Era Vladimir Putin Belum Berakhir
Sudah sejak lama saya mengagumi sosok Presiden Russia, Vladimir Putin. Semenjak mengambil kekuasaan dari Boris Yeltsin di tahun 2000, ia menjadi faktor utama dibalik bangkitnya kembali Russia. Terlepas dari gaya “kediktatoran”nya yang bahkan disebut-sebut melebihi Tsar Nicholas II ini, ia merupakan pemimpin pertama Russia yang mengundurkan diri sesuai konstitusi. Ya, artikel 81 pasal 3 konstitusi Russia melarang seseorang untuk memegang kekuasaan sebagai Presiden selama lebih dari dua masa jabatan.
Deputi Perdana Menteri sekaligus kepala perusahaan minyak raksasa Russia, Gazprom, Dmitry Medvedev telah dilantik sebagai penggantinya pada tanggal 7 Mei kemarin. Putinlah yang menganjurkan rakyat Russia untuk memilih muridnya ini pada pemilihan Presiden awal Maret 2008 lalu. Putin belum pergi, Medvedev langsung memberikan posisi Perdana Menteri Russia baginya.
Di sebuah siaran radio pada tahun 1939, Winston Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris, pernah berkata:
“I cannot forecast to you the action of Russia. It is a riddle, wrapped in a mystery, inside an enigma; but perhaps there is a key. That key is Russian national interest.”
I was surprised and happy to know that
I just finished reading Freakonomics, revised and expanded edition one. The subtitle says what it is all about, a rogue economist explores the hidden side of everything. Let me tell you something, the book has no single unifying theme, rather it looks like a compilation of Levitt’s (the author) observation of some “seems to be not so important” data which resulted in surprising, and absolutely, interesting discoveries.
Tahun-tahun kuliah saya di Jepang terlewati dengan begitu mudahnya, asrama saya di sana menyediakan makanan yang lumayan enak. Sobek kupon makan, bawa ke kantin, serahkan ke koki, tinggal ambil makanan. Kekhawatiran mulai muncul saat saya harus mengikuti program pertukaran pelajar selama 2 semester di Budapest, saya membayangkan tinggal sendiri dan harus menyiapkan makanan sendiri. Mengerikan.


