Masalah Etnis Minoritas di Eropa Tengah dan Timur (Bagian 1)

Seorang pria lahir pada tahun 1914 di kerajaan Austria-Hongaria, mengikuti jenjang pendidikan di Cekoslovakia, menikah di Hongaria, menghabiskan beberapa tahun masa tahanan di Uni Soviet, dan di pertengahan tahun 1990an mati-matian bertahan hidup di Ukraina. Tidak, dia sama sekali tidak pernah berpindah tempat tinggal, dia selalu tinggal di tempat yang sama di daerah bernama SubCarpathia.

Kenapa bisa begitu? Bagi yang tertarik menemukan jawabannya, silahkan ikuti Trilogi “Masalah Etnis Minoritas di Eropa Tengah dan Timur”: Tiga Eropa dan Bangkitnya Nasionalisme Modern, Konflik Antar Etnis di masa Perang Dunia dan Perang Dingin, Mengatasi Konflik Antar Etnis.

Tulisan sudah dibuat sesederhana mungkin. :D
Bagian 1: Tiga Eropa dan Bangkitnya Nasionalisme Modern

Tiga Eropa

Banyak orang terbiasa membagi Eropa menjadi dua bagian, Barat dan Timur. Pembagian ini merupakan pemakaian setelah Perang Dunia 2 dan memiliki aura politik yang kental. Negara satelit Uni Soviet disebut Timur, sementara sisanya disebut Barat. Beberapa ahli sejarah dan geografi mencoba mengajukan argumen mengenai tiga Eropa, Barat, Timur, dan Tengah.

Berbagai istilah yang mengarah ke Eropa Tengah adalah “the Heart of Europe”, “Mitteleurope”, “the land between”, dan “Zwischeneuropa”. Negara-negara yang bisa disebut terletak di Eropa Tengah sendiri adalah Swiss, Austria, Liechenstein, Hongaria, Republik Ceko, Slovakia, Polandia, Slovenia, dan Kroasia. Pada beberapa kasus tertentu, negara seperti Bosnia, Serbia, Ukraina dan Rumania juga bisa ditambahkan. Saya lebih setuju dengan Sameul Huntington dan memotongnya di Transylvania, sebuah propinsi di Rumania, border paling timur Kristen Protestan-Katolik dengan Kristen Orthodox. Di sebelah timur border adalah negara penganut Kristen Orthodox. Dalam kasus ini, mari kita masukkan kawasan Balkan dan Ukraina dalam definisi Eropa Tengah.

Eropa Tengah sendiri merupakan tempat berkumpulnya berbagai rumpun bahasa Eropa, seperti German (Austria, Switzerland, Liecehenstein, Polandia Timur), Finno-Ugrian (Hongaria), Slavs (Slovenia, Kroasia, Republik Ceko, Slovakia, Polandia, Serbia, Montenegro), dan Romance (Romania). Dari segi agama, Protestan, Katholik, Orthodox, dan Yahudi semuanya ada di sana.

Eropa Tengah merupakan tempat berkumpulnya negara bangsa-bangsa kecil yang dikelilingi bangsa-bangsa besar, Jerman di Barat, Russia di Timur, dan Ottoman di Selatan, sehingga seringkali negara-negara di Eropa Tengah ini menjadi ajang perebutan wilayah antara kekuatan ini. Perebutan wilayah ini mengakibatkan pengusiran penduduk asli dan genosida yang jelas menciptakan mosaik etnis di Eropa Tengah. Perlu dicatat, kekaisaran Austria (Habsburg) juga menjelma menjadi kerajaan yang sangat besar di Eropa Tengah, dan setelah bergabung dengan Hongaria di bawah sistem dual monarcy pada tahun 1867, wilayahnya mencakup negara-negara lain di Eropa Tengah.

Austria mencakup Ceko dan Italia Utara, sementara itu Hongaria mencakup Kroasia, Slovenia, Rumania Barat (wilayah Translyvania), Serbia Utara (wilayah Vojvodina), Slovakia, dan Ukraina Barat. Perpindahan penduduk menjadi fitur yang umum di masa itu, sehingga percampuran etnis tidak terelakkan lagi.

Sistem pemerintahan negara-negara Eropa Tengah sendiri merupakan autokratik seperti halnya Eropa Timur, khususnya Russia, namun sejak zaman Renaissance, mereka berkembang ke arah pluralisme seperti halnya Eropa Barat. Parlemen lokal berdiri dimana-mana.

Bangkitnya Nasionalisme Modern

Pertama-tama, perlu dicatat bahwa mereka yang mendiami tanah Eropa sekarang belum tentu penduduk pertama tanah tersebut. Kebanyakan dari mereka datang dari berbagai penjuru dunia, bahkan dari Asia Tengah, menaklukkan penduduk yang sudah ada di situ, mengusirnya ke gunung dan ganti menguasai tanah tersebut.

Hingga abad ke-19, orang Eropa cenderung mengelompokkan dirinya dengan orang dengan status sosial yang sama. Revolusi Industri, Revolusi Perancis, dan Perang Kemerdekaan Amerika Serikat membawa perubahan. Mereka sekarang mengaosiasikan dirinya dengan orang yang memiliki budaya yang sama dengan mereka, khususnya yang menggunakan bahasa dan memiliki agama yang sama.

Napoleon menyatakan semua orang yang berada di Perancis saat itu sebagai French, terlepas dari latar belakang etnis dan sosial mereka. Di Eropa Tengah kasusnya agak berbeda, apabila di Perancis dan Inggris State (negara) dirubah menjadi Nation (bangsa), di Eropa Tengah Nation dirubah menjadi State. Mendefinisikan negara dengan satu bangsa mayoritas merupakan hal yang sangat berbahaya.

Dosen saya pernah mengatakan nasionalisme memiliki dua wajah seperti halnya dewa Romawi Kuno, Janus, wajah yang cantik dan jelek. Wajah cantiknya adalah rasa bangga akan bangsa sendiri, timbulnya solidaritas, dan menginspirasikan penciptaan kebudayaan yang unik. Wajah jeleknya, perasaan benci akan bangsa lain yang berdiam di negara yang sama dengan kita dan perasaan ingin menyingkirkan mereka dan memperlakukan mereka dengan tidak pantas.

Etnis minoritas merasa tertekan dan meminta otonomi daerah. Hongaria tidak memberikannya, namun berbaik hati memberikan mereka (misalnya, Rumania) hak yang sama dengan bangsa Hongaria. Austria melakukan hal yang sama. Pada intinya, mereka bermimpi bahwa suatu saat etnis minoritas ini akan memutuskan untuk berasimilasi dengan budaya mereka. Di Balkan sendiri, Ottoman mulai memperbaharui sistem politiknya, memberikan kemerdekaan bagi Yunani pada 1830 dan otonomi luas, dan nantinya kemerdekaan, pada Serbia dan Romania. Russia muncul sebagai pelindung segala bangsa Slavs dan mendukung pembentukan Pan-Slavinism yang akan menyatukan seluruh Slavs dalam kekuasaannya. Pada akhirnya, Russia memilih mendukung Serbia membentuk Greater Serbia sebagai pemimpin Slavs di Balkan.

Perjanjian San Stefano memberikan Makedonia untuk Bulgaria yang kemudian diberikan bagi Serbia oleh kongres Berlin. Negara-negara Balkan yang berada di bawah kekuasaan Ottoman bersatu membentuk aliansi Balkan dan mengusir Ottoman dari Eropa, Ottoman tinggal memiliki Istanbul di Eropa. Setelahnya, aliansi Balkan pecah karena terlibat perebutan wilayah. Serbia ingin mencaplok Bosnia dalam rangka pembentukan Greater Serbia, padahal Bosnia masih dalam kekuasaan Austria-Hongaria. Russia pada akhirnya berkonflik dengan Austria-Hongaria karena mendukung Serbia. Ya, semua negara menginginkan wilayah yang lebih luas seperti sebelum mereka dijajah, sayang klaim mereka sering kali bertabrakan. Yunani ingin Makedonia, Bulgaria dengan justifikasi Perjanjian San Stefano ingin Makedonia, Serbia dengan ambisi Greater Serbianya juga ingin. Romania dan Bulgaria berebut Dobrudja. Italia mengambil Albania yang juga diinginkan Serbia demi akses ke laut Adriatik. Diam-diam Albania juga sudah mulai menginginkan Kosovo. Etnis Rumania di barat Transylvania mulai bosan berada di bawah Hongaria. Serbia pun belum melepas mimpi merebut Bosnia dari Austria-Hongaria.

Serbia sadar bahwa ia tidak bisa merebut Bosnia tanpa bantuan negara besar. Sadar bahwa Russia di pihaknya, organisasi teroris Serbia, Black Hand, mengutus Gavrilo Princip untuk membunuh putra mahkota Austria, Franz Ferdinand, di Sarajevo. Sisi buruk sistem aliansi, apabila teman kita diserang kita punya kewajiban membela. Austria-Hongaria menyatakan perang atas Serbia, Russia membela Serbia, sekaligus menyeret Perancis (konsekuensi French-Russo alliance) dan Perancis menyeret Inggris. Jerman, sahabat Austria-Hongaria, yang sedang terlibat adu hegemoni dengan Inggris dan Perancis pun terjun. Perang tambah seru dengan masuknya Italia dan Ottoman, yang masih berambisi menguasai Balkan lagi, di pihak Jerman.

Perang berakhir, berbagai perjanjian perdamaian dibuat. Sayang perjanjian-perjanjian tersebut terlalu tidak adil bagi pihak yang kalah dan akan berpengaruh sangat besar nantinya bagi perkembangan masalah etnis minoritas Eropa.

(…bersambung)

Tags: , , ,

This entry was posted on Saturday, May 17th, 2008 at 5:11 pm and is filed under Hongaria, Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

6 Responses to “Masalah Etnis Minoritas di Eropa Tengah dan Timur (Bagian 1)”

  1. aAng Says:

    wa, kayak baca buku karangan ahli sejarah-sosiologi-antropologi-psikologi-filosofi
    ternyata eropa gitu ya
    yg saya amati dari dulu, eropa umumnya suka menguasai
    makanya negaranya kecil2 tapi bandel & kuat
    kelebihan karakter koleris mungkin :roll:
    aAng’s last blog post..trend game rf (rising force) online

  2. michaeljubel Says:

    wew. gua bener2 banyak menyerap informasi dari tulisan lu ini. gile, sejarah eropa gua payah. yang gua tau cuman yunani ama romawi kuno. hehehe.. (berhubung cuman itu yang diajarin pas sma).

    anyway, got a question here. kenapa turkey dianggap negara eropa ya? dan maksud elu turku (ottoman) udah didepak dari eropa tuh apa? gua bingung aja.. turkey kayanya lebih mirip asia daripada eropa (di mata gua). hehehe..

    ditunggu bagian kedua nya yuk.

    michaeljubel’s last blog post..Are you celebrating the day?

  3. Calvin Michel Sidjaja Says:

    berhubung gw rada cupu soal eropa (ngapalin wilayahnya aja udah gila), gw ga bisa ngasih komen apa2 deh, menarik artikelnya, ditunggu lanjutannya loh.

    Calvin Michel Sidjaja’s last blog post..Notebook Forsa, Notebook Murah Untuk Gaming

  4. BILLAH Says:

    interesting posting…keep it going

    BILLAH’s last blog post..Make Money With Bloggerwave

  5. yonna Says:

    sama deh ma yang diatas, gue tunggu lanjutannya aja, belum tau mau komentar apa :)

    oleh-oleh buat artikelnya Sherwin dulu :

    “Ujian terhadap keberanian datang ketika kita termasuk dalam kaum minoritas. Ujian terhadap tenggang rasa hadir ketika kita adalah mayoritas”

    -Ralph W.Sockman-

    yonnas last blog post..Personality Traits vs Personal Achievement

  6. sherwintobing Says:

    @aAng:
    Wah, saya sendiri kalau mau melihat masalah ini dari segi psikologi masih agak bingung mas aAng, mengingat saya sama sekali tidak punya dasar pengetahuan di bidang tersebut, cuma jelas ada pengaruhnya pasti. :D

    @jubel:
    Nasib Turki emang menyedihkan, ia ingin diakui sebagai Eropa padahal jelas identitasnya Asia. Banyak sekali gw rasa faktor yang menyebabkan Turki gak diterima di kalangan Eropa, mulai dari catatan hitam penjajahan Ottoman atas beberapa wilayah di Eropa, hingga kenyataan bahwa mayoritas dari mereka adalah Islam. Benar bahwa Turki adalah negara sekuler, namun fakta bahwa mayoritas penduduknya Islam tetap saja terasa mengganjal. Tidak usah jauh-jauh Turki, kita ambil contoh Yunani, sebuah negara yang mayoritasnya Orthodox, di Uni Eropa sendiri Yunani banyak menciptakan masalah sendiri. Masalah mengenai peradaban gw rasa.

    Didepak dari Eropa maksudnya, mereka kan sempat jadi penguasa di Eropa Tenggara, terus negara-negara di sana bangkit mengusir Turki dari Eropa dan mendirikan negara Eropa. Kalau lihat di atlas, wilayah Turki di Eropa hanya sebatas ujung tenggara semenanjung Balkan, sisanya sudah deket Timur Tengah.

    @Calvin:
    Terima kasih Calvin, mungkin sama halnya dengan saya yang agak buta ASEAN? :D

    @BILLAH:
    Terima kasih BILLAH.

    @yonna:
    Sip, nanti pasti dilanjutin, bagus juga kutipannya. :D

Leave a Reply

 

Close
E-mail It