wrapped in a mystery, inside an enigma; but perhaps there is a key. That key is Russian national interest.”

Salah satu faktor yang membuat Putin sangat populer di Russia adalah perjuangannya membela kepentingan nasional Russia, walaupun untuk itu ia harus mengorbankan banyak hal, seperti demokrasi dan HAM. Hal ini jelas mengundang reaksi keras dari Barat, namun mari kita lewati dulu bahasan ini.

Misterius, dingin, berani, tanpa kompromi, dan memiliki visi. Itu adalah penggambaran saya mengenai sosok pria pemegang ban hitam Judo ini. Ia menentang siapa saja yang mengancam kepentingan Russia.

Dalam hal keamanan, peletakan missile shield Amerika di Republik Ceko dan Polandia ditentangnya. Ia juga mengkritik rencana perluasan NATO ke Georgia dan Ukraina, dua negara yang dulu tergabung bersama Russia dalam Uni Soviet. Russia jelas berkepentingan di Ukraina mengingat diaspora Russia yang besar di Ukraina Timur. Sementara itu, Russia juga memiliki kepentingan di Abkhazia dan South Odessia, dua wilayah Georgia yang mencoba melepaskan diri. Georgia jelas mengharapkan kehadiran pasukan NATO di sana lewat aksesinya ke NATO. Putin juga menentang negara-negara yang dengan melanggar hukum internasional mendukung kemerdekaan Kosovo dari Serbia, salah satu negara Russophilia terakhir.

Tidak, dia bukan anti-Barat. Dalam beberapa hal mereka juga bekerja sama, kita telah melihatnya misalnya dari keterlibatan Russia dalam six parties talk mengenai Korea Utara, sanksi DK PBB bagi Iran, dan US-Russia Strategic Framework pada bulan April kemarin yang memuat kerja sama kedua negara dalam berbagai bidang, termasuk WTO dan nuclear proliferation.

Putin naik ke takhta kekuasaan saat ekonomi Russia sedang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, kemiskinan, korupsi dan praktek mafia merajalela dan oligarkis baru bermunculan (Pertanyaan: Kenapa bisa ada banyak oligarkis baru pasca-komunisme? Saya akan mencoba membahasnya di lain kesempatan). Antek-antek KGB yang disingkirkan Yeltsin pada masa pemerintahannya maju lagi setelah Putin naik, terutama mereka yang tergabung dalam clan St. Petersburg, termasuk di dalamnya Medvedev. Orang-orang dekat Putin masuk semua ke Kremlin. Nepotisme? Jelas.

Pertanyaannya di sini adalah, mana yang harus diprioritaskan, tegaknya demokrasi dan sistem hukum atau kebangkitan Russia. Putin jelas memilih yang kedua. Hasilnya? Sebuah artikel di kompas edisi 9 Desember 2007 mengutip pernyataan Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral Amerika.

“Sebagai negara yang bangkit dari “jalan kehancuran” Rusia adalah satu contoh sukses luar biasa.”
“Ketika harus memilih antara kebebasan, demokrasi, tetapi disertai kekacauan ekonomi yang terjadi di era Yeltsin dan era Putin yang diwarnai stabilitas, tetapi relatif otoriter, kini rakyat Rusia memilih Putin.”

Bank Dunia kerap kali memuji pertumbuhan ekonomi Russia di masa pemerintahan Time’s Men of The Year 2007 ini yang berkisar 7% selama pemerintahannya. Jumlah investor asing yang masuk ke Russia meningkat dua kali lipat pada tahun 2007. Rakyat yang naik kasta ke kelas menengah jumlahnya mencapai lebih dari 40 juta orang. Gaji dan pendapatan rata-rata rakyat Russia meningkat berkali-kali lipat.

Hal penting lain yang perlu dicatat adalah oil weapon Russia. Selain pemilik 1/8 cadangan uranium dunia dan 1/3 gas alam dunia, Russia memiliki cadangan 1/5 minyak dunia. Putin tahu Uni Eropa bergantung penuh pada minyak Russia dan ia tahu betul bagaimana mempergunakan oil weapon ini. Moscow tidak segan-segan memutus suplai minyak apabila keamanannya terancam, seperti saat Ukraina, Georgia dan Belarussia mulai condong ke Barat. Penyerahan hak monopoli gas alam Kazakhstan ke Russia juga menambah kekuatan diplomasinya.

Sisi gelap pemerintahan Putin adalah pemerintahan yang otoriter, pelanggaran HAM (ingat kasus pembunuhan mantan mata-mata Andrei Litivenko dan wartawati Chechnya Anna Politkovskaya?), dan peredaman suara oposisi. Apakah worth it merelakan semua ini demi kebangkitan Russia? Untuk sesaat ini, tampaknya jawaban mayoritas rakyat Russia adalah YA.

Newsweek edisi 3 Maret 2008 memuat perbandingan menarik antara Putin dan Medvedev. Putin dibesarkan di keluarga kelas pekerja, jiwa kepemimpinannya telah terlihat sejak dini, ia juga memiliki mimpi menjadi agen KGB. Ia sempat menyaksikan masa kejayaan Uni Soviet. Sebaliknya, Medvedev dilahirkan dari pasangan dosen, ia bercita-cita jadi pengacara. Ia besar di akhir era Gorbachev dan mengagumi ide-ide pasar bebas.

Pertanyaannya sekarang, apakah Medvedev hanya akan menjadi puppet Putin atau bisa memasukkan ide-ide liberalnya dn mengambil resiko berhadapan dengan mentornya? Apakah ia mampu menyampingkan ide kekaisaran Russia yang nasionalis ala Putin yang telah mengorbankan demokrasi? Medvedev sendiri pernah menyatakan akan membentuk pemerintahan yang berdasarkan rule of law.

Menjadi Perdana Menteri, Putin telah menggarisbawahi goal Russia untuk saat ini:

“We must, over the next ten to 15 years, get into the top ten ranking of world countries in terms of the quality of life of our citizens.”

Yang pasti, ada beberapa masalah yang saya rasa segera menghadang Medvedev, seperti ketergantungan penuh pada sumber daya alam yang disebutkan di atas, reformasi sosial, iklim bisnis yang kurang kondusif, perlindungan HAM dan perluasan Uni Eropa dan NATO.

Tags: , ,

This entry was posted on Friday, May 9th, 2008 at 2:50 pm and is filed under Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

17 Responses to “Era Vladimir Putin Belum Berakhir”

  1. guebukanmonyet Says:

    Putin adalah sosok pemimpin yang benar-benar hebat. Majalah Time memilihnya sebagai tokoh paling berpengaruh di tahun 2007 dan saya kira pilihan itu tidak salah.

    Sosoknya memang sedikit sangar dan menakutkan, tapi tampaknya pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat Rusia untuk bangkit dari keterpurukan. Lihat Rusia saat ini, mereka sudah dapat berdiri kokoh melawan terpaan negara-negara maju.

    Seandainya SBY bisa “sesangar” Putin. Hehe.

    Nice article bro.

  2. sherwintobing Says:

    @guebukanmonyet:
    Thanks. :D
    Mengagumkan sekali orang ini, haha. Beli Time edisi 100 world most influential people gak Tas, terbitan 12 Mei. He’s there again, yang nulis tentang dia adalaaaahhhh…. Madeleine Albright. :lol:
    Sayang, yang pas dia jadi Men of the Year 2007 punya gw udah hilang.

    Ya, kita butuh pemimpin yang berani mengambil langkah tegas, tanpa kompromi dan tidak takut akan serangan kritik dari negara maju yang terkadang justru malah bertujuan menjatuhkan kita. :D

  3. inda Says:

    saya hanya tahu sedikit tentang dia walaupun saya percaya dia meninggalkan track record yang signifikan selama masa jabatannya. saya ingat dulu waktu smp pernah baca profilnya waktu dia barusan dilantik, posenya pegang anak ayam, cute banget :p

    menarik. “ia merupakan pemimpin pertama Russia yang mengundurkan diri sesuai konstitusi…” jadi pemimpin yang sebelumnya tidak begitu ya? kok rasanya bukan hal baru di sini juga, hehehe

    sayang kemarin kena gosip sama model rusia yang masuk politik, siapa namanya ya, lupa. ah tapi itu sih pastinya soal kecil buat orang dengan wibawa seperti putin

    inda’s last blog post..Measuring NAMRU for its Optimum Concentration (of Ethics)

  4. Andika Says:

    Keberhasilan Putin mengangkat ekonomi Rusia tampaknya membuat Rusia semakin percaya diri. Road to democracy yang sempet dirintis pun tampaknya tidak berdaya di hadapan rezim Putin.

    Saya rasa rakyat Rusia pun sedikit-banyak memiliki kesamaan dengan rakyat Indonesia. Ketika ‘freedom’ ditukar dengan welfare dan national pride, maka rezim tersebut akan dengan mudah diterima.

    Konsep ‘benevolent authoritarian’ yang diusung Putin dengan kedok ekonominya memang salah satu modus operandi yang ampuh untuk diterapkan di negara-negara dengan ekonomi menengah.

    Andika’s last blog post..Yusril & Syaiful Jamil…

  5. Calvin Michel Sidjaja Says:

    setuju dengan opini Sherwin. Putin emang keren, dia merupakan salah satu contoh menarik konsep leviathan. Dia memang mengorbankan demokrasi dan HAM, tapi mengangkat citra Rusia. Saya rasa diktator ala Chavez, Castro, Mugabe, dll harus belajar cara menjadi pemimpin otoriter yang cukup mendekati leviathan seperti Putin.

    Calvin Michel Sidjaja’s last blog post..Mau Menyembuhkan Hexakosioihexekontahexaphobia?

  6. amelia purba Says:

    meskipun bukan favorit saya, harus diakui Putin memang seorang yang sangat berpengaruh bukan hanya di Rusia, tapi juga di dunia. Baru aja kmaren bikin paper tentang Georgia dan NATO, hahaha…kepentingan Rusia di dalam pengambilan keputusan di NATO ternyata berpengaruh banget ya, padahal Rusia bukan anggotanya

    setuju sama Calvin diatas, untuk urusan dictatorship, yang sukses ya baru Putin ^^

    amelia purba’s last blog post..nostalgila lagu lama

  7. Verdinand R. Says:

    Saya mengerti bahwa kadang isu HAM sering menghambat pergerakan seorang pemimpin.
    Indonesia bisa saja seperti Rusia kalau semua tanah milik rakyat dibebaskan tanpa syarat untuk kepentingan bisnis. Nggak ada perlindungan hukum, seperti jaman Suharto dulu.

    Tapi ingat kawan, kesuksesan itu ada siklusnya. Kalau gas dan minyak Rusia sudah menipis, tidak tertutup kemungkinan terjadi resesi kembali. Nanti dosa HAM Putin bisa dibuka kembali. Meskipun Rusia kini hebat, gue tetep lebih senang pemerintahan yang menghargai HAM.

    Anyway, great articles Sherwin!

    Verdinand R.’s last blog post..On Ahmadiyah

  8. rimafauzi Says:

    good solid article, man.

    gue juga baca Time pas dia salah satu most influential itu. cant help but admire the guy.
    dan dia bener bener memperbaiki negara itu, menjadi negara yang jauh lebih desirable untuk tourist destination dan juga investments.
    mungkin kita bisa meng employ dia taun depan utk ganti SBY? :p

    rimafauzi’s last blog post..Is Indonesia/Bali This Bad?

  9. yonna Says:

    setuju ma mbak Rima, ide bagus tuh minta beliau jadi presiden Indonesia taun 2009 besok :lol:

    gue sendiri udah denger reputasi baiknya dan prestasinya selama jadi Presiden Rusia.

    satu yang membedakan beliau adalah beliau punya ketegasan dalam mempertahankan konsep mengatur negaranya, meski ada kekurangan tapi tetep dia bisa menjadi Indispensable President for Russian karena terbukti Rusia maju sekarang. Susah lho bisa dapet pujian dari World Bank dan seorang Alan Greenspan (yang katanya, dari kerut di dahinya yang tersiar di televisi bisa mempengaruhi tinggi rendahnya penjualan saham di Amrik).

    back to top, if only Vladimir Putin was an Indonesian President, i doubt he will survive living here, not because the tropical weather, but because of our Indonesian people and govt seem able enough to drive him crazy. Maybe we should move to Russia then, i can’t stand laughing at my words above if it is come true, just joke, peace :lol:
    yonna’s last blog post..Things I Hate

  10. yonna Says:

    onde mande ada yang salah nih, ralat dikit ya:

    back to top, if only Vladimir Putin was an Indonesian President, i doubt he will survive living here, not because the tropical weather, but because our Indonesian people and govt seem able enough to drive him crazy. Maybe we should move to Russia then, i can’t stand laughing at my words above if it become true, just joke, peace

    sorry :mrgreen:
    yonna’s last blog post..Things I Hate

  11. Marisa Says:

    @ yonna

    if only Vladimir Putin was an Indonesian President, i doubt he will survive living here, not because the tropical weather, but because our Indonesian people and govt seem able enough to drive him crazy.

    Putin won’t stand the bureaucracy. Indonesians won’t stand his discipline.
    And some, won’t stand his secularity. :wink:
    Marisa’s last blog post..On Being Musically Provocative, and Proactive.

  12. yonna Says:

    @Icha
    ohahahahha you elaborate the details :lol:

    i agree, he won’t stand rubber time ala Indonesia, disaster traffic jam in Jakarta, TV shows contain of gossip show and sinetron and so much more.

    after through all of them, i think Putin will suffer some health problem :lol:
    yonna’s last blog post..Things I Hate

  13. sherwintobing Says:

    @inda:
    Haha, masa sih? Bukannya di Indonesia sekarang sudah ada aturan dua kali masa jabatan harus mundur, saya percaya kalau pemimpin kita pun bisa demikian. Yang pelu dicatat, Russia memiliki tradisi sistem diktator sejak jaman Tsar hingga komunis.

    @Andika:
    Tepat sekali Andika, saya sendiri jadi bingung, apakah saya akan memilih freedom jika dihadapkan ke pertanyaan seperti itu? Mari kita lihat apakah dia bisa menjadi contoh bagi pemimpin lain.

    @Calvin:
    Saya setuju dengan anda. Beberapa pemimpin yang sekilas tampak serupa, Chavez dan Mugabe, lebih ke arah pemimpin populis saya kira, menyatakan bertindak demi kepentingan rakyat, namun mengabaikan ketegangan makroekonomi. Saya kira Putin lebih pintar dari mereka dalam hal ini.

    @amelia purba:
    Yap, lucu bukan, bukan anggota tapi bisa mempengaruhi membership sebuah organisasi regional yang bersifat supranational. Bisa dong di share papernya, hehe. :D

    @Verdinand:
    Kita memang berbeda dalam hal ini, hehe, anda mungkin lebih memilih HAM, sementara saya memilih lainnya. :D Mungkin background kita menjelaskan perbedaan ini. Saya setuju, seperti yang saya sebutkan di atas, kemungkinan rintangan yang menunggu Medvedev adalah ketergantungan penuh Russia pada sumber daya alamnya.

    @rimafauzi:
    Haha, bisa juga idenya Mbak, padahal saat beliau naik ke tahta, saya sempat berharap beliau bisa menjadi sosok yang seperti ini loh, mengingat background beliau di bidang militer.

    @Yonna:
    Ah bisa aja Yonna, hehe.

    @Marisa Duma:
    Yap, terlihat jelas dari aksi-aksi dia lewat komite pemberantas korupsi di Russia yang kerap menangkapi tersangka. Sayang, kebanyakan dari yang ditangkap berasal dari kalangan oposisi.

    Thanks all. :D

  14. Alex Says:

    Cara-cara positif Putin dlm kebangkitan bangsanya bisa dicontoh oleh Pemerintah indonesia tanpa harus mengorbankan HAM dan menginjak2 demokrasi.

    oiya udah pindah ya kawan…
    oke deh sy update lagi

    Alex’s last blog post..ISLAM, SAINS dan TEKNOLOGI

  15. Calvin Michel Sidjaja Says:

    “if only Vladimir Putin was an Indonesian President, i doubt he will survive living here, not because the tropical weather, but because our Indonesian people and govt seem able enough to drive him crazy.”

    @yonna
    hahaha I lol’ed really hard reading this, good point!

    Calvin Michel Sidjaja’s last blog post..Mau Menyembuhkan Hexakosioihexekontahexaphobia?

  16. adite Says:

    huihuihui
    kita liat aja perkembangan pemerintahan Medvedev

    gue setuju tuh, asal negara bisa bangkit, harusnya di indonesia yang korupsi di DOOOOR dikepala, kayak di china… mana ada yang brani korupsi lagi..

  17. sherwintobing Says:

    @Alex:
    Hehe, kalau gitu bukan cara Putin lagi dong.

    @Calvin:
    Yeah, that was funny. :lol:

    @adite:
    Yap, I’m for death sentence. Biar tahu rasa mereka. :D

Leave a Reply

 

Close
E-mail It