House of Terror

Sebuah pembicaraan dengan teman saya, seorang mahasiswa Hongaria, membawa saya ke sebuah bangunan nomor 60 di jalan Andrassy. House of Terror namanya. Saat ia mengetahui saya belum pernah mengunjungi tempat itu, ia memperkuat niat saya untuk ke sana.

Jalan Andrassy sendiri merupakan jalan terindah di kota Budapest. Kedua sisinya ditanami pohon yang rindang yang membentuk barisan, dan di belakang pohon-pohon tersebut berdiri dengan megah apartemen mewah dan bangunan eksotis lainnya. Andrassy menghubungkan downtown Deak Ferenc Square dengan salah satu tempat favorit saya di Budapest, Heroes’ Square.

Sepintas, House of Terror ini terlihat sama seperti bangunan lainnya di jalan tersebut. Padahal, bangunan ini menyimpan berbagai cerita mengerikan dan menyedihkan tentang era Nazi dan komunis di Hongaria.

Partai Nazi Hongaria, Arrow Cross Party, yang berkuasa menjelang Perang Dunia 2 menjadikan tempat ini sebagai markasnya. Demikian juga halnya dengan polisi rahasia komunis Hongaria (KGB-nya Hongaria), AVH setelah Perang Dunia 2. Sayang, fungsinya bukan hanya sebagai markas, tetapi juga sebagai penjara dan tempat eksekusi lawan politiknya.Di bagian luar gedung, tepat di bawah jendela-jendela lantai satu, ditempel beberapa foto tokoh masyarakat yang dieksekusi di sana. Saya langsung menuju pintu masuk yang rupanya akan terbuka seara otomatis apabila kita memencet tombol merah di sebelahnya.

Masuk ke dalam, saya langsung disajikan video tangisan seorang pria di kuburan korban kekejaman rezim komunis, beberapa kalimat yang saya ingat:

Why, why they have to die?
People say one may forgive but can’t forget, but I can’t both.
They are just 12 or 14 years old, but they hanged them.

Saya langsung menunjukkan kartu pelajar saya dan membeli tiket masuk di counter. Harganya 750 Forint (37500 Rupiah) untuk pelajar, dan dua kali lipat untuk orang dewasa. Mereka memberikan saya brosur mengenai House of Terror dan peta penunjuk jalan. Mereka juga menyediakan pemandu berupa kaset audio dalam bahasa Inggris dan Jerman seharga 1300 Forint.

Ekshibisi dimulai dari lantai 3. Tangganya dihiasi patung-patung Joseph Stalin, Matyas Rakosi, Erno Gero, Janos Kadar yang ceritanya pernah saya publish di sini, dan lain-lain. Lantai tiga berisi berbagai seragam dan video pengambilalihan pemerintahan oleh partai Nazi Hongaria. Perlu diketahu bahwa kekalahan Hongaria di Perang Dunia 1 menyebabkan mereka harus kehilangan 2/3 wilayahnya ke Rumania, Slovakia, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Ukraina. Hitler menjanjikan Hongaria pengembalian wilayah tersebut, dan aliansi Jerman-Hongaria pun terbentuk menjelang Perang Dunia 2. Ada juga gambar penyiksaan Yahudi Hongaria, pameran seragam Nazi Hongaria , gambar dan video pendudukan Soviet di Hongaria, dan ruang interogasi partai komunis Hongaria. Setiap ruangan dilengkapi oleh brosur mengenai deskripsi lengkap kejadian dan data numeral.

Seperti halnya Hitler, partai Nazi Hongaria pun mengadopsi politik anti-semitism. Pembantaian kaum Yahudi Hongaria menjadi semakin menjadi-jadi di tahun 1944. Pendudukan Soviet menyebabkan ribuan simpatisan Nazi, antara lain, ditangkap, langsung dibunuh, diinterogasi, maupun dihukum kerja paksa. Mereka yang dihukum kerja paksa dikirim ke pertambangan di Soviet, hidup dengan 400 gram roti per hari dan suhu terekstrem yang mereka harus hadapi adalah -42 derajat.

Ekshibisi berlanjut ke lantai 2. Polisi rahasia Hongaria mengambil alih Jalan Andrassy nomor 60 dan menjadikannya markas. Partai komunis menjalankan program pembersihan negara dengan menendang etnis minoritas, seperti Slovakia menendang minoritas Hongaria di sana. Di lantai 2, ada ruangan yang dipenuhi kutipan propaganda Rakosi dan Kadar. Ada juga ruang kerja Gabor Peter, pemimpin AVH. Ada juga ruang arsip, di sana diputar video pengadilan Imre Nagy dan terdakwa lainnya yang terlibat dalam revolusi anti-komunis Hongaria 1956 yang ceritanya pernah saya muat di sini. Video pengadilannya benar-benar konyol, para terdakwa seakan sudah dipaksa untuk berkata “I plead guilty on counts of indictment”, semua horden tertutup, dan polisi bersenjata berkeliaran dalam ruangan. Walaupun begitu, Imre Nagy dan beberapa orang masih berani membantah hakim. Ada juga ruangan tempat foto-foto anggota partai komunis.

Gereja juga dikebiri habis-habisan oleh rezim komunis, pastor dan pendeta ditangkap dan atau dieksekusi. Gereja merupakan institusi tempat masyarakat yang tertindas rezim menyalurkan aspirasinya, dan dikhawatirkan dapat menjadi oposisi politik komunis dan mengancam supremasi partai tunggal komunis. Ada juga sebuah ruangan tempat disimpannya barang-barang peninggalan pastor dan pendeta yang ditangkap atau dibunuh, rosario, alkitab, kalung salib, pajangan salib, pajangan Yesus dan bunda Maria, jubah pastor, perangkat perjamuan kudus, dan lain-lain.

Setelah itu saya diarahkan ke sebuah lorong panjang yang sangat gelap dan masuk ke sebuah lift menuju basement. Saya sendiri di lift. Lift turun sangaaaattt perlahan dan di dalam lift diputar video testimonial eksekutor dan calon korban mengenai prosesi eksekusi hukuman mati. Suasana di basement lumayan mencekam, lorong-lorong sempit tempat ruang penjara. Ruang penjaranya sangat kecil dan ventilasi udara dan cahayanya sangat kecil. Bahkan ada ruang penjara yang hanya berukuran 0.5 x 0.5 meter. Ada juga beberapa ruang eksekusi hukuman gantung, lengkap dengan tiang gantungannya.

Ada juga ruang yang dipenuhi lilin-lilin tinggi yang didedikasikan bagi para korban. Foto dan biodata korban ditempel rapih memenuhi dinding. Terakhir, ada juga ruangan khusus untuk mengenang korban revolusi 1956.

Saya kembali ke lantai 1, tempat dijualnya souvenir, saya membeli sebuah gelas besi tiruan yang dulu dipakai para tawanan untuk minum.

Saya menghabiskan 2 jam lebih di tempat ini, begitu banyak yang bisa dilihat dan hanya sedikit ruangan yang bisa saya ceritakan di sini. Keterangan yang disajikan lewat brosur di tiap ruangan dan juga ditempel di dinding begitu lengkap. Puluhan video dan ribuan gambar mengenai berbagai event juga diputar dan dipajang di sana. Begitu lengkap. Sayang pengambilan gambar dengan kamera dan handy cam di dalam dilarang.

Lihat kembali gambar bintang dan arrow cross di antara tulisan terror di foto di atas yang menggambarkan kekejaman rezim Nazi Hongaria dan komunis. Ratusan ribu orang mati selama kekuasaan kedua rezim ini. Mengerikan. Saya sendiri sempat dipenuhi amarah saat berada di dalamnya.

Berikut saya kutip sebuah kalimat di House of Terror sebagai kesimpulan:

The building on Andrassy Boulevard 60 is itself the statue of terror, a monument to the victims. The terror’s former house demonstrates today that sacrifices brought in the name of freedom are never futile. From the fight against the two murderous regimes, the powers of freedom and independence have emerged victorious.

Berikut ini adalah tiga video dari Youtube tentang House of Terror agar anda memiliki bayangan yang lebih jelas:

- Salah satu video yang diputar di sana, menggambarkan mayat-mayat yang mati terbunuh dan bagaimana buldoser engan mudah menumpuknya (durasi: 48 detik)

- Video sangat bagus, menampilkan isi House of Terror (durasi: 9 menit 22 detik)

- Sebuah lagu yang dibawakan saat acara pembukaan House of Terror (lokasi: tepat di jalanan di samping House of Terror; durasi: 3 menit 11 detik)

Jelas sudah mengapa Viktor Orban, Perdana Menteri Hongaria saat itu, mengucapkan pidato pembukaan House of Terror dengan wajah yang hampir menangis.

Gambar adalah hasil potretan saya, anda tidak diperkenankan untuk mereuploadnya tanpa seizin saya.

Tags: , , , , , ,

This entry was posted on Wednesday, May 28th, 2008 at 9:55 pm and is filed under Catatan Pribadi, Hongaria, Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

10 Responses to “House of Terror”

  1. Alex Says:

    waww…….memukau sekali museum disana ya……lengkap, apik, hingga kita bisa mengenali kembali sejarah masa lalu.

    andai indonesia seperti itu, pasti tidak ada “pemalsuan sejarah” lagi…..

    gimana khabar sehat2 mas Yuki ?

    Alexs last blog post..SENANDUNG MUSAFIR (2)

  2. Alex Says:

    wah..bisa ditonton lagi….mantab

    Alexs last blog post..SENANDUNG MUSAFIR (2)

  3. Toni Says:

    Wow pengalaman berharga. Saya sulit tidur saat ke Tuol Sleng (S21) di Phnom Penh tempat rejim Pol Pot menyiksa lawan2 politiknya termasuk perempuan dan anak2.

    Tonis last blog post..Pejabat kita memang kurang waras

  4. 1 Tahun dan Selamat Tinggal Budapest Says:

    […] festival film Indonesia di Budapest, belajar masak, kartu ATM ditelan oleh mesin ATM sampai mengunjungi tempat-tempat menarik di sini. Bagi yang masih penasaran ada apa di Budapest/Hongaria, silahkan baca tulisan saya 1001 Hal yang […]

  5. sherwintobing Says:

    @Alex:
    Hai Alex, baik-baik saja di sini, gimana di tanah air? :D
    Benar Alex, museum percuma ada kalau cuma untuk memberitakan pembohongan, coba di browse artikel saya tentang kuil Yasukuni di Jepang. :D

    @Pak Toni:
    Wah, saya ingin sekali Pak ke Kamboja, pasti menarik. Tentunya ada perasaan marah dan sedih juga kan Pak. Walaupun saya bukan orang Hongaria, saya terbawa suasana juga di House of Terror ini. :sad:

  6. therry Says:

    Bused… gw bacanya aja udah serem apalagi liat clip youtube-nya :P

    Museum2 keq gini ada juga di Cambodia atau Vietnam kalao ngga salah, sampe2 gambar deformed babies segala dikasi unjuk sama tour guidenya :shock:
    therrys last blog post..Razor Sharp Wit? Moi?

  7. M Says:

    Hallo Sherwin,

    This summer i was there too, just after i made comment in ur previous post asking if u were still in Budapest.

    Gue masih ingat apa yang gue tulis di buku tamunya House of terror. I said that it was a great museum, not so friendly officers but totally breath taking cellar/ruang bawah tanah.
    but i also noted,
    “fascism had once killed so many Jews in Europe, now don’t let the guilty feeling of this past fascism let the Jew kill so many Moslem in Palestine”.

    I meant to criticize the European govt whom are not vocal enough to fight against the occupation of Israel in Palestine. Much of it, i and my European friends believe is because they still have much pressure from Israel on their past huge mistake during Hitler era. too bad.

  8. sherwintobing Says:

    @M:
    Well, hope this new PM of Israel could do better than her predecessor. :D

    Anyway, the museum was fascinating, wasn’t it? Did you get souvenir for yourself? I got imitation of glass used in House of Terror in that time with HOUSE OF TERROR printed. :D

  9. M Says:

    hehe..i’m a budget traveler. i dont really spend money on such souvenirs. i hardly stays at a decent hotel :lol:

    would be nice if u wana share urs with mine :mrgreen:

  10. sherwintobing Says:

    @M:
    When I traveled outside Hungary, I don’t even stay in hotel. :lol:

Leave a Reply

 

Close
E-mail It